Istisqa
SELASA 14 Oktober 2014, ribuan warga Kalsel mengikuti Salat Istisqa yang diselenggarakan di halaman
Oleh: KH Husin Naparin
SELASA 14 Oktober 2014, ribuan warga Kalsel mengikuti Salat Istisqa yang diselenggarakan di halaman Masjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin bersama Gubernur Kalsel, H Rudi Ariffin, Kepala Kantor Wilayah Kemenag Kalsel, HM Tambrin, dan Ketua Umum MUI Kalsel, H Ahmad Makkie, beserta pejabat di daerah ini.
Sejak pagi, warga memenuhi halaman masjid terbesar di Kalsel tersebut sambil melantunkan kalimat istigfar membuat hati terasa miris, semua berharap kepada Allah SWT menurunkan karuniannya, berupa hujan untuk mengatasi kekeringan yang melanda daerah ini selama musim kemarau yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.
Menurut Gubernur Kalsel, Salat Istisqa yang dilaksanakan merupakan serangkaian usaha Pemprov Kalsel, selain meminta hujan buatan kepada pemerintah pusat. Dia juga meminta, agar muslimin di Kalsel selalu berdoa setiap usai salat lima waktu agar terhindar dari bencana yang mungkin terjadi. Tampaknya daerah-daerah lain di Indonesia, juga melakukan hal yang sama.
Istisqa artinya meminta hujan, dianjurkan ketika terjadi kemarau panjang dan kekeringan dilakukan beberapa cara, yaitu minimal melalui doa usai setiap salat fardhu atau melalui qunut nazilah; atau melalui doa dalam Khotbah Jumat oleh khatib yang diaminkan oleh jemaah salat; atau melalui Salat Istisqa (permohonan paling purna) dalam meminta hujan, yang dilaksanakan berjemaah; hukumnya sunnah mu’akkadah.
Tiga hari sebelum pelaksanaan, penguasa setempat (ulama, aparat pemerintah atau lainnya) memerintahkan umat agar berpuasa tiga hari, banyak bertobat, bersedekah dan perbuatan-perbuatan baik lainnya, serta menjauhkan diri dari kezaliman dan semua hal yang dapat mencegah terhalang turunnya rahmat Allah, termasuklah mengusahakan perdamaian bila terjadi adanya konflik.
Pada hari pelaksanaan, seluruh penduduk diperintahkan berkumpul di tanah lapang. Dianjurkan membawa hewan ternak peliharaan, orang-orang tua dan anak-anak, karena Rasulullah SAW bersabda, “Kalau bukanlah lantaran anak-anak, hewan-hewan ternak, orang-orang tua dan anak-anak susuan niscaya azab ditimpakan kepada kalian” (HR Baihaqi).
Di dalam hadis yang lain beliau bersabda, “Kalian diberi rezeki dan mendapat kemenangan lewat orang-orang lemah” (HR Bukhari). Penduduk sebaiknya memakai pakaian sederhana, tidak berhias dan tidak pula memakai wangi-wangian.
Salat Istisqa dilaksanakan dua rakaat berjemaah, seperti halnya Salat Id; disunatkan takbir ziyadah (tambahan) tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua. Pada rakaat pertama, imam membaca surah Qaaf atau Al ‘Alaa; dan pada rakaat kedua surah Al-Qamar atau Al-Ghasiyah.
Usai salat disunatkan khatib berkhobah dua kali, kendati khotbah boleh dilakukan sebelum salat. Pada khotbah pertama, khatib membaca istigfar sembilan kali dan pada khutbah kedua tujuh kali; berisikan anjuran agar banyak beristigfar dan merendahkan diri kepada Allah SWT.
Khatib disunatkan memakai selendang; pada rakaat kedua khatib berpaling ke arah kiblat seraya berdoa dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Pada waktu berpaling membelakangi makmum, khatib memutar selendangnya menjadikan ujung sebelah kanan menjadi sebelah kiri dan bagian atas menjadi bagian bawah, diikuti oleh makmum laki-laki, sebagai harapan (tafa’ul) akan berubahnya keadaan yang tidak baik menjadi baik.
Salat Istisqa dilaksanakan pada waktu pagi, seperti halnya waktu Salat Id, kendati bolehdi waktu malam dan waktu tahrim sekalipun, dilaksanakan semata-mata mencari rida Allah SWT.
Bila hujan belum turun, Salat Istisqa bisa diulang dua atau tiga kali, apabila hujan turun maka hendaklah melaksanakan sujud syukur. Bila salat dilaksanakan berulang-ulang, namun hujan belum diturunkan, kita hendaklah tetap bersabar dan berbaik sangka kepada Allah SWT; siapa tahu hal itu adalah ujian atau bisa jadi penghalang rahmat masih tebal menyeliputi kita, antara lain kemaksiatan dan kezaliman tak kasat mata; namun demikian kita telah mendapatkan nilai dzikrullah di sisi-Nya.
Dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman: ana ma’a abdi maa dzakarani wa taharrakat bi syafataahu. Artinya: Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku dan dua bibirnya bergerak menyebut nama-Ku (HR Bukhari). (*)