Melawan Diri Sendiri

Tujuh poin dari tiga laga putaran pertama babak delapan besar Liga Indonesia (LSI) 2014, bukan capaian

Editor: Dheny Irwan Saputra

Tujuh poin dari tiga laga putaran pertama babak delapan besar Liga Indonesia (LSI) 2014, bukan capaian mengecewakan bagi Persib Bandung. Apalagi dua di antara tiga laga tersebut berstatus away ke kandang Mitra Kukar dan Persebaya Surabaya.

Setelah mengalahkan Pelita Bandung Raya (PBR) dalam laga kandang dengan skor 1-0, Persib memang harus menjalani dua laga berat. Mitra Kukar dan Persebaya yang tergabung di Wilayah Timur di fase reguler harus dihadapi di kandang mereka. Belum pernah bertemu musim ini, Persib bisa mencuri skor 3-2 di Stadion Aji Imbut, Tenggarong, dan imbang 1-1 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Dengan tujuh poin di putaran pertama, langkah untuk melangkah ke semifinal semakin mudah. Apalagi tiga pertandingan akan berlangsung di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung. Setelah melawan Persebaya (22/10), Persib menjamu Mitra Kukar (26/10), dan menjadi tamu PBR pada 30 Oktober.

Menghadapi tiga laga di kandang, Persib harus bisa mengalahkan diri sendiri agar tak terpeleset. Pasalnya, secara logika, saat tandang saja bisa meraih poin, apalagi main di hadapan bobotoh. Tapi, kalimat klasik bahwa sepak bola bukan matematika dan bola adalah bulat bisa menjadi sandungan.

Tiga tim pesaing masih punya kans sama walau Mitra Kukar di posisi dua Grup L dengan poin empat, disusul Persebaya berpoin tiga dan PBR dengan satu poin. Jika ingin eksis sampai semifinal bahkan final, target tiga poin dalam setiap laga harus dicanangkan.

Jika merujuk pada hasil pertandingan, laga Persib yang patut disoroti adalah melawan Persebaya. Terlepas dari gol bunuh diri Supardi pada menit 76 yang membuyarkan kemenangan setelah Makan Konate membobol gawang Jendry Pitoi menit 12, permainan Persib memang tak konsisten.

Para pemain seolah menunggu waktu para penggawa Bajul Ijo membobol gawang I Made Wirawan, dan karena tak kunjung bisa maka Supardi yang melakukannya. Corak permainan ngotot di babak pertama tiba-tiba kendur dan seakan enggan menang.

Permainan seperti itu tak boleh ada lagi, siapa pun lawannya. Menang dan target juara terealisasi merupakan ending yang harus dicapai. Jika lolos dari babak delapan besar, hanya ada dua laga yang akan dilakoni Persib untuk menghentikan paceklik gelar: semifinal dan final.

Akan manjadi pencapaian besar seandainya Djadjang Nurdjaman mengantarkan Maung Bandung menjadi yang terbaik. Sebelum menangani Persib, meski pernah menjadi penggawa Persib dan timnas, nama Djadjang belumlah terdengar luas.

Dia juga menjadi kejutan saat dipercaya menangani tim sejak musim lalu. Selain hanya menjadi asisten Rahmad Darmawan di Pelita Jaya, Djadjang juga mengalahkan nama-nama tenar yang digadang-gadang akan membesut Persib kala itu.

Kini saatnya Djadjang membungkam suara-suara sinis yang selama ini hanya melihat sisi negatifnya. Caranya, Persib harus juara karena kemenangan demi kemenangan home ataupun away tak berarti apa-apa bagi bobotoh, yang hanya mengukur prestasi dari gelar. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved