Muhasabah
MASA beredar, zaman berputar; ada matahari terbit, ada matahari tenggelam; ada siang dan ada malam
Oleh : KH Husin Naparin Lc MA
MASA beredar, zaman berputar; ada matahari terbit, ada matahari tenggelam; ada siang dan ada malam. Demikianlah pergantian siang dan malam membuat roda kehidupan berputar dan terus berputar.
Watilkal ayyaamu nudaawiluha bainannaas... (artinya) : “Kami pergilirkan hari hari di antara manusia supaya mereka dapat mengambil pelajaran” (QS Ali Imran 140). Di antara hikmah pergantian siang dan malam adalah agar dapat diketahui bilangan tahun dan perhitungan umur manusia. Lita’lamuu ‘adadas siniina wal hisaab (QS Al Israa 12).
Kini kita berada di penghujung 1435 H (akhir Dzulhijjah), besok kita memasuki tahun baru 1436 H (1 Muharram). Selanjutnya kita menatap masa depan jarak dekat (besok), masa depan jarak menengah (sampai ajal berakhir), dan masa depan jarak jauh yaitu akhirat yang masih sangat misterius bagi kita.
Masa depan jarak dekat dan jarak menengah disebut “dunia”. Dan masa depan jarak jauh disebut “akhirat”. Banyak manusia, barangkali kita termasuk di dalamnya, hanya memikirkan dunia tetapi lupa akan hidup akhirat, bahkan ada manusia yang tidak percaya akan adanya akhirat.
Alquran mensinyalir: Ya’lamuuna zhahiran minal hayaatid dun ya, wahum ‘anil aakhirati (artinya) : “mereka hanya mengetahui lahiriyah kehidupan dunia, sedang mereka lalai terhadap kehidupan akhirat.” (QS Ar Ruum 7). Karena banyaknya manusia lupa akan akhirat, secara khusus Allah SWT mengingatkan di dalam surah Al Hasyr 18 :
“Hai orang orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Perintah menyiapkan diri untuk menghadapi akhirat dalam ayat ini, didahului dan ditutup dengan perintah bertakwa.
Kehidupan dunia adalah lahan untuk membuat bekal di akhirat, ad dun ya mazra’atul akhirah; karenanya masa pendek yang kita lalui di dunia hendaklah dimanfaatkan sebaik baiknya, bahkan Nabi SAW mengingatkan bahwa: "Apabila seseorang meninggal dunia putuslah amalnya, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya" (HR. Muslim dan Ashab As Sunan).
Bila demikian, seyogiyanya kita berpikir adakah aku bersedekah yang bisa dimanfaatkan oleh orang lain, adakah aku menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan adakah aku membentuk anak keturunanku menjadi manusia yang pandai berdoa.
Rasulullah SAW bersabda pula: "Di antara amalan dan kebaikan kebaikan yang akan menyusul seorang mukmin setelah ia meninggal dunia ialah ilmu yang diajarkan dan disebarkannya, anak saleh yang ditinggalkannya, mushaf Alquran yang diwariskannya, masjid yang didirikannya, rumah yang dibangunnya buat musafir, sungai yang digalinya, atau sadakah yang dikeluarkannya dari hartanya sewaktu sehat dan hidupnya, ganjaran semua itu akan terus menyusulnya setelah meninggalnya" (HR. Ibnu Majah) ; jika demikian, seyogiyanya kita introspeksi diri (muhasabah) adakah aku sudah melakukan sejumlah apa yang disebutkan oleh Rasulullah SAW ini.
Kita berharap, apabila sudah terkubur di bawah lipatan bumi, karya bakti berupa kebaikan bisa menyusul. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang mencontohkan suatu sunah yang baik dalam Islam, ia akan mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya sesudah itu tanpa dikurangi nilainya sedikitpun” jangan jangan sebaliknya, yang menyusul kepada kita adalah dosa dan kemaksiatan akibat olah kita di dunia mencontohkan suatu yang buruk bagi kemanusiaan bahkan menjadi backing kemaksiatan.
Rasulullah SAW mengingatkan lagi: “Barang siapa yang mencontohkan dalam Islam contoh yang jelek, ia akan menerima dosanya dan dosa orang yang mengerjakannya sesudahnya tanpa dikurangi dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim).
Selamat Tahun Baru Islam 1436 H (*)