Gusti Muhammad Hatta
Di akhir jabatannya, ia mendapat penghargaan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putera dari
Oleh: KH Husin Naparin
“Tiap masa ada orangnya dan tiap orang ada masanya,” demikian ucapan alm DR KH Idham Khalid. Gusti Muhammad Hatta pada masanya adalah orangnya, dan ia adalah orang pada masanya; betapa tidak, sosok pribadinya mewakili pulau besar Kalimantan duduk di Kabinet Indonesia Bersatu II yang dipimpin Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, semula sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup kemudian Menteri Negara Riset dan Teknologi.
Di akhir jabatannya, ia mendapat penghargaan Tanda Kehormatan Bintang Maha Putera dari Presiden SBY (Rabu, 13/08/2014) di Istana Negara, Jakarta. Tentang perhargaan ini, ia katakan, “saya tidak pernah memohon dan mengharapkannya, hanya saja apabila saya diberi tugas, saya kerjakan sepenuh hati.”
Suatu ketika, ia memaparkan Program Upaya Penanggulangan Gas rumah kaca di Indonesia, di situ hadir Presiden SBY yang tiba-tiba melakukan intrupsi, katanya “saya baru tahu bahwa yang menentukan persoalan lingkungan hidup di Indonesia ada dua, pertama Gusti Allah, dan kedua Gusti Muhammad Hatta.”
Selama menjabat sebagai Menteri Negara, dua buku ditulisnya, yaitu: Dari Sungai Baru Menuju Cikeas, dan buku kedua Membumikan Iptek Mendirikan Bangsa. Lewat buku pertamanya kita tahu betapa ia di waktu kecil, tumbuh dan berkembang di kalangan keluarga dan masyarakat yang agamis, yaitu Kampung Ketupat Kelurahan Sungai Baru, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, anak kedua dari tujuh bersaudara.
“Hidup saya”, katanya, “seperti air mengalir tanpa henti. Apapun yang menjadi hambatan pada akhirnya selalu bisa dilalui.” Pendidikannya sejak SR, sekolah menengah sampai perguruan tinggi dilalui penuh tantangan. Ekonomi keluarga yang pas-pasan menyebabkan ia harus berjuang membantu orangtua bekerja, berjualan kecil-kecilan.
Ia pernah menjadi tukang parkir hingga buruh pabrik. Pendidikan tingginya, dilanjutkan di Fakultas Kehutanan Unlam Banjarmasin, dan terakhir mendapat kesempatan belajar S3 di Belanda jurusan Silvikultur Kehutanan, lulus 1999 predikat cumlaude, Universitas Wageningen Belanda. Lengkapnya nama beliau Prof. DR. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta, Ms.
Buku Dari Sungai Baru Menuju Cikeas, yang bercerita tentang kehidupan masa kecil, remaja, dewasa sampai ia menjadi orang; sangat besar manfaatnya bagi generasi muda kita yang mau menjadikannya sebagai cermin kehidupan.
Mengapa, jika anda seorang anak miskin bersabarlah dan terus berjuang, bayangkan beliau yang hidup dalam kancah serba kurang, kok bisa jadi menteri. Anak-anak orang kaya, kiranya juga mengambil iktibar agar hidup tidak berleha-leha dan main-main, kiranya dapat menggunakan kelebihan yang dimiliki untuk mencapai nilai dan prestasi lebih dalam kehidupan.
Kita kagum akan prinsip-prinsip kehidupan keluarga beliau. Ayah beliau antara lain mengajarkan kemandirian, ibu beliau menanamkan kejujuran, tolong-menolong, keramahan dan akhlak mulia, dan kakak beliau Gusti Mahfudz yang mewarnai kehidupannya.
Kita turut bersyukur, selamat pulang kampung Bapak Gusti Muhammad Hatta. (*)