Syukur
Ternyata hanya sedikit manusia yang pandai bersyukur, kendati mereka mempunyai banyak permohonan kepada Allah SWT.
Oleh: KH Husin Naparin
SYUKUR adalah terima kasih kepada Allah; bersyukur adalah berterima kasih. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, hal 878). Allah SWT telah memberikan segala macam nikmat kepada manusia agar mereka pandai bersyukur. “…dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl 78).
Ternyata hanya sedikit manusia yang pandai bersyukur, kendati mereka mempunyai banyak permohonan kepada Allah SWT.
Gusti Hatta (Menteri KLH kemudian Menteri Kemristek pada pemerintahan SBY) dalam bukunya Dari Sungai Baru Menuju Cikeas bercerita, ada seorang pekerja, pada jam istirahat, tertidur pulas di bawah pohon rindang. Ia bermimpi dibawa malaikat ke tiga lokasi yang tidak diketahuinya, di mana.
Di lokasi pertama, ada sebuah ruangan dipenuh kesibukan orang-orang bekerja. Ia bertanya kepada malaikat, “Ini tempat apa, semua orang sangat sibuk bekerja?” Malaikat menjawab, “ini tempat malaikat yang bertugas mencatat semua keinginan manusia.” Ia pun manggut-manggut, mengerti.
Kemudian ia dibawa ke ruangan sebelahnya, yang juga dipenuhi kesibukan pekerja. Ia pun bertanya lagi, “Ini ruang apa? semua orang di sini juga sibuk.” Malaikat menjawab, “Ini ruangan para malaikat yang bertugas memenuhi semua permintaan manusia yang telah dicatat dan diurutkan berdasarkan prioritas tertentu pada ruang pertama.” Ia kembali manggut-manggut memahaminya.
Terakhir ia dibawa ke ruangan lain, yang sama besarnya dengan ruang pertama dan kedua, tapi kelihatan sepi. Para pekerja yang juga banyak itu terlihat santai. Ia heran dan bertanya, “Ini ruangan apa, kok sepi dan pekerjanya santai?” Malaikat menjawab, “Ini ruangan para malaikat yang bertugas menunggu dan mencatat terima kasih manusia setelah semua permintaan mereka dikabulkan Allah SWT.” Kali ini ia tidak lagi manggut-manggut, tetapi hanya melongo.
Umar bin Khattab pernah mendengar seseorang berdoa, Allahummaj-‘alnii minal-‘aqalliin. Artinya,“Ya Allah, jadikanlah aku orang-orang yang sedikit.” Umar pun bertanya, “Doa apa itu?” Orang itu menjawab, “Aku mendengar Allah SWT berfirman, Wa qaliilun min ‘ibaadiyasy-syakuur. Artinya, “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Firman-Nya lagi, Waqaliilun-maa hum illalladziina aamanuu wa ‘amilush-shaalihaat Artinya, “…Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini….” Maka aku pun berdoa semoga aku termasuk orang-orang yang sedikit, (yaitu menjadi orang yang bersyukur, beriman dan beramal saleh).” Umar pun berkata: “Kalau begitu, berdoalah kamu dengan apa yang kau ketahui.” (ad-Do’a fi al-Qur’an).
Apa itu syukur yang sebenarnya? Syekh Afif Abdul Fattah Thobbarah, Assyukru huwa dzuhuuru atsari ni’matillaahi ‘ala lisani ‘abdihi tsana’an wa’atiraafan, wa ‘ala qalbihi syuhuudan wamahabbatan, wa’ala jawarihihi inqiyaadan watha’atan. Artinya, “Syukur itu adalah nampaknya bekas bekas nikmat Allah di lidah seseorang sehingga timbul puji-pujian; dan di hatinya muncul pengakuan dan rasa cinta, serta di anggotanya nampak ketundukan dan ketaatan.”.
Menurut beliau, bersyukur direalisasikan lewat lidah dengan memuji Allah, lewat hati dengan mengakui akan kebesaran dan nikmat Allah, dan di anggota lewat dengan ibadah menaati perintah-Nya. (Ruh ad-Din Al-Islaami, hal 193)
Mengacu pendapat beliau ini, betul sekali, hanya sedikit manusia yang pandai bersyukur, kendati lidahnya memuji Allah, namun hatinya masih menggerutu dan anggotanya tidak menggunakan nikmat untuk ibadah kepada-Nya. Aku dan Anda barangkali termasuk di dalamnya! (*)