Ghala

AKHIR kalam harga BBM naik. Protes dan demo di mana-mana sebelumnya hanyalah angin lalu,

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

AKHIR kalam harga BBM naik. Protes dan demo di mana-mana sebelumnya hanyalah angin lalu, tetapi kehendak penguasa juga yang berlaku, alasan ini dan itu. Harga barang-barang jelas akan  merangkak naik; entahlah, apakah nasi kuning masih bisa bertahan enam ribu, ataukah juga akan naik dua ribu seperti naiknya BBM.

Kemahalan harga adalah masalah hidup yang sangat ditakuti masyarakat umum, karena mereka merasakan dampak langsung akibatnya; mereka harus cemberut bahkan ada yang harus berurai air mata. Para pejabat dan orang-orang kaya tidak merasakan dampak apa-apa; mereka masih bisa tersenyum dan tertawa.

Kemahalan harga dalam bahasa Arab, biasa disebut ghala’. Kita disuruh memohon perlindungan kepada Allah swt dari ghala’:  allahumma inni a’udzubika minal-bala’, wal-waba’, wal-ghala’, wal-fahsya’, wal-munkar, wasy-syada’idi, wal-mihan … artinya: “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau daripada cobaan, penyakit wabah, kemahalan, kekejian, kemunkaran, bencana dan kesusahan …”

Mengapa terjadi kemahalan harga?

Rasulullah pernah bersabda: Ya’tii zamanun ‘ala ummati, yuhibbunal-khamsa wa yansaunal-khamsa; yuhibbunad-dunya wayansaunal-akhirah, yuhibbunal-mala wayansaunal-hisab, yuhibbunal-makhluq wa yansaunal-khaliq, yuhibbunal qushur wayansaunal-qubur, yuhibbunal-ma’shiyyah wayansaunat-taubah, fa inkanal-amru kadzalik ibtalahumullahu bil-ghala’, wal-waba’, wamautil-faj’ati, wajuril-hukkam.

Artinya: “Akan datang suatu masa terhadap umatku, mereka mencintai lima perkara dan lupa kepada lima perkara, cinta dunia lupa akhirat, cinta harta lupa hisab, cinta makhluk lupa Khaliq, cinta rumah lupa kubur, dan cinta maksiat lupa taubat; bila hal ini terjadi maka Allah timpakan kepada mereka kemahalan, penyakit wabah, mati mendadak dan kezhaliman penguasa.”

Jika demikian, tidak heran ghala’ yang kita takuti bisa jadi akibat perbuatan bangsa kita sendiri; kemaksiatan. Banyaknya problema hidup yang harus kita hadapi; tak lepas dari masalah kemaksiatan yang dilakukan oleh penghuni bumi. Rasulullah saw. bersabda yang artinya:

“Wahai kaum Muhajirin, ada lima macam bencana ditimpakan kepada kalian;

Pertama, bila muncul perzinahan di satu kaum hingga mereka berani melakukan terang-terangan, akan tersebar penyakit yang tidak pernah diderita oleh nenek moyang mereka sebelumnya.

Kedua, bila mereka mengurangi takaran dan timbangan, niscaya akan ditimpakan kemarau panjang, paceklik hebat, dan kezhaliman.

Ketiga, bila mereka enggan membayar zakat, niscaya mereka tercegah dari hujan yang turun dari langit, sungguh kalau bukan lantaran hewan-hewan niscaya hujan tidak akan turun sama sekali.

Keempat, bila mereka merusak janji dengan Allah dan rasul-Nya (mentaati Allah dan rasul-Nya), niscaya didaulatkan kepada mereka musuh dari luar yang merenggut sebagian apa yang ada di tangan mereka.

Kelima, bila pemimpin-pemimpin mereka tidak memutuskan perkara berdasarkan kitabullah, niscaya Allah jadikan perseteruan antar mereka.” (HR Baihaqi)

Mari kita renung bersama, petaka yang telah terjadi di pundak kita seperti HIV/AIDS, paceklik ekonomi, kezhaliman penguasa, kemarau, dominasi asing terhadap negeri dan negara, perpecahan antarsesama.

Adakah jalan keluar?

Wa man yattaqillaaha yaj’allahuu makharajaa wa yarzuqhu min haitsu la yahtasib; barang siapa yang bertakwa kepada Allah SWT niscaya Allah mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. (QS At-Thalaq 2-3). (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved