Sibuk

SIBUK menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya banyak yang dikerjakan; bisa juga berarti giat dan rajin

Editor: BPost Online

Oleh: KH Husin Naparin

SIBUK menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya banyak yang dikerjakan; bisa juga berarti giat dan rajin (mengerjakan sesuatu), atau penuh kegiatan.

Dalam hidup dan kehidupan, manusia selalu dikejar kesibukan; bahkan seseorang  menjadi “super sibuk,” akibat ambisi pribadi yang tak terkendali, pada gilirannya membuatnya lupa kepada Allah, lalai bersyukur akan nikmat-Nya, dan beribadah kepada-Nya hanya sejadinya. Inilah tiga penyakit manusia modern.

Fakta dan data berbicara, manusia mengenal Tuhan, malah hal itu merupakan fitrah bagi mereka; tetapi mereka lupa berdzikir mengingat-Nya. Manusia menikmati nikmat yang tak terhitung banyaknya, tetapi mereka lupa bersyukur kepada-Nya.

Manusia nyaris tak sempat beribadah kepada Allah karena sibuk mencari, mengurus dan memperebutkan nikmat Allah; kalaupun beribadah hanya dilakukan sejadinya.

Sebenarnya ketiga penyakit ini ada disepanjang kehidupan manusia.

Adalah seorang sahabat bernama Mu’az bin Jabal yang ditunjuk Rasulullah SAW menjadi gubernur di negeri Yaman. Barangkali beliau menyadari kesibukan yang akan dihadapi oleh Mu’az sebagai pemimpin umat. Rasulullah SAW menjabat tangan Mu’az seraya berkata :

Ya Mu’az, wallaahi innii la’uhibbuka, uushiika yaa Mu’az laa tadda’ anna fii duburi kulli shalaatin an-taquula allahumma a’innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika.

Artinya : “Wahai Mu’az, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu’az, sekali-kali jangan kau tinggalkan setiap usai salat untuk berdoa, Ya Allah tolonglah aku untuk dapat berdzikir mengingat Engkau, pandai bersyukur akan nikmat-Mu, dan beribadah yang baik kepada-Mu”  (HR. Abu Daud, Nasa’i, Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban.)

Lewat hadits ini dapat kita pahami, bahwa tiga macam penyakit tersebut diharapkan teratasi dengan pertolongan Allah melalui doa.

Hidup dan kehidupan memerlukan dzikrullah. Tanpa dzikrullah hidup tidak akan tenteram. Tanpa dzikrullah muncul berbagai macam penyakit hati, antara lain akuisme, ingkar (tidak menghargai kebaikan orang lain), dengki dan serakah.Tanpa dzikrullah, jiwa/hati tidak akan mampu berhadapan dengan pertarungan perebutan rezeki sebagai sumber hidup dan kehidupan; pada gilirannya menjadi beban dan tekanan jiwa yang disebut “stress,” akhirnya menjadi sakit, sakit jiwa.

Dunia sekarang sudah dipenuhi oleh manusia-manusia yang sakit jiwa; buktinya perlu dicanangkan adanya suatu hari yang disebut “hari kesehatan jiwa sedunia.”

Hidup memang bermain dengan hati, hati-hatilah dengan hati; jangan sampai makan hati. Bila hati makan hati anda akan “sakit hati.” Hati-hati menjatuhkan hati, kalau hati jatuh hati anda bisa-bisa “patah hati.” Alangkah berbahayanya hidup dan kehidupan bila hanya diisi orang yang sakit hati dan orang-orang yang patah hati.

Nikmat yang paling besar adalah dzikrullah dan bencana yang paling hebat adalah lupa kepada Allah. Jika seseorang memiliki kekayaan melimpah ruah, tetapi kekayaan itu yang menyebabkannya lupa kepada Allah, maka ia hidup dalam bencana, bisa dikatakan “nikmat membawa sengsara.”

Jika demikian, lebih baik hidup dalam kemiskinan, asalkan kemiskinan itu membawanya kearah ingat kepada Allah SWT. Orang seperti ini hidup dalam bahagia, dapat dikatakan “sengsara membawa nikmat.” Tetapi hal ini bukanlah falsafah hidup seorang muslim.

Falsafah hidup seorang muslim adalah “nikmat membawa nikmat,” yaitu hidup dalam limpahan kekayaan dan dalam dzikrullah. Na’udzu billah, jangan bergelimang dalam kemiskinan, lupa pula kepada Allah; ini namanya “sengsara membawa sengsara.”

Lupa kepada Allah menyeret manusia kepada penyakit yang kedua, yaitu lalai bersyukur kepada-Nya. (*)

Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved