Terima Kasih

Tiba-tiba sebuah kendaraan pribadi berhenti menawarkan jasa, yang bersedia mengantarkan ke alamat dimaksud.

Editor: BPost Online

ADALAH  fitrah (tabiat) manusia ingin menyampaikan terima kasih kepada orang yang pernah berbuat baik kepadanya, apalagi jika perbuatan baik itu kita diperlukan datang sendirinya tanpa diminta. Pucuk dicinta ulam tiba, kata pepatah.

Satu contoh, seseorang berjalan di jalan raya  bersimbah peluh karena panas terik membara. Ia mondar-mandir kesasar mencari satu alamat. Tak ada transportasi.

Tiba-tiba sebuah kendaraan pribadi berhenti menawarkan jasa, yang bersedia mengantarkan ke alamat dimaksud. Ia pun diantar ke tempat tujuan dengan selamat.

Muncullah keinginannya untuk membalas budi baik orang yang menolongnya itu, tetapi dengan apa? Si pemilik mobil itu orang kaya, tak perlu diberi uang. Ia mempunyai banyak karyawan dan pembantu, tak perlu dibantu tenaga. Maka keluarlah kata “terima kasih” dari mulutnya sepenuh hati.

Seandainya kata “terima kasih” tidak diucapkannya, bahkan ia keluar mobil tanpa menoleh, maka pantas sekali ia dianggap seorang yang tidak tahu membalas jasa, tidak pandai berterima kasih.

Ada sang Pemberi yang pemberian-Nya tak terhitung banyaknya kepada kita. Dia berikan sejumlah petunjuk hidup, itulah dia “hidayah.” Ada empat atau lima hidayah yang dia berikan, yaitu, petama: hidayah naluri (instink); pada masa bayi kita bisa menangis ketika lapar dan kita bisa mengisap susu ibu tanpa belajar.

Kedua: hidayah indera, yaitu mata dengan penglihatannya kita bisa membedakan antara yang indah dan yang jelek; telinga dengan pendengarannya kita bisa memilah bunyi yang merdu dan yang sumbang; hidung dan penciumannya kita dapat mengetahui bau harum dan bau busuk; lidah dengan rasanya kita dapat menikmati sesuatu yang manis, sedap, pahit, kecut, asin dan masam; kulit dan indera raba, dengannya kita dapat memilih yang halus dan yang kasar.

Ketiga: hidayah akal, dengannya kita dapat membedakan mana yang buruk dan mana yang bermanfaat; ditambah lagi dengan kelengkapan organ tubuh berupa jantung, ginjal, paru-paru, pencernaan makanan, peredaran darah, sendi-sendi tulang dan lain-lain. Tersedia pula fasilitas hidup berupa air dan oksigen, tumbuh-tumbuhan dan hewan sebagai bahan makanan.

Keempat hidayah agama, dengannya kita mengetahui tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan, agar selamat dunia akhirat.

Kelima: hidayah taufiq yaitu kemampuan yang Dia berikan kepada kita untuk melaksanakan hidayah agama.

Siapakah pemberi semua itu ?

Itulah Allah SWT yang bersifat Al-Wahhab (Maha Pemberi), Dia berfirman yang artinya: “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS  Ibrahim: 34)

Di dalam ayat ini ada kata maa, kata ini bisa berarti dua makna:

Pertama, maa sebagai maushul (kata penghubung), maka ayat ini berarti : “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya.”

Kedua, maa sebagai nafi’ah (menidakkan), maka ayat ini berarti: “dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) tanpa kamu mohon kepada-Nya.”    

Halaman 1/2
Tags
Fikrah
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved