Maulid
Menurut Imam As-Suyuti dalam buku Husnu al-maqasid fi amal al-maulid diadakan kali pertama kali
Oleh: KH Husin Naparin
MAULID (bahasa Arab) berasal dari kata walada-yalidu, artinya melahirkan. Dari kata ini muncul kata lain: wiladatan dan maulid, artinya kelahiran (Kamus Al Munawir hal. 1688). Setiap bulan Rabiul Awal, umat Islam memperingati maulid Nabi Muhammad SAW. Diadakan di mana-mana, desa dan kota, masjid dan musala, kantor, gubuk tua bahkan di Istana Negara.
Menurut Imam As-Suyuti dalam buku Husnu al-maqasid fi amal al-maulid diadakan kali pertama kali oleh Raja Irbil di Irak, Muzaffar, (439-630 H/1154-1232 M). Pada masa itu umat Islam telah jauh dari ajaran agama. Banyak di antara mereka yang tidak tahu panutannya.
Raja ini mengundang ulama dan masyarakat untuk memperingati maulid sebagai sarana untuk memaparkan shirah (sejarah) perjuangan Nabi SAW. Acara itu menelan dana 300 ribu dinar (1 dinar = 4,25 gram emas), menyembelih 500 kambing, 10 ribu ayam, dan menyediakan 30 ribu porsi kue tar (halawah) serta 10 ribu potong keju untuk suguhan.
Penulis pernah membaca artikel di koran, penulisnya mempertanyakan, “Saat ini kita merayakan maulid Nabi Muhammad SAW.Tetapi, sampai sejauh ini rasanya kok tidak ada manfaat yang kita rasakan, seolah-olah kita telah melakukan hal yang sia-sia.Rasullah bersabda, min husni islamil-mar’i tarkuhu ma la ya’nihi, artinya termasuk kualitas ke Islaman seseorang meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Kalau peringatan maulid nabi ternyata tidak membawa perubahan dan perkembangan apa-apa bagi kita, buat apa kita melakukan itu, buang-buang waktu saja. Kasarnya, kita memang lebih suka melakukan hal yang sia-sia.”
Betul juga, jika memang tidak ada manfaatnya buat apa dilaksanakan. Tetapi, benarkah peringatan maulid yang selama ini diadakan benar-benar tidak bermanfaat? Nanti dulu.
Apa itu peringatan? Peringatan adalah untuk memberi ingat. Nah, peringatan maulid dimaksudkan untuk menyadarkan umat bahwa mereka punya nabi dan rasul yang bernama Muhammad. Dewasa ini banyak umat yang jauh dari ajaran agama (Islam) bahkan semangat menumbuhkan sunah rasul terasa pudar.
Karena itu, peringatan maulid adalah sebagai sarana mengingatkan bukan tujuan. Allah SWT berfirman: fadzakkir fainna-dzdzikra tanfa’ul-mu’minin, artinya, “dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzariyat 55).
Apakah peringatan maulid tidak boleh dilaksanakan karena tidak pernah dilaksanakan oleh Nabi SAW sendiri pada masanya? Suatu ketika Nabi SAW ditanya mengapa beliau berpuasa sunah di hari Senin? Beliau menjawab, Dzaka yaumun wulidtu fihi… artinya: “ itu hari aku dilahirkan…” (HR. Muslim).
Di dalam Alquran terdapat ayat mengingat para nabi, contohnya, wadzkur fil-kitabi ibrahima, innahu kana syiddiqan-nabiyyan, artinya: Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al-Kitab (Alquran) ini, sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi (QS Maryam 41).
Peringatan maulid tidak masalah dilaksanakan, namun perlu dijauhkan dari hal-hal yang bertentangan dengan agama, seperti boros dan mubazir, hura-hura, melalaikan salat fardhu dan lain-lain akibat peringatan maulid. Dalam peringatan diisi hal-hal positif seperti silaturahmi, syiar Islam, dakwah islamiyah, salawat, dan studi ilmiah tentang Islam umpamanya.
Dalam peringatan maulid, sebenarnya kita tidak merayakan hari lahir beliau, yang kita sambut dan kita syukuri adalah ‘kelahirannya,’ inilah istilah maulid. Jika memperingati hari lahir, istilahnya bukan maulid, tetapi milad.
Ada juga orang menyebutnya Rabi’ul Awal adalah bulan maulud. Maulud artinya yang dilahirkan. Hal ini bisa dibenarkan, karena yang kita sambut dan kita elu-elukkan adalah seorang yang dilahirkan pada bulan itu, bernama Muhammad.
Siapakah dia? Beliau adalah rasul Allah. ‘Kerasulannya’ inilah yang harus kita hidupkan. Ada apa gerangan ‘rasul.’ Allah SWT berfirman: Sesungguhnya telah ada pada (diri)Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS. Al-Ahzab 21).
Sudahkah kita menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan? Inilah yang hendak ditanamkan ke dalam jiwa umat beriman dalam peringatan maulid. (*)