Serbacepat Bukan untuk Melanggar Aturan

Setelah beberapa waktu lalu Indonesia dihebohkan oleh pernikahan ‘resmi’ via online, kini beredar informasi telah ada ‘penghulu’

Tayang:
Editor: BPost Online

JARINGAN internet harus diakui sudah membuat dunia makin sempit. Semua informasi yang saat ini ada di Banjarmasin, detik ini juga bisa diketahui oleh orang lain di belahan lain bumi ini.

Hal ini pula yang telah disadari para pelaku dunia nyata. Segala urusan di dunia nyata, saat ini sudah bisa dilakukan via online. Tak terkecuali soal urusan pernikahan.

Setelah beberapa waktu lalu Indonesia dihebohkan oleh pernikahan ‘resmi’ via online, kini beredar informasi telah ada ‘penghulu’ yang bersedia menikahkan siri pasangan secara online.

Pengguna hanya perlu menghubungi pengelola situs nikah online, selanjutnya urusan ijab kabul dan lainnya akan dilaksanakan oleh si ‘penghulu’. Soal sah atau tidaknya pernikahan siri tersebut, belum bisa dipastikan.

Melihat ilustrasi tersebut, dapat dilihat apa pun bisa dilakukan di dunia maya. Berbagai kemudahan ini, menggambarkan bagaimana semua bisa dilakukan secara instan.

Itu juga yang dilakukan para pelaku usaha dan instansi pemerintahan untuk tetap eksis di dunia nyata dan maya. Mereka berlomba-lomba membangun situs internet untuk mengenalkan dan mempromosikan diri mereka di dunia nyata. Meski sebagian besar masih tidak efektif.

Padahal potensi dunia maya masih sangat besar menjadi pangsa pasar segala produk. Dan semua informasi bisa langsung ke tujuan, asal perusahaan atau instansi pemerintah itu tahu bagaimana cara mempromosikannya.

Tapi ada hal yang dilupakan oleh pemilik situs internet saat mereka memulai berkiprah di dunia maya. Mereka hanya menawarkan apa yang mereka mau, tanpa mau peduli mengenai apa yang dunia maya inginkan. Akibatnya, perusahaan maupun instansi pemerintah tak bisa ikut ngetop di dunia maya, karena apa yang ditawarkan bukan barang yang dicari para pengguna intenet.

Setiap hari berbagai ‘keperluan’ dicari pengguna internet di dunia maya, mulai berita tentang perkembangan politik dunia, ekonomi, hingga konflik yang saat ini sedang terjadi. Juga tips yang diperlukan untuk satu keperluan.

Hal itu juga yang mungkin dilihat para ‘penghulu’ online tersebut. Pasangan yang kebelet nikah tanpa surat menjadi target mereka. Peluang tersebut mereka manfaatkan untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Perilaku para ‘penghulu’ online ini jelas menyalahi aturan di negeri kita. Namun, bagaimana cara mereka membaca peluang di dunia maya bisa menjadi pelajaran bagi kita.

Dunia maya adalah wilayah tanpa batas, bisa diakses kapan pun dan di mana pun. Apa pun bisa dilakukan dan dijual. Tapi, akses serbainstan jangan menjadi alasan untuk menghalalkan segala cara.

Meski dunia maya tak memiliki aturan jelas, bukan berarti semuanya bisa dilakukan sekehendak hati. Sudah beberapa kali para pengguna dunia maya harus berhadapan dengan hukum di Indonesia akibat dianggap tidak menghormati privasi orang lain.

Kebebasan berpendapat merupakan hak tiap orang, tapi tetap saja dunia maya yang serbainstan memiliki aturan yang dipegang masing-masing penggunanya. Termasuk para pengguna dunia maya di Nusantara.

Dunia maya memang serbainstan. Orang cukup berada di satu tempat untuk bisa ada di tempat lain. Namun bukan berarti hal itu bisa membuat kita berbuat seenaknya, karena orang lain juga memiliki hak dan kewajiban serupa seperti kita.

Kini, saat kita masih berkutat dengan dunia nyata, mungkin secara tidak sadar kita sudah tertinggal di dunia maya. Pesatnya perkembangan di dunia maya bisa dinyatakan dalam hitungan detik.

Apalagi berdasar data, 72 juta dari 251 juta warga Indonesia telah aktif di dunia maya saat ini. Kalau tidak ikut terlibat, tentu tak bisa disalahkan kalau kita disebut orang-orang kolot atau gagap teknologi. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved