Tajuk
Reshuffle Kabinet Prorakyat
Presiden Prabowo Subianto untuk kelima kalinya melakukan reshuffle atau kocok ulang kabinet selama 1,5 tahun usia pemerintahan sejak 20 Oktober 2024.
BANJARMASINPOST.CO.ID- PRESIDEN Prabowo Subianto untuk kelima kalinya melakukan reshuffle atau kocok ulang kabinet selama 1,5 tahun usia pemerintahan sejak 20 Oktober 2024. Dalam reshuffle terakhir, Senin (27/4), Prabowo melantik enam pejabat baru di lingkungan kementerian dan lembaga. Sebagian merupakan orang lama yang mendapat tugas baru, atau balik ke kabinet dan satu orang yang baru ditunjuk Presiden.
Sebut saja Hasan Nasbi yang ‘come back’ ke kabinet menjadi Penasihat Khusus Presiden bidang Komunikasi. Sebelumnya, Hasan Nasbi pernah menjabat sebagai Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan atau Presidential Communication Office (PCO).
Ada pula Abdul Kadir Karding yang juga balik ke kabinet usai ditunjuk menjadi Kepala Badan Karantina Indonesia. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Menteri P2MI kemudian digantikan Mukhtarudin pada September 2025.
Termasuk juga ada wajah lama posisi baru, yaitu Hanif Faisol, ‘Urang Banjar’ yang dilantik menjadi Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan di Istana Negara. Hanif sebelumnya menjabat Menteri Lingkungan Hidup.
Di luar konteks Hanif yang berganti posisi, dan penunjukan menteri sebagai hak prerogatif presiden, sedikit menganalisis bahwa ini bukan merupakan reshuffle terakhir. Ke depan Prabowo masih akan mengutak-atik pembantu-pembantunya di kabinet Merah Putih.
Masalahnya kemudian adalah, reshuffle lebih merupakan perputaran dari orang-orang di lingkaran kekuasaan. Pergantian belum sepenuhnya terkait kinerja, ataupun merespons kritik publik.
Lihat saja sejumlah nama yang banyak mendapat kritik ataupun kinerjanya di Kementerian/lembaga masih carut marut, ternyata tetap aman-aman saja.
Publik tentu juga ingat, bagaimana Prabowo juga pernah berjanji akan menyusun Zaken Kabinet di masa pemerintahannya. Zaken kabinet adalah jajaran kabinet pemerintahan yang diisi oleh kalangan profesional, ahli, atau teknokrat di bidangnya, bukan berdasarkan representasi partai politik tertentu. Tapi, realitanya tidak seperti yang diharapkan.
Hingga kini kabinet masih terkesan tambal sulam dan lebih pada upaya menjaga soliditas di bawah tongkat komando Prabowo. Sebagian besar anggota kabinet juga tak lepas dari representasi partai, ataupun orang-orang yang selama belasan tahun setia mendapingi Prabowo.
Jumlah profesional ataupun teknokrat masih bisa dihitung dengan jari. Itupun kinerjanya ternyata belum sesuai dengan yang diharapkan.
Kalaupun kedepan masih ada reshuffle lanjutan, entah sampai jilid keberapa, semoga presiden bisa lebih mendengar suara masyarakat dan benar-benar memilih pejabat yang profesional dan kompeten dalam bidangnya.
Siapapun menterinya, yang terpenting bagaimana kabinet benar-benar bisa bekerja dengan kebijakan yang berdampak langsung ke rakyat.
Rakyat tak mencari menteri yang sering tampil di sosmed atau rajin memuji Prabowo, tapi mencari menteri yang berpihak pada kesejahteraan ekonomi, mengurangi seremonial, dan langsung turun tangan menyelesaikan masalah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Presiden-RI-Prabowo-Subianto-saat-memimpin-Sidang-Kabinet-Paripurna.jpg)