Tajuk
Haji di Ujung Antrean
Saat ini kloter pertama jemaah calon haji 2026 asal Kalsel telah diberangkatkan ke Arab Saudi. Satu diantara calon jemaah haji itu menunggu 14 tahun
BANJARMASINPOST.CO.ID- EMPAT belas tahun bukan waktu sebentar. Namun, menunggu selama itu untuk bisa berangkat menunaikan ibadah haji bagi warga negara Indonesia menjadi hal yang lumrah. Apalagi masa tunggu calon jemaah haji untuk diberangkatkan oleh pemerintah sejatinya adalah 26 tahun.
Jumat (24/4) dini hari, kloter pertama jemaah calon haji 2026 asal Kalimantan Selatan diberangkatkan ke Arab Saudi. Satu diantara calon jemaah haji itu menunggu selama 14 tahun untuk diberangkatkan. Namun, meskipun cukup lama menunggu, dia tergolong beruntung karena tidak harus menunggu selama 26 tahun.
Isu haji paling krusial dari tahun ke tahun adalah antrean yang kian panjang. Sampai saat ini, tercatat sekitar 5,6 hingga 5,7 juta calon jemaah haji menunggu giliran diberangkatkan. Mengapa sampai terjadi seperti itu? Lantaran tingginya minat berhaji sementara kuota yang tersedia terbatas.
Musim haji 1447 Hijriah, kuota jemaah haji Indonesia adalah 221.000 orang dengan rincian 203.320 jemaah reguler (92 persen) dan 17.680 jemaah haji khusus atau sekitar 8 persen. Logikanya, dengan jumlah penduduk lebih dari 248 juta jiwa, seharusnya Indonesia bisa mendapat kuota lebih besar.
Jika rasio untuk satu calon haji berbanding seribu penduduk muslim, harusnya Indonesia bisa mendapat kuota lebih besar dari Arab Saudi.
Di sinilah pemerintah harus lebih giat melakukan diplomasi untuk mendapat kuota haji lebih besar dari pemerintah Arab Saudi.Walaupun hak penetapan kuota haji setiap tahun secara absolut ada pada pemerintah Kerajaan Arab Saudi, tak ada salahnya jika pemerintah Indonesia melakukan lobi-lobi intensif jauh-jauh hari
demi penambahan kuota yang signifikan.
Sebab, jika tidak demikian, antrean calon haji ini bakal terus bertambah. Bahkan lima atau 10 tahun ke depan bisa jadi daftar tunggu lebih dari 26 tahun. Bisa dibayangkan, generasi yang akan datang semakin sulit untuk menunaikan ibadah haji.
Namun, Indonesia juga harus realistis. Menyelesaikan persoalan kuota haji dalam waktu singkat juga rasanya mustahil.
Perlu dibuat sejumlah langkah agar jomplangnya kuota haji dengan jumlah calon jemaah hajinya tahun ke tahun berkurang. Diplomasi ke Arab
Saudi penting. Diplomasi tidak cukup satu dua tahun sehingga ini jadi langkah jangka panjang.
Langkah jangka pendek sembari melakukan diplomasi misalnya dengan melakukan optimalisasi kuota yang sudah ada. Kalau mau lebih dirinci, waktu tunggu tiap daerah di Indonesia berbeda. Ada yang mencapai 15 tahun, namun daerah lain bisa lebih dari itu.
Antrean haji saat ini masih linear dan tidak fl eksibel. Mungkin jika diubah sedikit dengan prioritas jemaah usia lanjut, belum berhaji, sudah mengalami masa tunggu ekstrem atau calon haji yang memiliki kondisi kesehatan tertentu bisa membantu dalam optimalisasi pemberangkatan, meskipun kuota tidak berubah.
Di sisi lain, saatnya mendorong calon haji mendaftar saat usia produktif. Tentu perlu didukung pula oleh skema tabungan haji yang terjangkau bagi generasi-generasi muda. Bagaimana dengan wacana war tiket haji? Lupakan sajalah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Pesawat-Haji-Embarkasi-Banjarmasin-5.jpg)