Mengaku-ngaku Rasul
Belum lagi Muhammad shallallahu alaihi wasallam (saw), Rasul Allah itu wafat, ada pula orang yang mengaku rasul.
Oleh: KH Husin Naparin
ALLAH subhanahu wa ta’ala (swt) berfirman yang artinya: Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu (QS Al-Ahzab: 40).
Belum lagi Muhammad shallallahu alaihi wasallam (saw), Rasul Allah itu wafat, ada pula orang yang mengaku rasul. Ia berasal dari Bani Hanifah, daerah Yamamah, bernama Musailamah.
Ia berkirim surat kepada Nabi Muhammad yang isinya, “Dari Musailamah Rasulullah kepada Muhammad Rasulullah. Amma ba’ad. Sesungguhnya aku bersama-sama denganmu dalam hal kenabian. Untuk kami separuh bagian darinya dan bagi Quraisy separuh bagian. Tokoh Quraisy bukanlah suatu kaum yang bertindak adil.”
Surat itu diantar seorang utusan, yang dijawab Nabi Muhammad saw, isinya, Bismillahirrahmanirrahim. Dari Muhammad Rasulullah kepada Musailamah Al-Kadzab (pembohong) salam sejahtera bagi orang yang mengikuti hidayah Allah. Amma ba’ad. Sesungguhnya bumi ini adalah milik Allah swt.
Dia wariskan kepada orang yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” Peristiwa ini terjadi pada tahun 10 H. Terakhir, nantinya Musailamah terbunuh dalam status kafir. (Ensiklopedi, Sirah Nabi Muhammad SAW, PT. Kalam Publika, jilid V, hal.7-8)
Mengaku-ngaku rasul terjadi pula pada masa modern ini, setelah lebih 14 abad dari turunnya ayat yang menyatakan bahwa Muhammad adalah Nabi dan Rasul terakhir. Inilah yang pernah terjadi di Kalimantasn Selatan, yaitu di Kotabaru seorang yang berinitial MR, di Tanah Laut seorang berinitial A, dan di HST seorang yang berinitial N.
Ketiga orang yang mengaku rasul ini telah dinyatakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat. Apa sebenarnya motivasi perbuatan mereka itu plus ajaran sesat yang dibawanya?
Menurut penelitian, ada beberpa motivasi munculnya ajaran sesat ini, yaitu
1. Al-Jahl bid-Din, karena kebodohan terhadap syariat (ajaran Islam yang benar).
2. At-Taqarrub ilallah bi ghairis-syariah al-Ilahiyyah, ingin mendekatkan diri (menyatu) kepada Allah swt dengan cara yang dibuat sendiri tanpa mengacu kepada syariat Allah swt, malah mengabaikan dan meremehkannya; karena semua itu hanyalah untuk orang awam (biasa).
3. Hubbus-syuhrah, yaitu ingin terkenal, dimana dengan ajaran-ajarannya bisa terkenal dan dihormati oleh para pengikutnya yang merasa mendapat kebenaran.
4. Hubbul-maal, yaitu untuk mencari harta (sarana kehidupan melalui murid dan pengikut yang begitu setia dan patuh memenuhi apa saja yang diminta).
5. As-siyasah, yaitu adanya unsur-unsur tertentu, baik oleh tokohnya sendiri atau ada pemain di balik layar yang ingin mengacaukan kehidupan beragama bagi umat Islam.
Bila kita perhatikan, mereka memberikan penjelasan berbelit-belit, terulang-ulang dan sulit dipahami; membuktikan mereka tidak berpendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan ke ilmiahannya.