Sosial Media

Hati-hatilah dengan sosial media, iblis-setan menggunakan segala macam cara dan peralatan untuk menjerumuskan manusia kepada kebinasaan dan kehancuran

Editor: Dheny Irwan Saputra

Oleh: KH Husin Naparin

REMAJA masa lalu, berkenalannya dimulai dari pertanyaan: Siapa namanya? Dijawab, “Jakfar,” umpamanya kalau laki-laki; “Aminah,” kalau perempuan. Pertanyaan berlanjut alamat dan seterusnya bailangan (saling berkunjung).

Remaja masa kini, tidak lagi demikian. Pertanyaan pertama dan jawabannya sama, namun style nama yang berbeda, “Roy,” umpamanya kalau laki-laki; “Silvy” kalau perempuan.

Nah, pertanyaan berikutnya jauh berbeda, yaitu, “boleh tau nomor hp-nya?” Sederet nomor disebutkan, bisa 11 atau 12 digit. Lalu dilanjutkan ucapan, miskol pang, bahkan bisa berlanjut dengan pertanyaan PIN BBM nya berapa. Kontak dilanjutkan nantinya dengan SMS-an, chatting, kirim foto lewat aplikasi sosial media yang berbagai ragam pula istilahnya; nanti bertemunya di restoran, mal, kafe atau siring Sabilal.

Di satu pihak alat-alat canggih sosial media dewasa ini berdampak positif memudahkan komunikasi, tetapi sebaliknya bisa pula membawa dampak negatif yang tidak diperkirakan sebelumnya. Contoh berdampak positif, seorang gadis Indonesia mendapatkan jodoh pemuda tampan dari Turki. Perkawinan dilaksanakan dan sang gadis diboyong ke negeri itu; mereka hidup berumah tangga damai di sana.

Contoh berdampak negatif, satu pasangan suami istri bubar kendati sudah berumah tangga hampir seperempat abad, mempunyai anak dan cucu gara-gara sang suami bercanda dengan teman sekolahnya masa lalu lewat SMS, “Ding sudah bangunkah? dijawab, inggih ka ae, ulun sudah mandi handak meulahkan pian kopi susu.” SMS ini terbaca oleh sang istri sewaktu suami di kamar mandi.

Hati-hatilah dengan sosial media, iblis-setan menggunakan segala macam cara dan peralatan untuk menjerumuskan manusia kepada kebinasaan dan kehancuran. Allah swt berfirman yang artinya, “Dan pasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS. Al-Isra, ayat 64).

Ayat ini menerangkan, bahwa Allah memberi kesempatan kepada iblis untuk menyesatkan manusia dengan segala kemampuan yang ada padanya untuk menguji keimanan mereka; tetapi segala tipu daya setan itu tidak akan mampu menghadapi orang-orang yang benar-benar beriman.

Suatu pagi penulis menerima pesan tentang Negeri Cina. Pada zaman dulu orang Cina membangun tembok besar agar hidup aman, dengan keyakinan tidak akan ada yang mampu menerobosnya karena tembok itu dibuat tinggi sekali. Perhatian mereka waktu itu sibuk membangun tembok tetapi tidak membangun manusianya.

Seratus tahun kemudian negeri ini terlibat tiga kali peperangan besar. Musuh dapat masuk dengan aman tanpa menghancurkan tembok, tetapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang, Seharusnya mereka membangun manusianya lebih dahulu sebelum membangun apapun.

Menurut para ahli hikmat, apabila anda ingin menghancurkan satu bangsa, lakukan tiga cara.

Pertama, hancurkan tatanan keluarga dengan cara mengikis peranan ibu jadikan mereka malu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga; rumah tangga pun terabaikan, anak-anak tidak terdidik dan kehilangan kasih sayang, pada gilirannya moral mereka amburadul.

Kedua, hancurkan pendidikan dengan cara jangan jadikan para pendidik sebagai orang penting di masyarakat, kurangi penghargaan terhadap mereka, hingga para pelajar meremehkannya.

Ketiga, hancurkan keteladanan dengan cara merusak akhlak orang-orang yang menjadi panutan termasuk para ulama; sehingga tidak ada lagi orang yang mendengar perkataannya apalagi meneladani perbuatan dan sifatnya.

Na’udzubillah, dari sinilah muncul kehancuran. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved