Tes atau Tas

SEJAK terbongkarnya kasus ijasah palsu menyusul inspeksi mendadak (sidak) Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan

Editor: BPost Online

Kita harus mendukung usaha penertiban ijasah ini karena tidak sedikit kerugian negara. Pangkat mereka naik, kedudukan naik, gaji naik tapi kemampuan tidak menunjang.

Banyak yang tidak bermodalkan kepandaian, hanya ijasah yang didapat dari membeli. Sejumlah perguruan tinggi swasta terbukti telah melakukan penipuan itu. Mahasiswa tercatat namanya tapi tidak kuliah, ada pula yang tidak tercatat sebagai mahasiswa tapi dapat ijasah.

Perguruan tinggi negeri (PTN) pun perlu mawas diri, apakah cara yang dilakukan selama ini untuk menghasilkan S1, S2 atau S3 sudah benar menurut kaidah pendidikan.

Apakah para pembesar yang kini beramai-ramai mengambil S3 juga melakukan penelitian sendiri, berdarah-darah seperti mahasiswa yang lain? Apakah benar tidak ada joki yang membantunya? Gelarnya memang resmi, tapi bagaimana prosesnya?

Budaya instan masih menggelayuti masyarakat kita. Semua ingin cepat, ingin cepat kaya, ingin cepat naik pangkat, ingin cepat terkenal dan banyak lagi. Kuliah pun tak usah pakai repot-repot.

Begitu sakralnya gelar sehingga kecuali diburu untuk meningkatkan karier, ada juga yang sekadar untuk kebanggan pribadi demi menopang status.

Mertua mau cari menantu pun ada yang menanyakan gelarnya. Di satu daerah bahkan ada seorang perempuan lebih dihargai jika memiliki gelar akademis. Jadi fungsi lain ijasah itu untuk ijabsah.

Itulah warna warni gelar perguruan tinggi kita. Meminjam istilah seorang pengamat, ada gelar yang didapat melalui tes, ada pula yang dengan tas. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved