Ritual
SUDAH menjadi kebiasaan, tiap menjelang Idulfitri, semua orang menjadi sibuk luar biasa. Rakyat sibuk mempersiapkan hidangan lebaran,
Oleh: Pramono BS
SUDAH menjadi kebiasaan, tiap menjelang Idulfitri, semua orang menjadi sibuk luar biasa. Rakyat sibuk mempersiapkan hidangan lebaran, baju baru sampai mobil baru bagi yang mampu.
Pedagang sibuk mencari untung besar. Pemerintah sibuk mempersiapkan kebutuhan sembako, infrastruktur sampai angkutan lebaran yang akan diserbu oleh para pemudik.
Puncak kesibukan terjadi saat orang-orang akan pulang kampung atau mudik untuk merayakan lebaran bersama orangtua dan kerabat. Mereka akan bergerak mulai dari Jakarta dan kota lain sekitar H-7 dengan tujuan terbanyak di Jawa.
Ada pula yang ke luar Jawa sehingga tiket kapal dan pesawat ludes terjual sejak lama. Menurut Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, jumlah pemudik tahun ini sekitar 20 juta orang, naik dari tahun lalu. Yang paling besar adalah mudik di Jawa. Angkutan umum seperti kereta api dan pesawat terbang, meski sudah ditambah, tetap tidak bisa memenuhi kebutuhan. Sepeda motor pun menjadi alternatif utama dan mereka akan bergerak bagaikan semut yang merayap di jalan-jalan khususnya jalur pantai utara (pantura).
Dalam kaitan inilah pemerintah berupaya keras untuk menjadikan perjalanan para pemudik lancar dan aman. Berbagai pos berdiri di sepanjang jalan, mulai pos keamanan, pos kesehatan, sampai bengkel berjalan.
Sejak sebelum datangnya Ramadan, pemerintah sudah dibuat kalang kabut menyediakan infrastruktur yang baik. Hampir semua jalan yang rusak dibuat bagus dan semua ditargetkan rampung sebelum lebaran.
Bukan hanya sekarang, setiap tahun juga begitu. Setiap menjelang lebaran selalu ada pekerjaan besar untuk memperbaiki infrastruktur. Sepertinya tidak ada waktu yang lain selain menjelang lebaran.
Tradisi mudik bukan hanya di Indonesia. Tiongkok juga punya tradisi mudik setiap Imlek, bahkan dilihat dari jumlah penduduknya, mudik di sana jauh lebih besar.
Jumlah penduduk Indonesia 200 jutaan lebih, pemudiknya sekitar 20 juta berarti 10 persen. Sementara penduduk Tiongkok 1,5 miliar lebih, bertebaran di sentra industri dan perdagangan sehingga saat mudik, kesibukannya luar biasa. Kalau 10 persen saja bekerja di luar daerah maka jumlah pemudiknya bisa dibayangkan banyaknya, terbesar di dunia.
Tetapi harus diakui Tingkok memang lebih maju. Insfrastruktur sudah dibangun di mana-mana. Sebagai perbandingan, panjang jalan tol di sana sekitar 85.000 kilometer.
Di Indonesia belum ada 1.000 kilometer, bahkan kalah dari Malaysia yang wilayahnya lebih kecil yang pada 2013 saja sudah memiliki 3.000 kilometer jalan tol. Kita menghubungkan Jakarta-Surabaya dengan jalan tol saja belum selesai meski sudah dikebut.Sumatera baru dimulai antara Banda Aceh-Bandar Lampung. Yang lain baru rencana.
Kita harus bersyukur dengan tekad pemerintah yang akan membangun infrastruktur secara besar-besaran, mulai tol darat, tol laut sampai bandara. Jalan tol terpanjang yang baru diresmikan adalah antara Cikopo-Palimanan (Cipali) sepanjang 116 kilometer dengan biaya Rp 12 triliun lebih sedikit.
***
Membangun jalan biayanya tidak kecil. Trans Kalimantan, Trans Sulawesi dan Trans Maluku dan Papua butuh biaya besar. Karena itu pengeluaran yang tidak penting harus disingkirkan dulu.
Lagi-lagi saya harus memberi contoh dana aspirasi yang diusulkan DPR yang totalnya sekitar Rp 11 triliun setahun sebagai pengeluaran konyol kalau disetujui. Sebab uang ini akan dipakai untuk membangun daerah pemilihan anggota sebagai ucapan terima kasih.
Mendingan dipakai untuk membangun prasarana yang masih minim khususnya di luar Jawa. Atau bisa juga untuk membangun alutsista TNI yang sudah ketinggalan. Pesawat angkut Hercules yang berjatuhan diganti baru, kapal-kapal perang yang sudah tua diremajakan, tank-tank jangan lagi beli yang bekas. Dana aspirasi akan menimbulkan kesenjangan makin lebar antara Jawa dan luar Jawa.
Kembali ke persiapan mudik lebaran, rasanya akan lebih baik kalau persiapan infrastruktur dilakukan jauh hari, tidak usah nenjadikan mudik sebagai target proyek.
Jalan pantura Jawa antara Jakarta-Surabaya yang berjarak 900 an kilometer memang tak henti-hentinya diperbaiki sepanjang tahun, tapi toh menjelang lebaran sudah rusak lagi sehingga harus ada proyek baru.
Mengapa perbaikan itu tidak sekalian dengan peningkatan kualitas atau kelas jalan agar lebih awet. Truk bertonase lebih memang banyak melintas di jalur itu, tapi apa gunanya jembatan timbang kalau mereka lolos juga.
Jadi harus ada perubahan paradigma dalam pembangunan atau perbaikan infrastruktur. Tidak lagi ditarget untuk lebaran, tapi sebagai kebutuhan.
Dengan begitu perbaikan jalan, jembatan, maupun penyediaan sarana dan prasarana lain tidak menjadi acara ritual tahunan setiap menjelang lebaran. (*)