Tujuh Belas-an
Seorang temanku asal Palestina bernama Arif, duduk menyendiri di tepi pantai dengan posisi membelakangi laut sambil manatap asrama dari kejauhan.
Oleh: KH Husin Naparin
TAHUN 1958 penulis masih duduk di kelas lima bangku sekolah dasar. Sebagai murid menerima pelajaran bahwa bangsa Indonesia mempunyai bendera Merah Putih. Merah berarti berani membela kebenaran dan mengingatkan, kemerdekaan bangsa Indonesia direbut dan dipertahankan dengan tetesan darah.
Sedangkan putih, melambangkan kesucian dan keinginan hidup damai dengan siapapun. Hanya itu yang aku tahu. Aku belum menghayati apa arti sebuah bendera yang dikibarkan di muka rumah-rumah penduduk, menyambut hari proklamasi 17 Agustus.
Pada 1974 , aku mendapat kesempatan belajar di Al-Azhar University, Kairo, Mesir; di situ terkumpul mahasiswa mancanegara. Suatu hari di musim panas, para mahasiswa dibawa berlibur ke kota Alexandria di tepi Laut Tengah. Di situ terdapat pusara Imam Al-Bushairi penyusun Al-Burdah.
Para mahasiswa ditempatkan di asrama besar bertingkat tiga menghadap ke laut. Di puncaknya terpasang 45 bendera berbagai negara menandakan mahasiswa yang belajar ada 45 bangsa. Di senja hari, kala matahari hampir tenggelam di ufuk Barat, tampak di kejauhan seperti bola raksasa akan jatuh ke dasar laut nan luas tak bertepi.
Cahayanya sudah pudar tidak menyengat lagi seakan-akan kelelahan karena telah melanglang buana sepanjang hari. Angin laut bertiup begitu kencang mempermainkan air laut hingga menjadi ombak dan gelombang. Di udara angin mempermainkan bendera-bendera yang berdiri tegak di puncak asrama, bendera itu seakan-akan kegirangan.
Seorang temanku asal Palestina bernama Arif, duduk menyendiri di tepi pantai dengan posisi membelakangi laut sambil manatap asrama dari kejauhan. Aku datang mendekatinya, ku lihat air matanya berkaca-kaca, wajahnya nampak sedih. “Assalamualaikum,” sapaku dan ia menjawab, “Waalaikumussalam.”
Aku bertanya, “Saudaraku Arif, mengapa Anda nampak sedih, bukankah kita sedang berlibur, mari bergembira.”
Ia menjawab, “Aku sedih melihat bendera-bendera itu.”
Aku menyahut, “Apa yang kau sedihkan, bukankah bendera Palestina juga berkibar?” “Betul,” jawabnya, “Bendera Palestina juga berkibar tetapi tanpa makna karena tanpa negara.
Lihat bendera Merah Putih itu. Itu bendera negaramu, menandakan ada bangsa yang namanya Indonesia dan ada negara yang namanya Indonesia. Usai studi di Mesir ini kamu akan pulang ke negara itu. Sedang aku, kemana aku akan pulang?” Aku tak bisa menjawabnya.
Aku larut dalam kesedihan bersama sahabatku Arif. Entah dimana ia sekarang. Sejak itu baru aku mengerti, apa artinya sebuah bendera.
Senin 17 Agustus 2015, kemerdekaan negara kita telah berusia 70 tahun. Menjelang tujuh belas-an, berembus kabar yang memantik rasa nasionalisme masyarakat Indonesia. Betapa tidak, warga Dusun Yakyu kampung Rawa Bening, Distrik Sota, Merauke, Papua yang berbatasan 1,5 km dari garis batas dengan Papua Nugini; mendapat tekanan dari sejumlah tentara asing agar tidak mengibarkan bendera kebangsaan Merah Putih (BPost 16/8/2015).
Wahai anak bangsa pandanglah bendera Merah Putih yang kau tancapkan di muka rumahmu, di kantor-kantor dan dimanapun bisa ditegakkan. Ucapkan Alhamdulillah, Merah Putih berkibar di alam kemerdekaan.
Tahukah anda, sebelum ia berkibar di gedung Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), New York, ia telah berkibar di Padang Arafah dikibarkan oleh jemaah haji Indonesia yang wukuf sambil berdoa semoga bangsa Indonesia dapat merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Wahai remaja anak bangsa masa kini, bila 17 Agustus tiba, jangan hanya tahu panjat pohon pinang, lomba main bola laki-laki berpakaian perempuan, adu cepat makan kerupuk dan lain-lain keramaian. Jangan lupa diri sehingga tujuh belas rakaat salat kau tinggalkan, dan wahyu Ilahi yang awalnya turun pada 17 Ramadan tidak kau hiraukan.
Dirgahayu ke-70 RI. (*)