Syekh Wahbah
PULUHAN tahun lalu, pada suatu kesempatan, (alm) KH Mukeri Gawit MA, Muassis PP Manbaul-Ulum, Kertak Hanyar, Banjar, Kalsel berkata kepada penulis,
Oleh: KH Husin Naparin
PULUHAN tahun lalu, pada suatu kesempatan, (alm) KH Mukeri Gawit MA, Muassis PP Manba’ul-Ulum, Kertak Hanyar, Banjar, Kalsel berkata kepada penulis, “Saudara Husin, milikilah buku fikih Al-Fikih al-Islami wa Adillatuh.”
Kata beliau, “Buku itu besar, delapan jilid, terbitan Dar al-Fikr, Damaskus, 1984, oleh Prof DR Wahbah Az-Zuhaili, bahasanya mudah dimengerti, sangat bermanfaat dalam upaya kita memahami hukum-hukum Islam berikut dalil yang muktamad, buku ini karya monomental penyusunnya.”
Sabtu, 8 Agustus 2015, pengarang buku ini meninggal dunia. Ia berulang kali berkunjung ke Indonesia. Beliau adalah satu ulama Sunni terkemuka abad ini, termasuk 500 figur Muslim berpengaruh di dunia, Anggota Dewan Pakar Komite Fikih di sejumlah negara seperti Arab Saudi, India, Amerika dan Sudan.
Pemikiran fikihnya menyebar ke seluruh dunia Islam melalui kitab-kitab fikihnya, terutama kitabnya al-Fikih al-Islami wa Adillatuh. Sejumlah penghargaan dunia internasional telah ia raih. Ia lahir di desa Dir Athiyah, daerah Qalmun, Damsyiq, Syria pada 6 Maret 1932 M/1351 H. Beliau alumni Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir.
Bapaknya bernama Musthafa az-Zuhaili, terkenal dengan kesalihan dan ketakwaannya serta hafiz al Qur’an, seorang petani yang senantiasa mendorong putranya untuk menuntut ilmu.
Wahbah mendapat pendidikan dasar di desanya. Tahun 1946-1952 studi di tingkat menengah pada jurusan Syariah di Damsyiq. Ia selalu berada pada posisi rangking pertama. Semua ini menjadi modal awal baginya untuk masuk pada Fakultas Syariah dan Bahasa Arab di Azhar dan Fakultas Syari’ah di Universitas ‘Ain Syam di Mesir dalam waktu yang bersamaan.
Tahun 1956/1957 ia memperoleh tiga ijazah, yaitu: BA dari fakultas Syariah Universitas al-Azhar; Takhasus Pendidikan dari Fakultas Bahasa Arab Universitas al-Azhar; dan BA dari Fakultas Syari’ah Universitas ‘Ain Syam.
Kemudian studinya diteruskan ke tingkat pasca sarjana di Universitas Kairo, memperoleh gelar M.A dengan tesis berjudul az-Zira’i fi as-Siyasah asy-Syar’iyyah wa al-Fikih al-Islami, kemudian dilanjutkan ke program doktoral selesai pada 1963 dengan judul disertasi Atsar al-Harb fi al-Fikih al-Islami di bawah bimbingan Dr Muhammad Salam Madkur, disertasi ini menjadi rujukan PBB.
Pada 1963 M, ia diangkat sebagai dosen di Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus, kemudian menjadi Dekan dan Ketua Jurusan Fikih Islami wa Mazahabih. Ia mengabdi selama lebih dari tujuh tahun dan dikenal alim dalam bidang Fikih, Tafsir dan Dirasah Islamiyyah.
Gelar profesor diraihnya 1975; sehingga ia menjadi dosen tamu pada sejumlah universitas di negara-negara Arab, seperti Libya, Sudan, Emirat Arab. termasuk di Malaysia dan Indonesia.
Beliau belajar fiqih Asy-Safi’i dari Muhammad Hasyim Al-Khatib (w. 1958 M), ilmu Hadits dari Mahmud Yassin (w. 1948 M) Ilmu Fara’id dan wakaf dari Judad Al-Mardini (w. 1957 M), ilmu Tafsir dari Hasaan Habnakah Al-Midani (w. 1978 M), ilmu Bahasa Arab dari Muhammad Saleh Farfur (w. 1986 M), Ilmu Usul Fiqih dan Mustalah dari Muhammad Lutfi Al-Fayumi (w. 1990 M) dan ilmu Aqidah dan Kalam dari Mahmud al-Rankusi.
Selama di Mesir, beliau berguru pada Muhammad Abu Zuhrah, (w. 1395 H), Mahmud Shaltut, (w. 1963 M) Abdul Rahman Taj, Isa Manun (1376 H), Ali Muhammad Khafif (w. 1978 M), Jad al-Rabb Ramadhan (w.1994 M), Abdul Ghani Abdul Khaliq (w.1983 M) dan Muhammad Hafiz Ghanim. Beliau amat terkesan dengan buku-buku tulisan Abdu ar-RahmanAzzam seperti al-Risalah al-Khalidah dan buku karangan Abu Hassan an-Nadwi berjudul Ma za Khasira al-‘alam bi Inkhitat al-Muslimin.
Wahbah az-Zuhaili menulis buku, kertas kerja dan artikel dalam berbagai ilmu Islam. Buku-bukunya melebihi 133 buah dan jika dicampur dengan risalah-risalah kecil melebihi lebih 500 makalah. Satu usaha yang jarang dapat dilakukan oleh ulama kini seolah-olah ia merupakan as-Suyuti kedua (as-Sayuti at-Tsani) pada zaman ini.
KH Anwar Isa Lc, Imam Masjid Nurul Islam Palangkaraya, Kalimantan Tengah (kakak angkat penulis) sempat belajar di Syria dan berguru langsung dengan Syekh Wahbah.
Ia sangat mengidolakan Syekh yang selalu memakai serban putih dan jubah Arab khas Syria, sehingga memberi nama seorang putranya dengan nama Ahmad Muhammad Wahbah.
Allah Yarham Prof DR Wahbah Az-Zuhaili. (*)