5 Kepala Daerah Paling Menyita Perhatian Selama 2015
Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula para pemimpin kita. Namun, menurut penulis H Jackson Brown Jr, seorang pemim
BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak ada gading yang tak retak. Tak ada manusia yang sempurna. Begitu pula para pemimpin kita. Namun, menurut penulis H Jackson Brown Jr, seorang pemimpin mencapai suksesnya melalui pelayanan, bukan dengan mengorbankan orang lain.
Sejumlah kepala daerah di Indonesia menyita perhatian publik pada tahun 2015. Ada yang mencengangkan karena visi dan pelayanannya kepada warga yang dipimpinnya.
Akan tetapi, ada pula yang mengherankan karena justru memperdaya masyarakat yang memberikan kepercayaan kepadanya pada saat pemilihan.
Berikut ini adalah daftar lima kepala daerah di luar DKI Jakarta yang menurut Kompas.com paling menyita perhatian publik pada tahun 2015:
1. Tri Rismaharini (Wali Kota nonaktif Surabaya)
Kualitas kepemimpinan Risma, begitu dia kerap disapa, bisa dilihat dari hasil kerjanya mengubah wajah Surabaya dan memberdayakan masyarakatnya.

Setelah terlibat dalam penutupan kawasan lokalisasi prostitusi Dolly yang tersohor pada tahun lalu, Risma kerap blusukan serta mampu merangkul warga dan konsisten menerapkan sistem pemerintahan yang transparan.
Pada November lalu, bersama Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo, Risma menerima penghargaan Bung Hatta Anti Corruption Award (BHACA) 2015 berdasarkan penilaian berikut ini (seperti ditayangkan harian Kompas, 7 November 2015, "Harapan dari Pemimpin Gaya Baru"):
Sejak tahun 2002, ketika menjabat Kepala Bagian Bina Program Pembangunan di Pemkot Surabaya, Risma memulai lelang pengadaan barang secara elektronik, single window perizinan, pelaporan online, sistem e-government untuk sektor kesehatan, pendidikan, perbaikan jalan, pajak, kenaikan pangkat pegawai, SOP pelayanan publik di tingkat kelurahan dan kecamatan, serta program perempuan anti-korupsi bagi birokrat Kota Surabaya.
Sebelumnya, Risma sempat ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Jawa Timur terkait kasus penyalahgunaan wewenang pemindahan kios pembangunan Pasar Turi.
Namun, Polda Jatim disebut akan segera mengeluarkan surat penghentian penyidikan perkara (SP3) karena tidak memiliki cukup bukti yang kuat. Banyak pihak menduga, hal ini terkait pencalonannya dalam Pilwali Surabaya 2015.
Risma nonaktif dari jabatannya sebagai Wali Kota Surabaya saat memutuskan maju menjadi calon wali kota untuk kali kedua. Pada Pilwali 2015 ini, Risma maju bersama Whisnu Sakti Buana.
Whisnu sebenarnya sudah mendampingi Risma sejak tahun 2014 ketika wakil Risma, Bambang Dwi Hartono, mengundurkan diri karena ingin bertarung dalam Pilgub Jawa Timur pada tahun 2013.
Risma-Whisnu akhirnya menang dalam Pilkada Surabaya, mengalahkan Rasiyo-Lucy Kurniasari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/gubernur-nonaktif-sumatera-utara-gatot-pujo-nugroho-penyidik-kpk_20150805_160149.jpg)