Juhu, Desa Perawan Terindah di Kalimantan Selatan Berada di Lereng Pegunungan Meratus
"Walaupun sekolah ini tergolong kurang layak, tetapi ada juga sekolah di sana dan mereka bisa menikmati pendidikan juga," urainya
Penulis: Yayu Fathilal | Editor: Ernawati
Rumah-rumah mereka masih sangat tradisional dan berbahan kayu.
Ada juga sebagian yang beratap seng dan dindingnya berbahan bambu.
Walau begitu, di sini juga ada sekolah, yaitu Sekolah Dasar Kelas Kecil Abdurrahman Wahid Gusdur.
"Walaupun sekolah ini tergolong kurang layak, tetapi ada juga sekolah di sana dan mereka bisa menikmati pendidikan juga," urainya.
Desa ini sering dikunjungi pelancong, khususnya lagi para pecinta dan penjelajah alam.
"Kita di kampung sini bisa menginap di rumah warga, balai adat atau berkemah di hamparan rerumputannya," paparnya.
Soal komunikasi, tak perlu khawatir karena mereka bisa saja memahami bahasa para pendatang.
"Kalau di antara mereka sih ngobrolnya Bahasa Dayak," ujarnya.
Soal makanan mereka kebanyakan berupa nasi bercampur garam dan sayur.
Mata pencarian mereka adalah bercocok tanam, berkebun pisang dan berbagai sayuran, berburu dan sebagian ada juga yang merantau ke Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan untuk mendulang emas.
Makanan mereka yang sangat sederhana tersebut, sesekali bisa saja menjadi lebih mewah jika mereka berhasil membawa pulang hewan hasil perburuan di hutan.
"Kalau dapat hewan, mereka bisa makan lauk daging," katanya.