Abdun (Hamba)
Inilah rahasianya kalimat tasbih subhana pengakuan akan kesucian sang pelaku atau menepis hal-hal yang tidak mungkin menurut kebiasaan.
Oleh: KH Husin Naparin
Ketua Umum MUI Kalsel
ALLAH SWT menginformasikan berita peristiwa Isra Nabi Muhammad SAW, hanya lewat satu ayat di antara 6.236 (enam ribu dua ratus tiga puluh enam) ayat Alquran, yaitu surah Al-Isra atau Bani Isra’il ayat pertama.
Terjemahnya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjid Al-Haram ke Al-Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
Menakjubkan, kendati satu ayat, tetapi ayat ini memenuhi kriteria ilmu pemberitaan (komunikasi); bahwa suatu berita harus memenuhi five W & one H (5W + 1H), yaitu: What, Who, Where, When, Why, dan How.
What artinya apa? Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah asraa-bi artinya memperjalankan.
Who artinya Siapa? Siapa yang menjalankan (subjek)? Yang menjalankan adalah Allah yang Maha Suci dari sifat-sifat negatif. Dan siapa yang dijalankan (objek)? Yang dijalankan adalah abdihi yaitu hamba-Nya.
Where artinya dimana? Dimana peristiwa itu terjadi? Peristiwa Isra terjadi antara Al-Masjid Al-Haram dan Al-Masjid Al-Aqsha.
When artinya kapan? Kapan terjadinya? Jawabannya Lailan artinya di waktu malam.
Why artinya mengapa? Mengapa peristiwa Isra terjadi‘? Isra terjadi, linuriyahu min aayatinaa, artinya untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kekuasaan Kami.
How artinya bagaimana? Bagaimana peristiwa Isra terjadi? Peristiwa Isra tetjadi sungguh di luar kebiasaan, perjalanan pulang-pergi yang harus ditempuh dua bulan, namun hanya ditempuh dalam tenggang waktu kurang dari sepertiga malam.
Inilah rahasianya kalimat tasbih subhana pengakuan akan kesucian sang pelaku atau menepis hal-hal yang tidak mungkin menurut kebiasaan.
Demikian five W & one H terjawab dalam satu ayat pendek ini, sesuai ilmu pengetahuan modern zaman sekarang, padahal ayat ini turun 14 abad lebih masa yang silam.
Lebih menarik lagi untuk direnung dan ditelaah, siapa yang diisrakan (diperjalankan). Kita tahu bahwa yang diisrakan adalah Nabi Muhammad SAW. Mengapa Allah SWT dalam ayat ini tidak menyebutkan nama Muhammad; barangkali layaknya berbunyi, subhaanalladzii asaraa bi-muhammadin,” (Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan Muhammad). Tetapi ayat ini berbunyi, subhaanalladzii asaraa bi-abdihi. (Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya).
Abdihi artinya hamba-Nya. Abdun adalah hamba. Kata abdun diadopsi oleh bangsa kita Indonesia kata “abdi. ” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ada tiga pengertian abdi yaitu hamba; 1. orang bawahan; 2. budak tebusan; 3.pegawai: abdi negara.
Kalau dikatakan mengabdi, berarti menghambakan diri, berbakti. Kalau dikatakan mengabdi kepada negara berarti memperhambakan diri kepada negara, atau memperuntukkan hidup hanya untuk negara. Oleh sebab itu bila dikatakan abdi-hi artinya hamba Allah, hanya berbakti kepada Allah.
Dapat kita pahami, Nabi Muhammad SAW yang diisrakan adalah dalam status beliau sebagai hamba-Nya (Allah). Dia (Allah) mengakuinya sebagai seorang yang hanya mengabdikan diri kepada-Nya.
Dengan pengabdian itu, ia berhak mendapat kemuliaan yang tinggi, dipanggil kehadirat-Nya, menyaksikan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya. Kita sebagai umat Muhammad bisa jadi akan mendapatkan kemuliaan dari pada-Nya bila kita mampu menstatuskan diri kita sebagai seseorang yang hanya mengabdi kepada-Nya.
Inilah sebenarnya tugas seorang manusia bahkan jin hanya beribadah (mengabdi kepada-Nya), karena inilah tugas hidup kita sebagai manusia sesuai firman Allah yang artinya, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat 56).
Dalam doa iftitah ketika salat kita sampaikan suatu pernyataan, “inna shaalatii wa nusukii wa mahyaaya wamaamatii lillaahi rabbil alamin.” Artinya, “sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah SWT, Tuhan semesta alam.”
Bila Nabi Muhammad SAW diisrakan berujung dengan miraj (bertemu dengan hadrat Allah) dan menerima perintah salat fardhu, maka umat Muhammad, Isra dalam taat kepada Allah, berujung dengan salat, sehingga dikatakan ash-shalatu mi’raajul mu’minin, salat itu mirajnya orang beriman.
Karenanya yang mendapat kemuliaan itu adalah orang-orang yang memosisikan dirinya sebagai hamba Allah, yang hanya mengabdi kepada-Nya. (*)