Setan
Setan berasal dari kata syaithan (bahasa Arab). Siapakah setan itu? Setan itu adalah iblis yang berasal dari jin yang maksiat akan perintah
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel
Setan berasal dari kata syaithan (bahasa Arab). Siapakah setan itu? Setan itu adalah iblis yang berasal dari jin yang maksiat akan perintah Tuhannya, yaitu tidak mau sujud menghormati Adam AS. Iblis merasa dirinya lebih mulia dari Adam. (QS Al-Kahfi, 50).
Setiap iblis adalah setan, tetapi tidak semua setan adalah iblis; karena setan ada yang berasal dari manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), setan adalah roh jahat yang selalu menggoda manusia supaya berlaku jahat atau orang yang sangat buruk perangainya (pikirannya), suka mengadu domba dan sebagainya. Bila dikatakan kesetanan maksudnya kemasukan setan.
Di dalam bulan Ramadan setan dibelenggu. (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah); berarti di luar Ramadan setan gentayangan di mana-mana. Iblis yang bertabiat setan itu mendatangi Adam dan manusia dari empat jurusan; “dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.” (QS Al -‘Araaf, ayat 16-17).
Iblis tidak bisa menggoda dari arah atas (fauqiyah) karena arah atas adalah simbol pertolongan Tuhan; dan tidak bisa dari arah bawah karena arah bawah (taht) adalah simbol perhambaan manusia kepada Tuhan. (Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah, hal.tt.).
Berbagai ragam godaan dan bisikan setan untuk menjerumuskan manusia, antara lain mengajak kepada kekafiran dengan berbagai cara. Diriwayatkan, pada zaman dahulu ada seorang muadzin bertugas di Masjid Umawi di Damaskus, Syria. Setiap waktu salat tiba, dia naik ke puncak menara masjid untuk mengumandangkan azan. Di hadapan masjid ada sebuah rumah yang beranda depannya menghadap masjid. Dari puncak masjid sang muadzin menatapkan pandangannya ke beranda rumah itu; disitu selalu duduk seorang gadis cantik. Sang muadzin penasaran.
Pada suatu hari, usai salat dia bertandang menemui gadis itu. Pertemuan keduanya menjadi berulang kali karena telah tumbuh benih-benih cinta. Sang muadzin bermaksud mengawininya. Lamarannya ditolak karena dia seorang muslim; tetapi bisa diterima jika dia bersedia memeluk agama sang gadis (Nasrani). Iblis membisikkan rayuannya ke telinga sang muadzin, “Masuklah Nasrani, setelah kamu kawin dengannya, bawalah istrimu itu masuk Islam.”
Perkawinan dilaksanakan setelah sang muadzin murtad dari agamanya. Malam pertama, dia menaiki tangga untuk menuju kamar pengantin yang berada di tingkat dua. Kakinya tergelincir, dia jatuh dan kepalanya terhempas lantai. Rupanya disitulah ajalnya tiba; dia meninggal dalam keadaan murtad dan tanpa sempat berkumpul dengan sang istri; dunianya luput dan akhiratnya hancur, akibat bisikkan setan. (Majalah Al-Mujtama’, Kuwait, 1974, hal.tt.).
Tahukah Anda, dewasa ini berapa banyak perempuan muslimah yang terjebak menjadi murtad. Di awal tahun 2015, penulis dikejutkan oleh seorang ayah yang melaporkan bahwa anak putrinya yang sudah dewasa menyatakan keluar dari Islam. Anak putrinya ini karyawati di sebuah kantor pemerintah di Kota Banjarmasin. Dia selalu ditugaskan untuk sejumlah urusan bersama seorang karyawan nonmuslim; yang diatur oleh atasannya seorang nonmuslim. Antara keduanya terjalin hubungan asmara. Ujungnya sang perempuan bersedia keluar dari agama Islam untuk kawin dengan lelaki itu di suatu daerah di Pulau Sumatera.
Pertengahan kedua tahun 2015 yang lalu, penulis mendapatkan laporan seorang ibu, bahwa anak putrinya yang cerdas kuliah di Jakarta sejak beberapa waktu yang lalu. Anak ini berteman dengan seorang remaja putri (nonmuslimah). Persahabatan keduanya begitu akrab. Temannya itu menganjurkan agar dia kursus bahasa Inggris di suatu daerah di Jawa Timur. Selesai kursus, dia pulang ke Banjarmasin dan tidak pernah lagi salat. Setelah ditanya, dia menyatakan kepada ibunya sudah keluar dari agama Islam karena tidak meyakini akan kebenaran Nabi Muhammad SAW. Berbagai upaya dilakukan, namun ia tidak tetap dalam keyakinannya, murtad.
Beberapa bulan kemudian, penulis mendapat kunjungan seorang ibu yang berasal juga dari Banjarmasin; melaporkan hal yang sama bahwa putrinya telah keluar dari agama Islam setelah studi beberapa waktu di Pulau Jawa. Masih sederet cerita peristiwa yang semisal.
“Rabbanaa laa tuzig quluubanaa ba’da idz-hadaitana, wahablanaa miladunka rahmatan innaka antal-waahhab,” artinya, “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS Ali-‘Imran, 8). (*)