Unglam, Unlam atau ULM

Apa yang salah? Tidak ada yang salah. Sebagai sebuah kebiasaan apa yang disebutkan oleh Kakek Dalimun adalah sesuatu wajar, dan tidak perlu

Tayang:
Editor: BPost Online
BPost Cetak
Ilustrasi 

UNGLAM.. Eh salah; Unlam, katanya. Dulu, memang masyarakat Banjar, khususnya yang tinggal di pahuluan mengenal Universitas Lambung Mangkurat dengan sebutan”Unglam.” Kakek Dalimun, contohnya, tahun 70-an saat ingin memasukkan putranya ke perguruan pelat merah itu menyebutnya dengan sebutan “Unglam”. Maklum saja, Dalimun yang peranakan Jawa dan puluhan tahun tinggal di Kecamatan Babirik, Hulu Sungai Utara (HSU), sudah berkulturasi dengan budaya setempat.

Paduan Jawa dan Banjar itulah yang kemudian menjadi menarik ketika Dalimun keukeuh menyebut Universita Lambung Mangkurat dengan sebutan Unglam, bukan Unlam. Meski dia harus berdebat dengan putranya kalau dirinya salah penyebutan, tapi tetap saja Dalimun keukeuh dengan kata “Unglam”.

Apa yang salah? Tidak ada yang salah. Sebagai sebuah kebiasaan apa yang disebutkan oleh Kakek Dalimun adalah sesuatu wajar, dan tidak perlu diperdebatkan. Toh, sebutan Unglam atau Unlam, tetap merujuk pada Universitas Lambung Mangkurat, bukan Universitas Lampihong (?).

Jadi, sebenarnya juga tidak ada yang salah kalau kemudian Rektor Universitas Lambung Mangkurat Prof Sutarto Hadi tetap lebih suka menyebut lembaga pendidikan tertinggi yang dipimpinya dengan sebutan ULM. Juga tidak ada yang salah Kemenristek Dikti menetapkan akronim Unlam sebagai sebutan ‘resmi’ Universitas Lambung Mangkurat.

Dan, kita harapkan masalah sebutan tidak perlu menjadi debat kusir yang tidak jelas muaranya. Apapun sebutannya, toh tidak melunturkan nilai-nilai akademik lembaga pendidikan tinggi tersebut. Jangan pula kemudian direka-reka sebutan yang justru tidak memiliki nilai positif bagi perkembangan Universitas Lambung Mangkurat. Contoh yang kontraproduktif seperti sebutan Unlam yang diplesetkan menjadi ‘universitas lambat maju’ atau ‘universitas lampu merah’.

Kita mendukung upaya Pak Rektor untuk mematenkan ULM sebagai sebutan resmi Universitas Lambung Mangkurat. Sejatinya, akan jauh lebih penting bukan sekadar sebutan semata. Namun bagaimana meningkatkan kualitas akademik Universitas Lambung Mangkurat tidak saja di tataran nasional, tapi juga internasional. Ini sebenarnya yang harus menjadi mimpi dan direalisasikan para pengelola perguruan tinggi tersebut.

Jujur saja, kita tentu sangat tidak ingin plesetan ‘lambat maju’ masih menjadi trade mark dari waktu ke waktu. Kita juga tidak ingin sebutan ULM hanya sebuah gagah-gagahan agar terkesan elegan seperti sebutan perguruan tinggi hebat di Jawa sana. Yang kita harapkan adalah Universitas Lambung Mangkurat, benar-benar menjadi lembaga pendidikan yang memiliki nilai tawar yang baik dalam menangkap setiap peluang yang dihadirkan oleh teknologi yang kian hari kian berkembang.

Jangan sampai Unglam, Unlam atau ULM tertatih-tatih menjawab semua tantangan masa kini dan masa depan. Sebagai lembaga pendidikan tinggi, Universitas Lambung Mangkurat harus benar-benar menampilkan jatidirinya bahwa ‘kami bisa’ melakukan semuanya. Kita tak perlu lagi bersilang kata soal sebutan. Apapun sebutannya, Universitas Lambung Mangkurat harus menjadi wadah paling pas sebagai kawah candradimuka bagi generasi muda Banua dalam menimba ilmu untuk memajukan Bumi Lambung Mangkurat.  (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved