‘Teror’ dari Dapur
Ledakan tersebut sempat dikira serangan bom yang dilakukan kelompok radikal sebagai aksi balasan terhadap tindakan polisi
SEBUAH ledakan dahsyat meluluhlantakan bangunan restoran Pizza Hut Delivery (PHD) di Pondok Melati, Jatimurni Bekasi Kota, Jawa Barat, Minggu (23/10/2016) pagi.
Ledakan yang berasal dari tabung gas 50 kg juga menghancurkan sejumlah bangunan di sekitar lokasi kejadian. Bahkan, dampak ledakan terasa hingga sejauh 200 meter dari pusat ledakan.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Sejumlah warga mengalami luka parah akibat terkena serpihan benda, termasuk terkena runtuhan bangunan di sekitarnya yang hancur.
Ledakan tersebut sempat dikira serangan bom yang dilakukan kelompok radikal sebagai aksi balasan terhadap tindakan polisi menembak mati seorang terduga teroris yang nekat menyerang tiga anggota polisi di Tangerang, Kamis (20/10/2016) pagi. Selain menikam tiga polisi, pelaku terduga simpatisan ISIS juga sempat melemparkan benda bersumbu mirip bahan peledak ke arah polisi. Ternyata, ledakan berasal dari tabung gas 50 kg di restoran PHD.
Pada 11 September 2016 malam, terjadi ledakan yang jauh lebih dahsyat di Makassar. Sepuluh rumah hancur, tiga mobil rusak berat, sejumlah warga dilarikan ke rumah sakit.
Suara ledakan keras dan getarannya bahkan terasa sampai radius hampir dua kilometer. Akibat ledakan itu, aliran listrik di Kota Makassar ketika itu padam sebagian. Dua ruko yang menjadi lokasi ledakan hancur. Pintu ruko yang berbahan besi terpental sejauh sekitar 300 meter.
Warga pun panik dan mengira aksi terorisme. Polisi memastikan ledakan berasal dari gudang tabung gas elpiji dan meminta masyarakat tidak perlu cemas.
Penyebaranan paham radikal dan teror merupakan ancaman serius yang terus diperangi pemerintah, mengingat aliran yang menyasar pelajar dan anak muda ini dapat melahirkan aksi radikal dan teror. Rentetan teror seperti bom Bali, teror di Sarinah-Thamrin hingga bom bunuh diri di Medan merupakan contoh aksi yang lahir dari radikalisme dan terorisme di Tanah Air.
Kasus ledakan tabung gas memang tidak ada hubungannya sama sekali dengan aksi radikalisme dan terorisme yang jadi musuh nomor satu pemerintah, tapi potensi jumlah korban jiwa, luka-luka dan harta yang ditimbulkan ‘bom’ tabung gas elpiji tak terhitung.
Sejak program konversi minyak tanah ke LPG (elpiji) digulirkan pemerintah pada 2007, kebiasaan masyarakat yang turun temurun menggunakan mitan beralih ke elpiji. Kini jutaan tabung elpiji 3 kg dan 12 kg pun menggantikan kompor mitan di dapur rumah-rumah penduduk.
Di awal-awal program konversi banyak masyarakat yang takut memakai tabung gas, karena banyaknya terjadi kasus ledakan tabung gas, antara lain akibat alat yang memang sudah tidak sesuai standar, adanya unsur kesalahan penggunaan, serta faktor kriminal dengan modus menyuntik tabung gas 3 kg ke tabung 12 kg.
Faktor kriminal ini memakan korban paling banyak karena sering terjadi ledakan tabung saat mengoplos. Di Surabaya lima orang meninggal sekaligus, di Bekasi ada empat orang meninggal langsung karena tabung meledak saat mengoplos. (kompasiana.com).
Kasus ledakan demi ledakan ini semakin membuat masyarakat waswas menggunakan tabung gas. Pihak kepolisian harus proaktif melakukan penindakan terhadap para pelaku pengoplos tabung gas yang sangat merugikan pemerintah tersebut.
Selain itu, pemerintah juga harus semakin sering memberikan sosialisasi bagaimana cara aman menggunakan tabung gas. Jangan sampai tabung gas menjadi ancaman dan teror di dapur rumah kita. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/tajuk-besar-new_20161014_224050.jpg)