Antara Ahok, Aceh, dan NKRI

Berbagai peristiwa besar ini menjadi catatan penting bagi sejarah Indonesia saat menjelang berakhirnya 2016.

Antara Ahok, Aceh, dan NKRI
BPost Cetak
Ilustrasi 

BEBERAPA waktu belakangan, sejumlah rentetan kejadian cukup membuat kita terhenyak. Kejadian-kejadian ini juga sangat menyita perhatian. Bahkan banyak kalangan sempat mengkhawatirkan terjadinya perpecahan.

Berbagai peristiwa besar ini menjadi catatan penting bagi sejarah Indonesia saat menjelang berakhirnya 2016. Apalagi semua berlangsung dalam waktu yang jaraknya cukup pendek.

Antara lain munculnya penggalangan aksi massa sebagai reaksi dari pernyataan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, penangkapan sejumlah tokoh karena tuduhan makar, dan beberapa kejadian lainnya. Banyak opini yang kemudian secara liar berkembang di publik. Semua bebas mengeluarkan pendapat, bahkan tak jarang ada yang menghujat.

Adanya aksi yang mengusung tema persatuan dalam kebhinnekaan pun muncul. Destintegrasi seakan sudah menjadi ancaman bagi negara.

Namun kekhawatiran itu tidak terbukti, bahkan aksi super damai 212 yang berlangsung tertib dan lancar, telah memberikan jawaban yang tegas bahwa NKRI tetap menjadi harga mati. Ini bukan aksi yang menghina suku, agama, ras, maupun etnis, melainkan sebuah desakan keadilan atas tindakan bagi orang yang menistakannya.

Rabu (7/12/2016), bangsa Indonesia kembali dibuat tersentak. Kabar duka dari bumi Serambi Makkah, Aceh gempa bumi berkekuatan 6,5 skala richter (SR) mengguncang sejumlah daerahnya termasuk Pidie Jaya.
Ratusan jiwa tewas. Tak sedikit pula yang mengalami luka-luka dalam peristiwa yang hanya terjadi dalam waktu beberapa detik sekira pukul 05.03 WIB.

Kejadian ini kembali mengingatkan kita pada tragedi tsunami yang pernah terjadi di provinsi paling barat Indonesia tersebut pada 12 tahun silam. Ini bukan hanya duka bagi rakyat Aceh, tapi duka nasional. Bahkan ketika itu, sejumlah negara di dunia ikut berpartisipasi melakukan upaya kemanusiaan untuk menolong para korban.

Kini manakala bencana alam kembali memorakporandakan sejumlah daerah di Aceh, rasa solidaritas, persatuan, dan persaudaraan sesama anak bangsa kembali muncul. Berbagai organisasi, kelompok, maupun lembaga, secara spontan tergerak melakukan aksi sosial.

Fenomena penggalangan dana untuk membantu para korban pun berkumandang di berbagai daerah. Semua bersatu tanpa menyoal keberagaman suku, agama, ras, maupun etnis. Rasa kemanusiaan dan semangat gotong royong pun membahana.

Mungkin ini bisa dikatakan sebagai salah satu hikmah dari sebuah musibah. Rakyat Indonesia yang tersentak atas kejadian ini, telah dibangkitkan gelora solidaritasnya.

Tentu, kita tidak ingin peristiwa serupa terulang. Namun mengambil pelajaran berharga dari musibah merupakan wujud dari keberadaban manusia sebagai makhluk yang berakal.

Tak kalah penting, semua ini tidak lepas dari kesadaran bersama bahwa NKRI dengan kebhinnekaan telah mempersatukan bangsa Indonesia. Yang pasti dengan pesatuan dan kesatuan, kita menjadi kuat. Semoga. (*)

Editor: BPost Online
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved