Menikmati Kemenangan
Sungguh wajar jika banyak orang kecewa dengan kekalahan timnas sepak bola Indonesia melawan Thailand pada Final AFF akhir
Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin
Sungguh wajar jika banyak orang kecewa dengan kekalahan timnas sepak bola Indonesia melawan Thailand pada Final AFF akhir pekan lalu, 17 Desember 2016. Apalagi, harapan akan kemenangan begitu besar karena Indonesia sudah unggul dalam pertandingan sebelumnya di Jakarta. Kali ini, bukan hanya para penggemar bola, orang yang bukan penggemar bola pun bersemangat ingin menyaksikan.
Kebetulan pula pertandingan ini terjadi di bulan Maulid. Ada yang bilang, cerita kemenangan burung ababil menghancurkan gajah Abrahah di tahun kelahiran Nabi diharapkan menjelma menjadi ‘garuda’ yang mengalahkan ‘gajah’ Thailand. Di sebuah langgar di Banjarmasin, peringatan maulid yang semula dijadwalkan setelah Isya, dimajukan setelah Magrib agar jemaah bisa menyaksikan pertandingan itu!
Mengapa orang sangat bersemangat ingin menang? Karena kemenangan memberikan kepuasan dan harga diri. Setiap peserta yang ikut pertandingan tentu ingin menang. Menang itu memuaskan karena tujuan tercapai. Menang itu menaikkan harga diri karena pemenang akan mendapatkan penghargaan, dan penghargaan akan membuahkan kebanggaan. Orang hidup perlu memiliki kebanggaan.
Kemenangan pada dasarnya tidak bersifat pribadi. Kemenangan seorang anak juga menjadi bagian dari kemenangan orangtuanya, keluarganya, orang sekampungnya, sekolahnya, dan seterusnya. Apalagi jika kemenangan itu menyangkut sebuah tim yang mewakili bangsa seperti timnas sepak bola. Kemenangan semacam ini memberikan kepuasan dan kebanggaan bersama yang jauh lebih besar dan luas.
Karena itulah, setiap pertandingan melahirkan para pendukung. Para pendukung makin terbelah ketika pertandingan berhadap-hadapan antara dua pihak. Di sini muncul ‘kami’melawan ‘kamu’. Rasa bersatu sebagai pendukung satu tim semakin kuat karena adanya lawan bersama yang ingin dikalahkan. Kebersamaan itu dihadirkan melalui simbol-simbol berupa warna kaus, bendera, yel-yel dan lain-lain.
Dalam suasana demikian, emosi dapat menggebu-gebu. Jika tidak terkendali, bisa berbahaya. Agar terkendali, setiap pertandingan memerlukan aturan yang harus ditaati oleh semua pihak yang terlibat. Menang atau kalah ditentukan berdasarkan aturan itu. Pertandingan dipimpin oleh wasit, dari kata Arab ‘wâsith’ artinya orang yang menengahi, yang diharapkan berlaku adil dan tidak berat sebelah.
Masalahnya adalah, karena masing-masing pihak ingin menang, maka kadangkala ada pihak yang tak segan menabrak aturan dan menghalalkan segala cara. Yang penting menang, dengan cara apapun. Semua kekuatan dikerahkan, baik tenaga, pikiran, uang, hingga kekuatan gaib berupa doa hingga mantra dan sihir. Bagi orang seperti ini, menang-kalah seolah urusan hidup atau mati, to be or not to be.
Jika soal menang-kalah ini hanya menyangkut olahraga seperti sepak bola, tampaknya tidak terlalu bermasalah. Usai pertandingan, beberapa hari kemudian orang akan melupakan. Tetapi bagaimana dengan pertandingan politik seperti pilkada? Tampaknya lebih sulit. Pihak yang menang cenderung melakukan ‘balas dendam’ dan ‘balas jasa’. Pihak yang kalah cenderung tidak menerima kekalahan.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah, budaya menang-kalah itu sudah menyatu dalam hidup kita sehari-hari. Seolah mengikuti teori evolusi Darwin, hanya yang kuat yang akan bertahan. Yang lemah akan tersingkir dan punah. Di era pasar bebas, pengusaha besar memangsa pengusaha kecil. Begitu pula, pendidikan yang baik cenderung mahal, dan anak yang tidak juara kelas, kurang dihargai.
Padahal, salah satu nilai yang dianggap mulia dalam budaya kita adalah mengalah. Mengalah berarti memberikan hak sendiri kepada orang lain yang lebih membutuhkan. Mengalah lahir dari solidaritas atau rasa kebersamaan. Mengalah tumbuh dari semangat ingin berbagi. Mengalah adalah bukti kemampuan berempati, yakni membayangkan diri dalam posisi orang lain yang kurang beruntung.
Alhasil, di luar arena pertandingan, sebenarnya mengalah bukanlah kalah, tetapi memperbanyak pihak yang turut serta menikmati kemenangan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/mujiburrahman-20161107_20161106_224826.jpg)