Meratapi BBM di Akhir Tahun

Sementara itu pihak Pertamina mengklaim, jumlah stok BBM cukup. Kendala yang terjadi adalah pada proses distribusi yang terhambat cuaca.

Editor: BPost Online
BPost Cetak
Ilustrasi 

PREMIUM dalam beberapa hari terakhir, kembali sulit diperoleh di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Banjarmasin. Kalau pun ada, biasanya hanya pagi hingga menjelang siang, setelahnya pelang bertulisan “Premium Habis” dan sejenisnya yang dipampang.

Kondisi ini--berita utama BPost, Jumat (23/12/2016)--menyebabkan SPBU kerap dijejali antrean kendaraan bermotor. Tidak terkecuali para pelangsir bahan bakar minyak (BBM). Bahkan terkadang, tak cuma bensin yang habis, pertalite juga ikut diinformasikan habis.

Sementara itu pihak Pertamina mengklaim, jumlah stok BBM cukup. Kendala yang terjadi adalah pada proses distribusi yang terhambat cuaca. Gubernur Kalimantan Selatan Sahbirin Noor pun bereaksi. Dia menyatakan akan memanggil instansi atau lembaga terkait perihal kelangkaan BBM ini.

Sikap kepala daerah ini jika dibarengi tindak lanjutnya, tentu sangat kita nantikan agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang. Dengan kondisi saat ini, untuk tetap bisa berkendara.

Saat ini, di SPBU harga premium Rp 6.550 per liter. Sedangkan pertalite harganya Rp 6.900 dan pertamax harganya mencapai Rp 7.350 per liter. Gerundelan masyarakat tak terelakkan, termasuk muncul tudingan terhadap pemerintah--dalam hal ini Pertamina--telah berlaku tidak fair. Mereka menuding seretnya bensin akhir-akhir ini, karena jumlah distribusi premium ke Kalsel memang dikurangi. Pengurangan ini akal-akalan Pertamina untuk meningkatkan konsumsi pertalite dan pertamax.

Berdasar data Pertamina, hingga November 2016 distribusi BBM jenis premium ke Kalsel terus mengalami penurunan. Pada Januari distribusi premium sebanyak 44.603 kiloliter, bulan berikutnya Februari turun sebanyak 3.696 kiloliter menjadi 40.907 kiloliter. Pada November hanya didistribusikan 32.426 kiloliter yang berarti turun hingga 12.177 kiloliter atau sebanyak 27 persen sejak Januari.

Jumlah ini berbanding terbalik dengan distribusi pertalite dan pertamax yang pada rentang bulan yang sama mengalami lonjakan kenaikan jumlah distribusi ke Kalsel hingga ratusan persen. Rinciannya, pertalite 261 persen dari 3.446 kiloliter (Januari) menjadi 12.433 kiloliter pada November dan pertamax 174 persen dari 1.704 kiloliter menjadi 4.667 kiloliter.

Kondisi seperti di Kalsel ini, sudah terjadi sejak Agustus lalu di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Barat (Jabar). Sejumlah SPBU di Ciamis dan Kota Banjar mulai tidak menyediakan premium. Sebaliknya, pertalite ketersediaannya mulai menggantikan premium.

Solusi mengendalikan konsumsi BBM subsidi yang terus meroket, tidak dengan menyunat jumlah yang seharusnya menjadi hak rakyat. Pemerintah sesungguhnya bisa mengeluarkan kebijakan kembali melarang mobil mewah atau kendaraan di atas 2.000 cc menggunakan premium.

Saatnyakementerian terkait untuk membuat dan mematangkan payung hukum terkait aturan itu. Bila ini dijalankan efektif, kita yakin tidak hanya mendorong kemajuan perekonomian masyarakat, tapi juga bakal bisa menghemat subsidi triliunan rupiah uang negara. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved