Bukan Berazas Liberal

Andai kata pelaut Portugis yang dipelopori Ferdinand Magelhaens (1480-1521) tidak mendarat di Maluku pada 1519, bisa jadi rakyat Indonesia

Editor: BPost Online
BPost Cetak
Ilustrasi 

ANDAI kata pelaut Portugis yang dipelopori Ferdinand Magelhaens (1480-1521) tidak mendarat di Maluku pada 1519, bisa jadi rakyat Indonesia tidak begitu familiar dengan cabai (Capsicum sp). Mungkin pula, jika pelaut Italia Christophorus Columbus (1451-1506) tidak menemukan Benua Amerika, lalu sampai ke laut Karibia dan membawa pulang biji-biji cabai merah (Capsicum annum) bisa jadi cabai tidak sepopuler sekarang.

Tapi, tentu saja, naratif di atas hanya pengandaian .Faktanya, cabai kini melanglang buana. Hampir di seluruh penjuru dunia ada, termasuk di Indonesia. Tapi, mungkin hanya di Nusantara menghadapi persoalan cabai ini. Bahkan, tak jarang kenaikan harga cabai bisa bikin inflasi meningkat. Hal yang tak masuk akal adalah harga cabai lokal lebih mahal dari cabai impor.

Memang, tingginya harga tumbuhan pedas ini membuat sejumlah daerah membuka peluang masuknya cabai dari luar negeri, meskipun tidak resmi. Seperti di Batam, Provinsi Kepulauaan Riau, cabai dari Malaysia masuk ke sana. Harganya lebih murah, cuma Rp 40 ribu per kilogram. Sementara cabai keriting lokal di sana mencapai Rp 85 ribu. Di Kalimantan Selatan lebih parah lagi, harga cabai mencapai Rp 160 ribu per kilogram. Bahkan di beberapa daerah mencapai harga Rp 200 ribu per kilogram! Harga yang fantastis untuk tanaman yang tergolong pelezat rasa ini.

Di satu sisi, tingginya harga cabai ini menguntungkan petani. Kabarnya, di Cibodas, Jawa Barat, merupakan sentra pertanian cabai merasakan dampak positif. Petani bisa menutup kerugian akibat tanaman lain yang harganya anjlok seperti tomat atau tanaman palawija lainnya. Namun, mahalnya harga cabai di pasaran tidak berpengaruh di Anjir Pasar, Kabupaten Baritokuala. Harga cabai di petani hanya Rp 35 ribu per kilogram. Begitu sampai ke tingkat pedagang, melonjak berkali lipat.

Jika ditinjau dari sisi ekonomi, lonjakan harga cabai bikin inflasi meningkat. Dalam ilmu ekonomi inflasi yang ringan berdampak baik pada perekonomian. Namun, jika inflasi tak terkendali (hiperinflasi), perekonomian menjadi kacau. Memang, kenaikan cabai bukan jadi satu-satunya indikator kenaikan inflasi. Namun, jika terjadi kontinyu dan tak terkendali, sumbangannya untuk hiperinflasi juga besar.

Naiknya harga cabai yang luar biasa juga menimbulkan kekhawatiran. Ujung-ujungnya masyarakat tidak lagi ingin mengonsumsi cabai lokal. Efeknya, cabai impor masuk dan merusak harga pasar. Perdagangan komoditas cabai lokal bakal hancur, kalah dari harga cabai impor yang lebih murah. Sudah banyak kejadian, komunitas lokal dulunya jaya di negeri sendiri, namun belakangan seperti jadi tamu, hanya numpang dijual karena tak laku.

Ingat, bagaimana jayanya usaha perkayuan era 1980-1990-an. Usaha kayu lokal ambruk ketika kayu impor masuk, harga bersaing, bisnis kayu lokal pun hancur lebur. Kini, bawang impor ‘berkuasa’ di pasar-pasar yang datang dari Malaysia dan Thailand. Gula pun sempat mengalami kondisi serupa meski akhirnya bisa dicegah.

Apakah pemerintah tidak belajar dari kejadian-kejadian itu atau malah membiarkannya saja sesuai mekanisme pasar. Negeri kita bukan negeri yang berazaskan liberal yang menekankan pemahaman kebebasan sebebasnya, termausk dalam ekonomi. Negeri kita berazaskan Pancasila yang pada sila kelima menekannya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Harga cabai sangat mahal ini tentu tidak adil. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved