Teladan Generasi Al-Banjari

Itulah bagian awal dari syair yang dikarang dan dibacakan oleh Prof Karel A Steenbrink, ketika saya dinobatkan meraih gelar doktor di Universitas Utre

Editor: BPost Online
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman
Akademisi IAIN Antasari Banjarmasin

Dua ratus tahun telah lari
Sejak Syekh Besar Arsyad al-Banjari
Kembali dari Makkah, ilmu dia mencari
Hari ini hormat kami bagi Syeikh Muda, Mujib al-Banjari

Itulah bagian awal dari syair yang dikarang dan dibacakan oleh Prof Karel A Steenbrink, ketika saya dinobatkan meraih gelar doktor di Universitas Utrecht, Belanda, 15 September 2006 silam. Pak Karel memang pandai menyenangkan hati orang. Dia sangat paham, betapa penting kedudukan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1712-1810) di Nusantara, lebih-lebih di masyarakat Banjar.

Sebagai orang biasa dan bukan keturunan Syekh Arsyad, tentu saja saya merasa tersanjung dengan syair itu. Belakangan, untuk membedakan nama saya dengan banyak orang yang memiliki nama yang sama di media sosial, saya juga menambahkan ‘al-Banjari’ sebagai nama belakang. Entah karena syair Pak Karel itu atau sebab lainnya, rupanya diam-diam saya merasa bangga dengan identitas sebagai orang Banjar.

Kunjungan singkat saya ke beberapa universitas di Thailand Selatan dan Malaysia minggu lalu telah menambah kepercayaan saya bahwa ‘al-Banjari’ itu memang penting. Para ulama dan peneliti Islam di Thailand Selatan segera merasa dekat ketika saya ingatkan tentang hubungan persahabatan Syekh Arsyad dengan Syekh Dawud al-Fattani (1740-1847). Mereka teman seperguruan di Makkah-Madinah.

Di Malaysia, Syekh Arsyad dikenal luas terutama karena karya tulisnya, Sabîl al-Muhtadîn, sebuah kitab fikih mazhab Syafi’i yang terus dipelajari hingga sekarang. Kajian-kajian ilmiah terhadap kitab ini oleh para dosen di sana cukup banyak. Selain itu, citra positif orang Banjar tetap bertahan antara lain berkat peran ustadz Nurdin Marbu al-Banjari yang kini menjadi salah satu ulama yang dihormati di Malaysia.

Jaringan intelektual ulama Nusantara itu, paling tidak sudah tampak mulai akhir abad ke-16, ketika para ulama menggunakan bahasa Melayu atau Jawi untuk dakwah Islam. Dengan menggunakan dan memodifikasi beberapa huruf Arab yang disesuaikan dengan bunyi dalam bahasa Melayu, para ulama itu berbicara dan menulis karya-karya di berbagai bidang ilmu keislaman dalam bentuk puisi dan prosa.

Nama-nama besar era Islam Melayu Nusantara itu antara lain adalah Dawud al-Fattani, Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel, Syamsuddin Pasai, Nuruddin Arraniri, Abdushhamad al-Palimbani, Muhammad Arsyad al-Banjari, Muhammad Nafis al-Banjari, Nawawi al-Bantani dan Yusuf al-Makassari. Karya-karya mereka mencakup bidang tata bahasa Arab, tauhid, fikih, tafsir hingga tasawuf filosofis tingkat tinggi.

Serbuan kolonialisme Barat, perlahan-lahan berhasil menggeser penggunaan huruf Arab-Melayu dan menggantinya dengan huruf latin. Hal ini terjadi di Malaysia dan Indonesia. Sedangkan di Thailand Selatan, karena alasan politik, bahasa Melayu memang dihambat perkembangannya oleh pemerintah. Bahasa Thai menjadi bahasa resmi dan digunakan sebagai bahasa pengantar di sekolah-sekolah.

Namun kitab-kitab Arab-Melayu itu tetap dipelajari orang hingga sekarang, baik di Indonesia, Malaysia ataupun Thailand. Warisan intelektual-spriritual Islam Melayu itu tidak hanya dibaca dan dipahami, tetapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Kitab-kitab itu terus dicetak, dan sebagian tersimpan dalam bentuk manuskrip, sebagai sumber tradisi yang diwarisi dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Daya tahan kitab Arab-Melayu itu menunjukkan bahwa nilai-nilai yang dikandungnya masih menjadi panduan hidup kaum muslim. Di sisi lain, penggunaan Arab-Melayu yang makin terbatas pada karya-karya keagamaan bisa berujung pada pensakralan yang berlebihan. Padahal, kita tidak hanya perlu menyerap nilai-nilai mulia dari kitab itu, tetapi juga mengembangkannya sesuai tuntutan zaman.

Karena itu, jika para ulama terdahulu banyak berkarya, maka sudah sepantasnya generasi sekarang meneladani mereka. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved