Tajuk

Dilema Kuliah Daring

Saat ini penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) enimbulkan pro dan kontra. Terlebih saat ini tak seperti saat pembatasan aktivitas ketika Covid-19

Editor: Irfani Rahman
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki
ERA DIGITAl (FOTO ILUSTRASI)- Kuliah umum bertema “Tantangan dan Peluang Ketatanegaraan dan Kebijakan Publik di Era Digital” digelar di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Rabu (28/5/2025) lalu. Dalam waktu dekat mahasiswa akan melaksanakan kuliah daring satu kali seminggu 

BANJARMASINPOST.CO.ID- DALAM waktu dekat mahasiswa di Indonesia akan kembali melakukan pembelajaran daring. Ini setelah Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) menerbitkan Surat Edaran Nomor 2 Tahun 2026 tentang penyesuaian kegiatan akademik, termasuk penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Meski PJJ atau pembelajaran daring ini hanya satu minggu sekali dan hanya bagi mahasiswa semester lima ke atas, tentunya hal ini menimbulkan pro dan kontra. Terlebih saat ini tak seperti saat pembatasan aktivitas ketika Covid-19.

Alasan pemerintah menetapkan kuliah daring kali ini yakni penghematan energi setelah adanya konflik Timur Tengah yang beimbas ke berbagai sektor kehidupan.

Adanya rencana PJJ ini pun disikapi beragam oleh kalangan kampus. Seperti Politeknik Banjarmasin yang siap melaksanakan meski  tidak semua mata kuliah akan dialihkan ke sistem daring seperti soal praktik di labotarium dan workshop.

Ia menilai, pembelajaran daring juga dapat meningkatkan efisiensi waktu dan kapasitas kelas. Seperti kalau daring, satu sesi bisa diikuti lebih dari satu kelas. Itu lebih efisien dari sisi waktu dan proses belajar.

Meski begitu dari pengalaman mengajar online juga ditemukan beragam kendala seperti akses internet dan kondisi ekonomi mahasiswa.

Rencana pembelajaran daring juga ditanggapi kalangan mahasiswa. Seperti Helda memilih untuk pembelajaran langsung atau tatap muka.

Menurutnya dengan kuliah langsung akan lebih mudah memahami pelajaran. Apalagi jika perlu diskusi lebih dalam maka akan lebih mudah daripada daring.

Menyikapi adanya rencana kuliah daring itu tentunya  pemerintah harus bijak. Harus benar-benar menimbang plus minusnya PJJ ini. Terlebih pendidikan adalah satu sektor yang sangat penting untuk kemajuan bangsa ini ke depannya.

Kota Banjarmasin, Banjarbaru dan lainnya mungkin siap secara infrastruktur, namun mahasiswa di Kalsel berasal dari berbagai pelosok seperti Hulu Sungai, Kotabaru, hingga pedalaman Meratus, tentunya tak sesiap mereka yang tinggal kota besar.

Selain itu kuliah daring tak bisa dipungkiri juga menimbulkan dampak pada ekonomi mikro sekitar kampus. Dimana kampus-kampus besar seperti ULM atau Poliban adalah penggerak ekonomi warga sekitar dengan adanya warung makan, fotokopi dan lainnya.

Dampak-dampak ini tentu tidak boleh disepelekan. Kekhawatiran banyak pihak terkait terjadinya learning loss atau penurunan capaian akademik juga perlu diwaspadai,  akibat praktikum/materi yang tidak tersampaikan maksimal. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved