Kolom

Bumi Mengusir Tuannya, Babak Terakhir Manusia

270 KK warga Desa Jono Kalora menempuh perjalanan 5 kilometer demi satu jeriken air, di kota besar seperti Banjarmasin, keran air masih mengalir

Editor: Irfani Rahman
Istimewa
Benny Wijaya, General Manager Novotel Banjarmasin Airport 

Benny Wijaya

General Manager Novotel Banjarmasin Airport

BANJARMASINPOST.CO.ID- SAAT 270 KK warga Desa Jono Kalora menempuh perjalanan 5 kilometer demi satu jeriken air, di kota besar seperti Banjarmasin, keran air masih mengalir tanpa henti. Namun, berapa lama akan bertahan?

Air bersih mungkin akan menjadi sumber daya alam yang akan diperebutkan banyak pihak nantinya. Data terbaru dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di tahun 2025 menunjukkan bahwa dua pertiga sungai di dunia terdampak kondisi kekeringan dan banjir.

Diperkirakan jumlah penduduk yang kekurangan akses air bersih akan meningkat dari 3,6 miliar menjadi lebih dari 5 miliar pada tahun 2050. Istilah peringatan paling tajam akan dampak krisis air ini adalah kekeringan hari nol (day zero) yaitu saat keran air tidak lagi meneteskan air.

Krisis air ini bahkan sudah dimulai saat ini dan akan semakin memburuk di tahun 2030, salah satu daerah yang telah mengalami hal ini adalah Desa Jono Kalora, Kecamatan Parigi Barat, Sulawesi Tengah yang sejak Januari 2026 telah dilanda kekeringan dan berdampak pada kelangkaan air bersih yang menimpa 270 Kepala Keluarga.

Krisis pangan akibat degradasi lahan dan ketidakstabilan iklim akan mulai terasa dampaknya dari tahun 2026 dengan ditandai juga oleh bencana hidrometeorologi (bencana akibat perubahan iklim dan cuaca).

BMKG memprediksi bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dari biasanya yang tentunya bakal berakibat serius ke produksi lahan pertanian dan perkebunan.

Menurut data Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, angka deforestasi hutan di Indonesia pada tahun 2024 tercatat mencapai 175,4 ribu hektare (ha), angka ini menunjukkan tren kenaikan bila dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Masih segar berita yang ditayangkan oleh berbagai media nasional tentang dahsyatnya banjir yang menimpa Sumatera di penghujung tahun 2025 dengan rekaman yang menunjukkan gelondongan kayu yang terbawa air sehingga menimbulkan banyak korban jiwa dan juga ribuan pengungsi.

Krisis lingkungan merupakan fakta yang tidak dapat dibantah dan sudah menyentuh kehidupan manusia sehari-hari. Terlepas dari peperangan serta krisis energi dan ekonomi yang menjadi topik utama berita belakangan ini, dampak dari krisis lingkungan ini tidak bisa dipandang sebelah mata dan berdasarkan laporan dari IPBES (Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services) sekitar 75 persen lingkungan darat dan 66 persen lingkungan laut telah mengalami perubahan secara signifikan karena aktivitas manusia.

Laporan ini menunjukkan adanya ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati yang menjadi penopang kehidupan manusia termasuk ketersediaan air bersih dan ketahanan pangan.

Selain dari bencana yang kasat mata tersebut, Indonesia saat ini juga sedang menghadapi darurat mikroplastik yang sulit untuk terlihat oleh mata telanjang (ukuran mikroplastik 0,3 mm hingga 5 mm, bahkan small microplastics ukurannya kurang dari 1mm).

Hasil penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dilakukan sejak tahun 2022 mengungkap bahwa air hujan di Jakarta mengandung partikel mikroplastik berbahaya yang berasal dari aktivitas manusia di perkotaan.

Mikroplastik ini terangkat ke udara akibat dari aktivitas pembakaran sampah, aktivitas industri, debu jalanan yang terbawa angin dan turun kembali di saat hujan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved