Kolom

Bumi Mengusir Tuannya, Babak Terakhir Manusia

270 KK warga Desa Jono Kalora menempuh perjalanan 5 kilometer demi satu jeriken air, di kota besar seperti Banjarmasin, keran air masih mengalir

Editor: Irfani Rahman
Istimewa
Benny Wijaya, General Manager Novotel Banjarmasin Airport 

Keberadaaan plastik bagaikan pedang bermata dua, ditemukan oleh Parkes (1862) dan disempurnakan oleh Leo Baekeland (1907) untuk memudahkan kehidupan manusia dengan berbagai kegunaannya.

Namun, plastik kini menjelma menjadi momok bagi kehidupan manusia karena sifatnya yang sulit terurai dan pemakaian plastik yang tidak terkendali.

Secara global, hanya 9 persen dari 380 juta ton yang diproduksi per tahun yang didaur ulang, sisanya berakhir di tempat pembuangan sampah, sungai, daratan, laut bahkan kembali ke tubuh manusia dalam bentuk mikroplastik yang tercampur di udara dan makanan, seperti hasil temuan dari penelitian BRIN yang telah terjadi di Jakarta.

Kesadaran lingkungan yang berdampak saat ini seharusnya bukan hanya slogan belaka, tetapi seyogyanya menjadi kebutuhan manusia untuk kelangsungan hidupnya sendiri.

Bagi dunia usaha, program ramah lingkungan sudah menjadi suatu strategi bisnis dan kebutuhan operasionalnya yang tentunya dapat diterapkan secara bertahap serta disesuaikan dengan skala usaha, mulai dari implementasi yang paling sederhana yakni eliminasi penggunaan plastik sekali pakai hingga yang lebih kompleks, penggunaan solar untuk kebutuhan energi.

Di tengah gambaran suram diatas, masih ada upaya-upaya nyata yang patut diapresiasi, seperti apa yang dilakukan oleh Novotel Banjarmasin Airport yang berkomitmen untuk menjadi hotel yang berwawasan lingkungan. Salah satu program simbolisnya adalah turut mengikuti program Earth Hour yang diperingati di tanggal 28 Maret 2026 dimana hotel mematikan lampu lobi selama 1 jam.

Dari data yang didapat dari hotel, Novotel sejak tahun 2024 secara konsisten menjalankan program no single use plastic dimana yang paling berdampak adalah berkurangnya pemakaian botol air minum dalam kemasan.

Hotel menghemat pemakaian 5.000 botol per bulannya dan digantikan dengan instalasi dispenser air minum sehingga mengurangi sampah plastik namun kegiatan operasional tetap dapat berjalan dengan baik.

Meningkatnya kesadaran tamu hotel yang berkunjung akan pelestarian lingkungan juga mendukung keberhasilan program ini. Pemakaian energi seperti listrik, air dan gas juga dimonitor secara ketat menggunakan platform energy tracking GAIA dengan target pengurangan pemakaian air hingga -3 persen dibandingkan tahun sebelumnya untuk memastikan konsumsi sumber daya alam yang bertanggung jawab.

Kesadaran lingkungan bukan lagi slogan atau pilihan. Ini adalah kewajiban. Sebab, jika kita terus menunda, nasib yang menimpa 270 KK di Jono Kalora—berjalan 5 kilometer demi seteguk air—bukan tidak mungkin akan menjadi kisah kita semua. Pertanyaannya bukan lagi apakah kita mampu, tetapi kapan kita mau memulai. Sebelum keran di rumah kita sendiri ikut mengering. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved