Tajuk

Belajar dari Timnas Futsal

Saat ini Mungkin tidak berlebihan jika disebut Tim nasional (Timnas) sepak bola Indonesia harus belajar dengan "adiknya" Timnas Futsal.

Editor: Irfani Rahman
X Alessandro Bastoni
DEBUT TIMNAS FUTSAL - M Iman Anshori menjalani debut di Timnas Futsal Indoensia saat menghadapi Brunei Darussalam di ajang Piala AFF Futsal 2026 foto dari FFI pada 7 April 2026. Link Live Streaming Timnas Futsal Indonesia vs Malaysia di Piala AFF Futsal 2026 sore hari ini Selasa TV Online RCTIPlus ini mulai pukul 15.00 WIB 

BANJARMASINPOST.CO.ID- Mungkin tidak berlebihan jika disebut Tim nasional (Timnas) sepak bola Indonesia harus belajar dengan "adiknya" Timnas Futsal.

Sepak bola sering disebut sebagai "kakak kandung" futsal di Indonesia karena popularitasnya. Namun secara prestasi, sang adik jauh lebih dewasa.

Futsal membuktikan bahwa dengan pembinaan yang berjenjang, pembatasan pemain asing yang tepat, dan kepercayaan penuh pada talenta lokal, Indonesia bisa berbicara di level elit dunia.

Sederet prestasi, mulai Juara AFF Futsal Championship pada 2010 dan 2024, Medali Emas SEA Games yang Bersejarah baru-baru tadi, dan runner up AFC Futsal Asian Cup 2025 di Jakarta.

Kemudian kemarin kemenangan 7-0 atas Brunei Darussalam di laga pembuka dan 1-0 vs Malaysia di laga kedua Piala AFF Futsal 2026 sebagai juara bertahan di Bangkok.

Lebih membanggakan lagi Timnas Futsal kini berada di Peringkat 24 Dunia FIFA hingga April 2026.

Jika sepak bola kita ingin bangkit, berhentilah mencari jalan pintas dan mulailah belajar bagaimana futsal mengelola mimpi.

Indonesia tidak kekurangan bakat, kita hanya kekurangan keberanian untuk mempercayai bakat tersebut.

Bandingkan dengan sepak bola (lapangan besar) yang masih berjuang keras menembus peringkat 100 besar dunia, meski telah mendapat guyuran investasi besar-besaran dan gelombang naturalisasi yang tak henti-hentinya.

Pertanyaannya apa yang dilakukan futsal dengan benar, tapi gagal dilakukan sepak bola? salah satunya mungkin adanya perbedaan filosofis yang sangat mencolok antara Federasi Futsal Indonesia (FFI) dan pengelolaan sepak bola kita.

Di bawah asuhan Hector Souto, Timnas Futsal menunjukkan keberanian luar biasa dalam melakukan regenerasi. Nama-nama seperti Muhammad Sanjaya, Iman Anshori, Dewa Rizki, hingga Andarias Kareth adalah bukti bahwa "potong generasi" bukan sekadar mitos.

Mereka berani menurunkan pemain muda di ajang internasional dan hasilnya adalah prestasi. Sebaliknya, di sepak bola, kita sering melihat muka-muka lama yang dipaksakan atau pemain yang itu-itu saja, seolah-olah kita krisis talenta di negeri berpenduduk 270 juta ini.

Fakta yang paling menohok adalah Timnas Futsal peringkat 24 dunia tanpa pemain naturalisasi. Mereka mengandalkan 100 persen bakat murni dari Sabang sampai Merauke.

Hal ini membuktikan bahwa sistem pembinaan domestik futsal berjalan dengan benar. Sementara itu, Timnas sepak bola kita kini hampir didominasi oleh pemain naturalisasi.

Walaupun naturalisasi adalah hal yang legal dalam regulasi FIFA, ketergantungan yang terlalu tinggi menunjukkan kegagalan kita dalam memproduksi pemain lokal yang kompetitif.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved