Bergandeng Tangan Menghadapi Bencana
HINGGA pertengahan Februari 2017, intensitas hujan diperkiran masih terbilang tinggi untuk sejumlah kawasan di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan
HINGGA pertengahan Februari 2017, intensitas hujan diperkiran masih terbilang tinggi untuk sejumlah kawasan di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan (Kalsel). Secara teknis, puncak musim hujan akan ada beberapa dampak ikutan.
Di kawasan tertentu di Kalsel, badai masih menjadi ancaman dan petir masih menyambar. Puting beliung mungkin terjadi, meski biasanya angin membahayakan ini terjadi saat musim pancaroba. Jikalau pun bukan angin puting beliung, musim hujan juga biasanya disertai meningkatnya kecepatan embusan angin, yang bisa membahayakan bangunan tower, pohon perindang dan sebagainya.
Saat ini, tidak ada cara yang lebih efektif untuk mengantisipasi sejumlah bencana yang bisa memakan korban jiwa dan harta benda itu, kecuali waspada. Untuk membuat langkah teknis, tentu tidak cukup waktu.
Waspada tidak sekadar memahami tanda-tanda alam munculnya bahaya sehingga bisa cepat menyelamatkan diri, tapi waspada juga dalam makna memahami cara-cara menyelamatkan diri saat menghadapi bencana.
Karena itu, di masa puncak musim hujan ini, kita perlu sangat gencar memberi informasi pada warga, tentang tata cara mengevakuasi diri saat bencana datang. Seluruh kekuatan sosial dan politik, utamanya di kawasan-kawasan rawan bencana, harus bahu membahu memberikan penyadaran secara singkat soal tanggap bencana itu.
Upaya memberikan pemahaman terhadap warga akan arti penting mitigasi bencana itu, tentu harus dilanjutkan meski puncak musim hujan telah pergi pada akhir Februari mendatang. Sebab, setelah hujan reda dan kemaru mulai menaungi Banua, bencana tahunan bernama ‘kebakaran’ (untuk tidak menyebut pembakaran) lahan dan hutan’, masih menjadi ancaman.
Apalagi, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), cuaca pada 2017 ini lebih kering. Kondisi itu mirip pada 2015, di saat sebanyak 2,089 juta hektare hutan dan lahan di Indonesia terbakar, dengan kerugian mencapai Rp 220 triliun.
Karena itu, penyiapan masyarakat di Kalsel menghadapi kemungkinan terbakarnya lahan dan hutan, haruslah sudah dimulai dari sekarang. Semua komponen masyarakat, haruslah mulai bersiap untuk melakukan upaya meminimalisasi terbakarnya lahan dan hutan di wilayah ini.
Untuk itu, saat ini perlu seorang dirigen yang mampu menggerakkan semua komponen untuk mewaspadai terbakarnya hutan dan lahan, sekaligus mengingatkan pada warga untuk tidak melakukan tindakan yang bisa membakar (terbakarnya) hutan dan lahan.
Peran dirigen itu bisa diambil oleh bupati, wali kota atau gubernur. Dan hanya kepala daerah yang punya visi lingkungan yang baik, yang akan mampu memimpin gerakan melawan penyebab dan ‘aksi’ terbakarnya lahan dan hutan.
Mari bergandengan tangan menghadapi bencana. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/tajuk-besar-new_20161014_224050.jpg)