Berita dari Jerman
Setelah menamatkan SD Islam Sabilal Muhtadin, SMP Islam Terpadu Ukhuwah, SMAN Banua Kalsel BBS, cita-citanya sekolah ke Jerman rupanya kesampaian.
Oleh: KH Husin Naparin
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Provinsi Kalsel
Dapat salam, Assalamu’alaikum kai guru, ulun Rayyan, Alhamdulillah semalam sudah mendarat di Berlin (11 Januari 2017). Inilah pesan WA yang penulis terima dari Muhammad Arrayyaan, anak pertama dari Makiatu Bustami dan Sri Heriyani.
Setelah menamatkan SD Islam Sabilal Muhtadin, SMP Islam Terpadu Ukhuwah, SMAN Banua Kalsel BBS, cita-citanya sekolah ke Jerman rupanya kesampaian. Alasannya, Indonesia butuh insinyur-insinyur berkualitas sehingga bisa berdiri sendiri dan tidak tergantung dari negara lain.
Dalam bidang keteknikan, Jerman adalah satu negara yang terbaik. Dia juga terinspirasi Bapak BJ Habibie. Pilihanya bisa jadi teknik penerbangan atau teknik sipil. Dalam bidang penerbangan, Jerman adalah satu yang terbaik, perusahaan Boeing ada di Jerman.
Indonesia sebagai negara kepulauan sangat memerlukan transportasi yang bisa memudahkan mobilitas warganya, sehingga transportasi antarpulau dan antarkota bisa jauh lebih cepat dan efisien; atau bisa jadi pilihannya jatuh pada bidang teknik sipil atau pengairan seperti waduk, irigasi, sungai, dan lain sebagainya.
Di Jerman hal-hal seperti itu dapat dipelajari secara baik. Semua itu akan sangat berguna, karena itu adalah kebutuhan dasar masyarakat. Di sisi lain budaya hidup orang Jerman ada banyak yang bisa dicontoh, seperti budaya disiplin, kerja keras dan bertanggung jawab.
Republik Federal Jerman (bahasa Jerman: Bundesrepublik Deutschland) adalah suatu negara berbentuk federasi di Eropa Barat. Negara ini memiliki posisi ekonomi dan politik yang sangat penting di Eropa maupun di dunia. Dengan luas 357.021 kilometer persegi (kira-kira dua setengah kali pulau Jawa) dan penduduk sekitar 82 juta jiwa, negara dengan 16 negara bagian (Bundesland, jamak: Bundesländer) ini menjadi anggota kunci organisasi Uni Eropa (penduduk terbanyak), penghubung transportasi barang dan jasa antarnegara sekawasan dan menjadi negara dengan penduduk imigran ketiga terbesar di dunia.
Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak yang mengira warganya hidup foya-foya. Ada seorang Indonesia pergi ke Jerman. Di Hamburg, bersama rekan-rekannya, dia masuk restoran; terlihat banyak meja yang kosong. Ada satu meja dimana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada dua piring makanan dan dua kaleng minuman di meja mereka.
Dia bertanya di dalam hati, “Apa hidangan yang begitu simple ini bisa disebut romantis?” Juga tampak ada beberapa perempuan tua di meja lainnya. Ketika makanan dihidangkan, pelayan membagi makanan dan mereka menghabiskan setiap butir makanan yang ada di piring mereka. Rombongan orang Indonesia itu memesan lebih banyak makanan.
Saat selesai, tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat mereka habiskan di meja. Begitu mereka hendak meninggalkan restoran, perempuan tua yang duduk di meja sebelah menegur mereka dalam bahasa Inggris, menyatakan bahwa mereka tidak senang karena memubazirkan makanan.
Seorang dari rombongan orang Indonesia tersebut menjawab teguran itu: “Lho kami yang membayar kok, ini bukan urusan kalian jika makanan kami tersisa...”. Mendadak perempuan tua itu dan temannya meradang. Salah satunya segera mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang. Tak lama kemudian seorang lelaki berseragam yakni Sekuritas Sosial negeri itu tiba. Setelah mendengar sumber masalah pertengkaran, dia menerbitkan surat denda Euro 50 kepada rombongan itu tadi.
Mereka terdiam. Petugas tersebut lalu berkata dengan suara galak, “Pesanlah makanan yang sanggup Anda makan, uang itu milikmu tapi sumber daya alam ini milik bersama (money is yours but resources belong to the society); ada banyak orang lain di dunia yang kekurangan. kalian tidak punya alasan untuk menyia-nyiakan sumber daya alam tersebut”.
Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tersebut, membuat rombongan orang Indonesia itu merasa malu. Bayangkan, mereka yang berasal dari negara yang tidak makmur amat, hidup dengan gengsi, dan pesan makanan berlebihan.
Di Indonesia, kita sering melihat ketika di pesta pernikahan misalnya, orang-orang mengambil makanan, tapi tidak menghabiskan, lalu menyisakannya begitu saja. Mengapa tak mengambil makanan itu secukupnya?
Betul, money is yours but resources belong to the society. Mari enyahkan mubazir. Agama Islam sudah lebih dahulu dari mereka mengajarkan kita agar tidak berlebihan dalam membelanjakan sesuatu alias mubazir, dikatakan bahwa orang mubazir adalah teman setan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/husin-naparin_20160418_121916.jpg)