Cerpen Banjarmasin Post
Sepotong Senja
Hari-harinya selain berurusan dengan rumah sakit, tentu saja di atas kursi goyang sambil menikmati senja.
Oleh: RIFAN NAZHIF
BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejak Piah---meskipun pada awalnya aku menolak mentah-mentah hasil diagnosa dokter Brutus—mengidap penyakit leukimia, hidupnya seolah tercerabut dari jasad.
Hari-harinya selain berurusan dengan rumah sakit, tentu saja di atas kursi goyang sambil menikmati senja.
Entah apa yang membuatnya sampai mencintai senja itu. Bahkan bujuk-rayu untuk makan bubur atau minum obat, harus selalu menghadap senja. Padahal dia butuh istirahat nyaman, di atas kasur bersamaku.
Kasur yang selalu dingin, setelah dia memilih kursi goyang dan senja keparat itu.
Pernah suatu kali aku mengajaknya jalan-jalan, ke taman misalnya, atau ke pinggir sungai. Anak-anak juga ingin memboyongnya, berpesiar dengan pesawat terbang, ke tempat-tempat yang belum pernah dia singgahi.
Jawabannya hanya tatap memelas sambil bertanya; apakah dia boleh membawa senja?
Aku kesal. Aku yakin ini gara-gara, ah..siapa nama pengarang itu? Ya, ya. SGA. Istriku, entah berapa kali mengulang-ngulang membaca cerpen karya lelaki itu. Terutama yang beraroma senja.
Dan, ketika buku berjudul Sepotong Senja terbit, dialah orang pertama yang langsung memesan dari pengarangnya, plus dibubuhi tanda tangan bertinta emas di bagian sampul belakang.
Sial! Awalnya aku berpikir itu wajar saja. Tidak ada yang salah dengan cerpen dan kebiasaan membaca. Tapi kalau membaca cerpen lelaki itu, berulang dan terus berulang, apakah aku salah mencurigainya?
Bisa saja istriku tidak hanya menyukai cerpen, tapi sekaligus terobsesi untuk mendapat cinta lelaki pengarang itu. Huh!
Untung saja setelah Piah melahirkan anak yang pertama, menyusul yang kedua, karya pengarang itu akhirnya hanya mengisi rak buku.
Terhimpit oleh buku-buku nonfiksi, hingga berdebu. Kesibukan mengurus anak-anak telah menyita waktunya.
Lalu, seperti kataku semula, penyakit leukimia itu tiba-tiba mengembalikannya ke muasal, dengan tidak membaca karya lelaki itu, melainkan masuk ke dalam cerita. Menjadi pelakon perempuan yang hidup menghadap senja, dan kema....
Ah, tidak! Tidak boleh dia mati sedemikian cepat. Dia harus kuat. Penyakit hanya musabab seseorang mati beraktivitas, sedangkan jasad, jiwa dan akal masih hidup.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/cerpen-banjarmasin-post-edisi-12-maret-2017_20170312_180245.jpg)