Cerpen Banjarmasin Post

Sepotong Senja

Hari-harinya selain berurusan dengan rumah sakit, tentu saja di atas kursi goyang sambil menikmati senja.

Sepotong Senja
Banjarmasin Post
Cerpen Banjarmasin Post edisi 12 Maret 2017 

Oleh: RIFAN NAZHIF

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejak Piah---meskipun pada awalnya aku menolak mentah-mentah hasil diagnosa dokter Brutus—mengidap penyakit leukimia, hidupnya seolah tercerabut dari jasad.

Hari-harinya selain berurusan dengan rumah sakit, tentu saja di atas kursi goyang sambil menikmati senja.

Entah apa yang membuatnya sampai mencintai senja itu. Bahkan bujuk-rayu untuk makan bubur atau minum obat, harus selalu menghadap senja. Padahal dia butuh istirahat nyaman, di atas kasur bersamaku.

Kasur yang selalu dingin, setelah dia memilih kursi goyang dan senja keparat itu.

Pernah suatu kali aku mengajaknya jalan-jalan, ke taman misalnya, atau ke pinggir sungai. Anak-anak juga ingin memboyongnya, berpesiar dengan pesawat terbang, ke tempat-tempat yang belum pernah dia singgahi.

Jawabannya hanya tatap memelas sambil bertanya; apakah dia boleh membawa senja?

Aku kesal. Aku yakin ini gara-gara, ah..siapa nama pengarang itu? Ya, ya. SGA. Istriku, entah berapa kali mengulang-ngulang membaca cerpen karya lelaki itu. Terutama yang beraroma senja.

Dan, ketika buku berjudul Sepotong Senja terbit, dialah orang pertama yang langsung memesan dari pengarangnya, plus dibubuhi tanda tangan bertinta emas di bagian sampul belakang.

Sial! Awalnya aku berpikir itu wajar saja. Tidak ada yang salah dengan cerpen dan kebiasaan membaca. Tapi kalau membaca cerpen lelaki itu, berulang dan terus berulang, apakah aku salah mencurigainya?

Halaman
1234
Editor: Yamani Ramlan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved