Cerpen Banjarmasin Post

Sepotong Senja

Hari-harinya selain berurusan dengan rumah sakit, tentu saja di atas kursi goyang sambil menikmati senja.

Tayang:
Editor: Yamani Ramlan
Banjarmasin Post
Cerpen Banjarmasin Post edisi 12 Maret 2017 

Mati adalah ujung gelap, yang siapapun tidak bisa menebak, bahkan oleh seorang dokter hebat sekalipun.

“Cucu kita mau ulang tahun,” kataku. Dia menatapku. Sayu. Kerut dahinya tidak sesuai dengan usianya yang baru menginjak lima puluh tiga tahun.

“Cucu yang mana?”

“Pio, anak sulung Murtandi.”

Aku menyuapkan bubur ke mulutnya. Belakangan ini dia mulai malas makan kalau tidak kusuapi.

Kami lebih sering berlama-lama menikmati senja, dan dia berkata merasa kembali muda.

Muda yang olehku terlihat layu laksana daun kering yang siap dirontokkan.

“Boleh aku membawa senja?”

Permintaan yang menohok ulu hati. Aku ingin menolak permintaannya, hanya saja aku takut dia akan menolak permintaanku.

Sebagai jawaban untuk memuaskannya, aku mengangguk.

Sebelum kami berangkat ke rumah Murtandi, aku mengambil pisau carter.

Aku menyayat senja itu seolah memotong senja yang dilakukan Sukab, tokoh si pengarang itu. Tapi aku tidak bisa melakukan seperti dia, mengantongi senja.

Aku hanya bisa menggulung, dan mencoba memasukkannya ke dalam tas.

“Biarlah digulung saja. Jangan dimasukkan ke dalam tas. Nanti kusut. Kau tidak pernah mendengar cerita tentang senja yang kusut, kan!” Gulungan senja itu dia pegang hingga di rumah Murtandi.

Aku mengira dia akan melupakan senja, karena begitu ramai tamu anak-anak di rumah Murtandi. Ternyata perkiraanku melenceng.

“Aku ingin melihat ke luar jendela dan memandang senja. Kau pasangkan senjaku!” katanya seolah menarikku dari kerumunan anak-anak yang bernyanyi riang.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved