Banjarmasin Post Edisi Cetak

Kisah Tanggui, Caping Khas Banjar dan Nasib Para Pembuatnya Kini

Sejumlah perempuan pedagang mengenakan penutup kepala yang terbuat dari daun nipah kering berbentuk setengah lingkaran tampak di pasar terapung Lokbai

Kisah Tanggui, Caping Khas Banjar dan Nasib Para Pembuatnya Kini

“Bahannya yaitu daun nipah sebenarnya masih banyak tersedia. Namun saya hanya dapat membeli dua ikat daun nipah. Saya hanya sanggup membuat 10 buah sehari,” ujarnya.

Bahan dibeli dari pemasok yang mengumpulkan daun nipah di Pulau Kembang, Sungai Barito.

Seikat harganya Rp 5.000. Kadang hanya uang sebesar itu yang bisa disisihkan Sariyah setiap hari.

“Seikat nipah bisa untuk membuat 5-6 bakal tanggui. Kemudian saya jual per buahnya Rp 2.000,” ujar Sariyah.

Jika terjual enam tanggui, berarti dia mendapat hasil penjualan Rp 12 ribu. Setelah dipotong modal Rp 5.000, maka keuntungan Rp 7.000 dicukup-cukupkan untuk makan keluarga.

“Kami di sini hanya membuat setengah jadi, karena kalau ingin membuat tanggui yang jadi dan siap pakai, perlu modal tambahan hingga Rp 500 ribu untuk beli latung,” paparnya.

Latung adalah semacam rotan, fungsinya mengikat tepi keliling tanggui. Seandainya produk Sariyah dan warga lainnya adalah berupa tanggui jadi, harga jual ke pengumpul bisa sampai Rp 20 ribu untuk model standar.
“Bahkan tanggui jadi yang diberi hiasan, harganya bisa sampai Rp 30 ribu. Keuntungan juga lebih bisa diharapkan,” ungkap Sariyah yang tidak tahu harus bagaimana caranya mendapat modal.

Bantuan pemerintah tidak pernah ia rasakan. Demikian pula pembinaan hampir tidak ada. Selama ini mereka hanya disuruh ikut pameran atau lomba kerajinan.

“Sebenarnya pembeli tanggui itu banyak. Selalu ada setiap hari karena dijual ke seluruh banua anam. Jadi harapan kami, ada perhatian yang lebih serius dari pemerintah. Selama ini kami bekerja perorangan, kalau ada pesanan besar, misal 200 tanggui, barulah kami berkelompok supaya cukup patungan modal,” tandasnya.

Hal sama dirasakan Halimah (40) yang menjadi perajin tanggui untuk membantu ekonomi keluarga. “Sebenarnya keuntungan didapat tidak memadai untuk beli kebutuhan dapur. Tapi ya, syukuri saja, asal bisa beli ikan untuk lauk sehari-hari,” katanya.

Halaman
123
Editor: Ernawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved