Health Info

Ini Dia Pola Asuh Tepat Bagi Si Kecil yang Sensitif

Tak lama kemudian ia menangis. Apakah Ibu sering mendapati si kecil seperti itui? Bisa jadi si kecil memang perasa atau sensitif.

Editor: Didik Triomarsidi

BANJARMASINPOST.CO.ID - Saat sedang asik makan, tiba-tiba makanan yang dipegang oleh si kecil terjatuh tanpa sengaja.

Tak lama kemudian ia menangis. Apakah Ibu sering mendapati si kecil seperti itui? Bisa jadi si kecil memang perasa atau sensitif.

Jika ada sedikit kejadian saja yang membuatnya tersentak, maka ia langsung menangis. Elaine Aron, PhD, seorang psikolog sekaligus penulis buku The Highly Sensitive Person mengungkapkan anak yang sensitif merupakan anak yang lahir dengan sistem saraf yang sangat sadar dan cepat bereaksi terhadap segalanya. Lantas seperti apa pola asuh yang tepat bagi anak yang sensitif?

Menurut Elaine, anak-anak ini sangat responsif terhadap lingkungan baik dari segi pencahayaan, suara, bau atau suasana hati orang-orang di sekeliling mereka. Anak yang sensitif juga punya banyak kelebihan.

”Dengan kesadaran yang tajam, anak sensitif berbakat secara intelektual, kreatif, dan dapat menunjukkan empati serta belas kasih tulus pada usia dini,” ujarnya.

Namun, Ibu akan menghadapi tantangan lain misalnya si kecil sulit menghadapi perubahan di sekitarnya termasuk emosi orang lain.

Yang jelas, Ibu perlu kesabaran ekstra saat menghadapi anak yang sensitif. Anak sensitif berarti perlu lebih banyak belajar mengelola emosi.

“Sebagian anak memang belum mengetahui caranya mengatasi gejolak emosi. Ketika mereka kesal akan sesuatu, semua emosi akan naik ke permukaan dan akhirnya dilampiaskan dengan menangis,” ujar Michele Borba, Ed.D., dalam bukunya Big Parenting Solutions.

Jadi, jangan memberinya lebih banyak tekanan dengan kekesalan kita terhadapnya, karena mereka sudah terbebani dengan perasaan mereka sendiri. Ibu justru perlu menjadi teman bagi mereka.

Lalu apa yang perlu Ibu lakukan ketika anak menangis? Jangan marah atau menyuruhnya berhenti menangis.

Menurut Linda Dunlap, Ph.D., seorang profesor psikologi di Marist College, New York, anak yang sensitif akan dengan mudah membaca emosi orangtua mereka.

Jika Ibu marah atau dikuasai emosi negatif, maka emosi anak akan semakin bergejolak. Justru Ibu perlu membantunya menenangkan emosi dengan ikut tenang.

“Ajak anak mengatur napas dan tenang sejenak untuk membantunya melewati situasi sulit,” ujarnya.

Selain itu, Ibu jangan berfokus pada kekurangan anak sensitif. Justru, Ibu bisa mengalihkan sensitivitasnya dengan hal yang positif.

Anak yang sensitif cenderung lebih peka terhadap lingkungn sekitar. Ajak si kecil bereksplorasi sambil melihat apa yang ada di sekitarnya.

Asah kreativitas dengan kegiatan menyenangkan seperti bermain di taman. Ajak anak untuk bertemu dengan banyak orang agar ia terlatih berhadapan dengan berbagai situasi dan mampu mengendalikan situasi tersebut.

Sumber: Nakita
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved