Keluhan Jokowi

Untuk berinvetasi Raja Salman tentu menghitung untung ruginya. Urusan duit tidak ada sahabat, yang ada partner. Apakah Indonesia

Editor: Dheny Irwan Saputra
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

DALAM waktu kurang dari tiga bulan Presiden Joko Widodo bertemu lagi dengan Raja Salman bin Abdulaziz dari Arab Saudi di Riyadh. Pertemuan ini dalam kaitan dengan acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Islam-Amerika. Ini mengingatkan pertemuan kedua tokoh saat kunjungan Raja Salman ke Indonesia Maret 2017 bersama 1.500 anggota rombongan. Saat itu Presiden Joko Widodo memberikan sambutan luar biasa kepada tamunya.

Meski KTT tidak ada hubungan dengan investasi, apa yang ada dalam pikiran Jokowi pasti tak lepas dari urusan mencari investor. Sebab banyak negara Islam kaya minyak. Saat berkunjung ke Indonesia Raja Salman juga menanam invetasi tapi “hanya” Rp 89 triliun. Faktor itulah yang membuat Jokowi mengeluh karena dalam kunjungan yang sama ke Cina sepulang dari Indonesia, Raja Salman meninggalkan uangnya untuk investasi Rp 870 triliun. Jokowi benar-benar terpukul.

“Saya sudah berusaha menerima dengan penghormatan maksimal, sampai-sampai hujan pun saya payungi sendiri demi menghormati tamu, di istana juga saya supiri sendiri,” kata Jokowi mengenang kunjungan Raja Salman. Ucapan ini sangat spontan, seperti anak kecil merajuk karena tidak mendapat bagian kue yang sama dari ibunya. Jokowi curhat tapi untuk kepentingan rakyat.

Indonesia memang butuh dana sangat besar untuk membangun infrastruktur yang kini lagi digencarkan di mana-mana. Jalan tol, bandara, pelabuhan, waduk dll kini dibangun di berbagai tempat. Hasilnya juga sudah mulai kelihatan.

Jalan tol akses Tanjung Priok yang terbilang paling bermasalah kini telah selesai. Dibangun sejak tahun 2008, jalan sepajang 11,4 kilometer ini menghabiskan biaya Rp 5 triliun. Sebanyak 23.000 truk kontainer akan melewati jalan ini setiap hari sehingga bisa mengurangi kepadatan sampai 30 persen. Tol ini terbilang paling bermasalah karena saat akan dilanjutkan, setelah beberapa saat macet, harus merobohkan 96 tiang karena tidak memenuhi syarat teknis. Targetnya hanya tiga tahun, realisasinya sampai 9 tahun.

Dalam sejarah baru kali ini pula pelabuhan terbesar di Indonesia, Tanjung Priok, disandari kapal terbesar yang pernah merapat di Indonesia, yakni kapal raksasa berukuran 8.500 TEU (Twenty-foot Equivalent Unit), satuan kapasitas kargo yang sering digunakan untuk mendiskripsikan kapal dan terminal peti kemas. Peti kemas 45-foot atau 13,7 meter sama dengan dua TEU (Wikipedia).

Upaya untuk menggaet investor asing terus dilakukan, termasuk mengundang pemilik modal dari Timur Tengah. Arab Saudi yang kaya raya berkat minyak diharapkan juga bisa menanam modal cukup besar. Tapi apa daya sebagai sahabat Indonesia hanya dihibur dengan kuota haji yang dikembalikan menjadi 250.000 orang. Sebelumnya dipangkas 160.000 orang saja karena ada proyek perluasan Masjidil Haram.

***

Untuk berinvetasi Raja Salman tentu menghitung untung ruginya. Urusan duit tidak ada sahabat, yang ada partner. Apakah Indonesia sudah layak menjadi partner, harus koreksi diri.

Partner bisnis Arab Saudi tidak harus dengan negara yang jumlah penduduk muslimnya terbesar di dunia. Tidak harus dengan negara yang penduduknya bisa unjuk kekuatan kapan saja. Juga tidak harus dengan negara yang jumlah masjidnya terbanyak di dunia. Yang dimaui adalah negara yang bisa menjamin keamanan investasi dan memberi keuntungan besar. Saudi itu menanam modal, jadi harus punya perhitungan. Kalau menguntungkan, Tiongkok pun oke.

Marilah kita tengok ke dalam, apakah kita sudah siap menjadi negara yang layak mendapat investasi asing cukup besar. Bayangkan, membangun pabrik semen dengan biaya trilyunan seperti di Rembang, begitu selesai harus dibongkar karena ditolak untuk menambang kapur dari daerah sekitar yang sudah disurvey sebelumnya. Siapa yang salah? Investor datang dengan modal, membangun pabrik juga ada izin tapi akhirnya harus dibongkar. Investor mana pun akan takut.

Regulasi-regulasi dalam paket ekonomi baru sudah dibuat untuk mendorong investasi, lama perizinan dipangkas tidak lagi dalam hitungan tahun atau bulan tapi ada yang hitungan hari. Tapi demo buruh sering membuat miris, kegiatan aktivis bikin repot, belum lagi bom seperti di Kampung Melayu yang terus mengancam. Investor bisa mundur karenanya.

Semoga keluhan Jokowi bisa menyadarkan kita bahwa untuk mencapai kemajuan tidak cukup dengan jalan tol, pelabuhan, bandara, atau pabrik. Tapi harus mengubah sikap, meningkatkan kesadaran dan persatuan agar tidak mudah dihasut oleh kepentingan tertentu. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved