Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan

Saat ini sekolah hanya lima sampai enam jam per hari. Jangan lah hanya karena ingin reformasi pendidikan kemudian mengesampingkan peran keluarga.

istimewa
Zulkifli Rahman (guru SDN Pari-Pari, Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong) 

BANJARMASINPOST.CO.ID,BANJARMASIN - Tahun ajaran baru 2017/2018 sudah di depan mata. Ada hal baru yang bakal diterapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy yakni delapan jam belajar di sekolah yang merupakan bagian nawacita Presiden Jokowi yakni reformasi pendidikan.

Seperti dilansir Antara Selasa (02/05/2017) Mendikbud mengatakan kegiatan belajar mengajar di sekolah harus diselenggarakan minimum delapan jam dalam sehari atau empat puluh jam per minggu. Lalu, ditiadakan pembelajaran pada Sabtu dan Minggu.

Adanya peraturan pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang memberlakukan delapan jam disekolah, apakah tidak akan mengurangi peran keluarga dalam pendidikan?

Sebagaimana lazim terjadi di kota besar bahwa orang tua yang sibuk sehingga anak akan lebih terjaga jika di sekolah, tapi mungkin tidak berlaku di desa.

Selama ini waktu sekolah hanya lima sampai enam jam per hari. Jangan lah hanya karena ingin reformasi pendidikan kemudian mengesampingkan peran keluarga untuk melakukan pendidikan anak.

Termasuk kultur masyarakat pedesaan yang lebih memerlukan anak untuk membantu pekerjaan orangtua.

Perlu banyak pertimbangan tentunya. Apalagi bagi anak sekolah dasar yang masih banyak bermain menyebabkan mereka terpenjara dalam sistem pendidikan.

Peran guru sebagai penuntun tidak lah sepenuhnya berlaku dalam pendidikan di sekolah. Hal ini disebabkan para guru hanya terikat secara formal sehingga kewajiban bagi mereka untuk mendidik anak-anak yang bukan anaknya sendiri.

Walaupun sebagian dari mereka (guru) menguasai tentang pedagogik atau ilmu pengajaran, tapi kodratnya hanya sebatas menyampaikan ilmu pengetahuan saja. Berbeda dengan peran orang tuanya yang lebih dekat secara psikologis dan kekeluargaan.

Untuk itulah keluarga jangan merasa pendidikan merupakan tanggung jawab sekolah semata. Selama ini terlihat orang tua hanya melimpahkan tanggung jawabnya kepada sekolah, padahal waktu anak bersama keluarga jauh lebih lama.

Itulah penggalan opini Zulkifli Rahman (guru SDN Pari-Pari, Kecamatan Kelua, Kabupaten Tabalong) mengupas tentang rencana penerapan sekolah lima hari.

Selengkapnya simak di koran Banjarmasin Post edisi Sabtu (03/06/2017).

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved