Impian Djohan Effendi

Djohan Effendi telah wafat, 17 November 2017 di Geelong, Victoria, Australia dalam usia 78 tahun. Tak syak lagi, dia adalah orang besar.

Editor: BPost Online
BPost cetak
Mujiburrahman 

Djohan Effendi telah wafat, 17 November 2017 di Geelong, Victoria, Australia dalam usia 78 tahun. Tak syak lagi, dia adalah orang besar. Kebesarannya tidak terletak pada jabatan yang dipangkunya apalagi kekayaan yang dimilikinya, melainkan melekat pada kepribadiannya sendiri.

Sebenarnya, Djohan pernah menduduki beberapa jabatan tinggi. Di Kementerian Agama, selain menjadi Ahli Peneliti Utama, dia pernah menduduki jabatan eselon 1 sebagai Kepala BadanLitbang. Di masa Orde Baru, dia menjadi penulis pidato Presiden Soeharto dan beberapa pejabat lainnya. Dia bahkan menjadi Menteri Sekretariat Negara di era Presiden Abdurrahman Wahid, meski hanya 13 bulan.

Tetapi bagi Djohan, jabatan dan organisasi hanyalah sarana perjuangan, bukan gantungan harga diri. Dia adalah, meminjam istilah Mochtar Pabottinggi, ‘manusia berkredo’ yang berjuang demi suatu keyakinan. Baginya, kesederhanaan, kejujuran, keadilan dan kemanusiaan harus benar-benar dilakoni dan diperjuangkan dalam kehidupan pribadi dan bermasyarakat, bukan retorika kosong belaka.

Sebagai pribadi, Djohan sejak muda adalah tipe manusia pencari kebenaran tanpa henti. Dia mau belajarapa pun yang baik, dari manapun asalnya. Terlahir di Kandangan, 1 Oktober 1939, dia tumbuh dalam keluarga yang suka membaca. Dalam pengembaraan intelektualnya, dia pernah tertarik pada pemikiran Islam puritan, lalu setelah kuliah tertarik pada Islam rasional, sosialisme hingga sufisme.

Salah satu keyakinan yang menjadi perjuangannya sepanjang hayat adalah kebebasan beragama. Baginya, beragama tidak bisa dipaksakan. Jika dipaksakan, maka akan melahirkan kemunafikan. Ini sebabnya, dia selalu lantang membela kaum minoritas yang tertindas.Tetapi pada saat yang sama, dia juga kritis terhadap pihak-pihak yang menghalalkan segala cara untuk memperbanyak pengikut.

Ketika A Mukti Ali menjadi Menteri Agama (1971-1978), Djohan dipercaya mengelola Proyek Kerukunan Umat Beragama. Disitulah Pak Djohan mengembangkan program dialog antar pemuka agama dan para pemuda lintas agama. Menurutnya, target yang ingin dicapainya kala itu sederhana: agar mereka mengenal satu sama lain. Kalau sudah saling kenal, hubungan akan lebih mudah dibangun.

Pembawaan pribadinya yang murah senyum dan santun, membuatnya cocok untuk menjadi figur dialog. Dia adalah pribadi rendah hati yang mau mendengarkan orang lain. Namun, di balik sikap lembutnya itu, dia memiliki gairah yang menyala-nyala untuk terus mencari dan belajar. Hidupnya selalu ditemani buku-buku. Kalau pergi ke luar negeri, oleh-olehnya juga buku. Dia adalah pembelajar sejati.

Itulah sebabnya, Djohan dekat dengan anak-anak muda, khususnya para mahasiswa aktivis yang gemar membaca buku dan berdiskusi. Kebetulan pada masa Orde Baru, ruang gerak politik rakyat sangat dibatasi sehingga para aktivis lebih memfokuskan diri pada wacana ilmiah. Pada 1980-an, rumahnya rutin dijadikan tempat diskusi para aktivis, dan dia selalu hadir sebagai fasilitator yang ramah.

Karenaitu, kepergian Djohan adalah kehilangan besar bagi para akivis mahasiswa era 1980-an dan 1990-an. Tetapi, bagaimana dengan para aktivis sekarang? Apakah aktivis zaman now masih rajin membaca buku, membedah pemikiran, atau justru pandai bersilat lidah dan bermain politik licik belaka? Apakah para cendekiawan yang lebih muda mewarisi api perjuangannya ataukah terlena godaan dunia?

Pada 6 November 2013 silam, dia menulis email ke saya. “Harapanku, Mujib jangan berhenti menulis. Aku sendiri juga terus menulis. Aku baru menyelesaikan terjemahan puitik Alquran 30 juz… Aku mimpi mudah-mudahan nanti bisa diadakan acara pembacaan tilawah Alquran oleh qari-qariah terbaik Kalsel dan diiringi deklamasi terjemahan oleh deklamator-deklamator Kalsel di IAIN Antasari,” tulisnya.

Itulah impian Djohan yang tidak sempat terwujud. Sebagai orang Banjar yang kosmopolit, dia rupanya tetap rindu kampung halaman. Sebagai pemikir yang melintas batas, dia tetap berpegang teguh pada Alquran dengan penuh cinta. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved