Beragama yang Nihilis

Semula saya sedikit kaget mendengarnya karena sebagai panitia pengarah, saya meminta Farid untuk berbicara tentang tema besar AICIS

Editor: BPost Online
BPost cetak
Mujiburrahman 

Oleh: MUJIBURRAHMAN
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

“Masalah besar yang dihadapi dunia saat ini bukanlah sekularisme, melainkan nihilisme,” kata Prof Farid Alatas, sosiolog dari National University of Singapore, saat menyampaikan pidato kunci dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-17 di Serpong, 21 November 2017 lalu.

Semula saya sedikit kaget mendengarnya karena sebagai panitia pengarah, saya meminta Farid untuk berbicara tentang tema besar AICIS tahun ini: religion, identity and citizenship (agama, identitas dan kewarganegaraan). Apakah nihilisme ada hubungannya dengan tema ini? Saya juga penasaran, benarkah nihilisme lebih berbahaya daripada sekularisme? Bukankah sekularisme sudah difatwa sesat oleh MUI?

Menurut Farid, sekularime dalam arti memisahkan urusan agama dan negara, atau lebih sederhananya lagi, membuat negara netral dalam urusan agama, tidak otomatis negatif atau positif bagi masyarakat. Dalam kasus tertentu, negara sekuler dapat menjamin kebebasan beragama bagi seluruh rakyat, tetapi dalam kasus lainnya, atas nama sekularisme, negara dapat pula menindas kelompok agama tertentu.

Berbeda dengan sekularime, bagi Farid, nihilisme secara hakiki memang berbahaya. Nihilisme, dari kata ‘nihil’ yang artinya kosong, adalah pandangan bahwa hidup ini tidak memiliki makna dan tujuan. Nilai-nilai moral dan spiritual dianggap omong kosong belaka. Secara sosial, nihilisme melihat lembaga-lembaga sosial dan politik yang ada saat ini tanpa kebaikan sama sekali sehingga harus dihancurkan.

Karena hidup tanpa makna, serba kebetulan, tak jelas dari mana asalnya dan ke mana kelak setelah mati, maka orang pun berusaha menikmati hidup di dunia ini secara hedonistik, tanpa peduli dengan nilai-nilai moral. Yang kaya makin serakah, yang miskin makin putus asa. Perebutan kekuasaan, baik melalui tipu daya hingga perang berdarah-darah, adalah karena pandangan hidup yang nihilistik ini.

Bagaimana dengan orang-orang yang beragama? Bukankah mereka bertuhan dan sadar akan tujuan dan makna hidup? Menurut Farid, mereka pun banyak yang terjerumus ke jurang nihilisme. Lihatlah perilaku kaum radikal dan teroris. Mereka tega membunuh sesama manusia dengan keyakinan buta bahwa kebenaran mutlak hanya ada pada diri mereka saja, sedangkan orang lain dianggap jahat semua.

Jika kaum nihilis yang tak beragama sangat serakah dengan harta benda, bagaimanakah dengan kaum beragama yang nihilis? Menurut Farid, mereka pun tidak jauh berbeda. Tidak sedikit tokoh agama yang memperkaya dirinya dengan mengatasnamakan agama. Bahkan, ketika mereka berbicara tentang surga, yang selalu diimpikan adalah bidadari cantik dan tempat tinggal yang mewah. Jadi, sangat materialistik!

Demikian pula problematika politik dan agama yang melanda dunia saat ini. Ketika gerakan anti-imigran Muslim di Eropa menguat, atau sebaliknya, gerakan yang mengatasnamakan agama makin berjaya, mereka sesungguhnya sudah tenggelam dalam kepentingan diri yang sempit, seolah tidak ada lagi nilai kebaikan pada kelompok lain, dan karena itu, pihak lain harus disingkirkan bahkan dihancurkan.

Demikianlah, sebagai sosiolog, Farid Alatas tampaknya sejalan dengan Max Weber yang melihat perilaku manusia lebih ditentukan oleh pandangan hidupnya. Adapun keadaan struktural dalam masyarakat hanyalah akibat dari pandangan hidup itu. Pandangan ini tentu berbeda dengan Karl Marx yang lebih melihat pengaruh kondisi struktural, terutama ekonomi, terhadap pemikiran dan perilaku manusia.

Terlepas dari soal sudut pandang dan titik tekan itu, lontaran Farid sangat penting untuk direnungkan. Apakah kiranya tata nilai kehidupan bersama yang selama ini ditanamkan kepada kita, baik di rumah, di lembaga-lembaga pendidikan hingga media? Apakah nilai-nilai itu hanya menekankan perbedaan yang hitam-putih, ataukah mengakui kesamaan dalam perbedaan, dan perbedaan dalam kesamaan?

Dalam hal tujuan dan makna hidup, apakah nilai-nilai ideal yang ingin kita raih dalam hidup ini? Apakah menjadi kaya raya dan berkuasa tanpa peduli dengan orang lain, ataukah kesejahteraan yang adil dan merata? Apakah kejujuran dan kerendahan hati, ataukah kemunafikan dan kesombongan? Apakah kita yakin akan adanya pengadilan Tuhan di akhirat, ataukah kita sebenarnya tidak peduli sama sekali?

Jawaban yang jujur atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menjelaskan apakah kita nihilis atau tidak. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved