BPJS Kesehatan Menunggak

Ini yang Terjadi Pada Pasien Gagal Ginjal Jika BPJS Setop Menanggung 8 Penyakit Ini

Mendengar rencana BPJS itu, tentu saja Mistin risau karena, dia tergolong pasien tidak mampu. Dia hanyalah seorang petani.

Editor: Elpianur Achmad
banjarmasinpost.co.id/hari widodo
Mistin (70). Pasien gagal ginjal dari Kait-Kait Tanah Laut itu seminggu dua kali menjalani proses hemodialisa di RSUD Ratu Zalecha. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - SEBANYAK 14 mesin hemodialisa atau cuci darah di ruang pelayanan Hemodialisa RSUD Ratu Zalecha Martapura terisi penuh oleh pasien, Senin (27/11). Setiap harinya, 24 hingga 25 pasien gagal ginjal menjalani proses cuci darah di ruang tersebut.

Kabar yang menyebut BPJS berencana menghapus pembiayaan delapan penyakit di antaranya pasien gagal ginjal tentu merisaukan pasien hemodialisa di RSUD Ratu Zalecha.

Di antaranya, Mistin (70). Pasien gagal ginjal dari Desa Kait-Kait Tanahlaut, itu seminggu dua kali menjalani proses hemodialisa di RSUD Ratu Zalecha.

Baca: BPJS Rp Tunggak 45 Miliar, Direktur RSUD Ulin Harus Putar Otak Berikan Layanan Pasien

Aktivitas cuci darah sudah dilakoninya selama sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun itu, pembiayaan hemodialisa ditanggung. sebelumnya melalui Jamkesmas, kemudian BPJS.

Mendengar rencana BPJS itu, tentu saja Mistin risau karena, dia tergolong pasien tidak mampu. Dia hanyalah seorang petani. “Dari mana biayanya saya kalau tidak ditanggung BPJS,” ungkap Mistin risau.

Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Selasa (28/11/2017) Halaman 1
Harian Banjarmasin Post Edisi Cetak Selasa (28/11/2017) Halaman 1 ()

Perasaan serupa diungkapkan Jamhuri (63). Warga Banjarbaru 4 ini khawatir biaya pengobatan bagi pasien gagal ginjal tidak lagi ditanggung BPJS. Dia pun protes karena sebagai pensiunan PNS selama 38 tahun bekerja dan membayar premi Askes waktu itu.

Baca: Ini 8 Penyakit yang Bakal Dihapus BPJS dari Pembiayaan, Okky Minta Dipertimbangkan Kembali

Sekarang jika beban pembiayaan proses hemodialisa dihapuskan, dari mana dia harus membayar pelayanan cuci darah. Sedangkan dalam sepekan dia harus menjalani proses cuci darah di rumah sakit, dan selama setahun ini, biayanya ditanggung BPJS.

“Kalau BPJS tidak menanggung lagi dari mana kami membiayai. Tidak adil jika ini tidak lagi ditanggung BPJS sedangkan kami selama 38 tahun bekerja dan membayar premi askes,” cetus Pensiunan Disdukcapil Banjarbaru itu.

Sementara, kata Dody, petugas medis di ruang hemodialisa jika kebijakan itu dijalankan dipastikan banyak pasien gagal ginjal tidak bisa tertangani. Sebab, proses hemodialisa memerlukan biaya cukup besar. Satu kali cuci darah biayanya berkisar Rp1,1 juta.

Saat ini, sebut Dody, cukup banyak yang mengalami gagal ginjal. Setiap hari, pasien yang menjalani proses hemodialisa sampai 24 orang. Mereka, selain dari Kabupaten Banjar juga dari Banjarbaru, Tapin, Tala, bahkan dari Banjarmasin.

“Saat ini mereka semuanya ditanggung biayanya oleh BPJS. Jika, tidak ditanggung lagi gimana mereka membiayai proses cuci darah,” katanya.

Baca: Klaim Pembayaran BPJS di RS Damanhuri Barabai Lancar, Ternyata Ini Rahasianya

Dokter Edko Subiyanto, Plt Direktur RSUD Ratu Zalecha berharap kebijakan itu tidak direalisasikan sebab akan sangat memberatkan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved