Menurut Pakar Ini, Orang yang Bunuh Diri Susunan Saraf Otaknya Berubah
Arango dan Mann, pakar bunuh diri dan New York State Psychiatric Institute dalam Biological Psychiatric meneliti susunan otak
BANJARMASINPOST.CO.ID – Arango dan Mann, pakar bunuh diri dan New York State Psychiatric Institute dalam Biological Psychiatric meneliti susunan otak orang berjenis kelamin sama, yang meninggal pada waktu yang hampir bersamaan.
Yang satu tewas karena bunuh diri, sedangkan lainnya meninggal secara normal.
Dari penelitian tampak perubahan anatomis dan kimiawi pada dua wilayah kerja otak orang yang meninggal karena bunuh diri.
Wilayah itu orbital prefrontal cortex di atas mata, dan dorsal raphe nucleus di batang otak.
Baca: Andai Cara Ini Ada Sebelum Jonghyun SHINee Bunuh Diri?
Baca: Waduh! Baru Dua Hari Munaslub, Sudah 350 Orang Kader Golkar Sakit, 50% Terserang Penyakit Ini
Baca: Cerita Pilu TKW! Sengaja Merekam Aksi Bejat sang Majikan yang Ingin Memperkosanya
Baca: Ditunggu-tunggu! Putri Setya Novanto Datangi KPK, Ternyata Ini Keterlibatannya di Kasus E-KTP
Perubahan ini menyebabkan berkurangnya kemampuan otak untuk membuat dan menggunakan serotonin, yaitu neurotransmitter yang berguna untuk membangkitkan rasa bahagia pada seseorang.
Hormon itu hanya sedikit terdapat pada orang yang impulsif atau sedang mengalami depresi.
Serotonin diproduksi oleh neuron-neuron dalam dorsal raphe nucleus, lalu dikirim ke orbital prefrontal cortex.
Pada pelaku bunuh diri, jumlah serotonin yang dikirim itu di bawah normal.
Baca: Mengharukan! Ini 4 Momen Spesial di Rumah Duka Jonghyun SHINee
Serotonin itu salah satu molekul yang terjalin dalam jaringan biokimiawi yang bemama sumbu Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA).
HPA bertanggung jawab mempengaruhi respons yang diberikan seseorang terhadap stimulus yang diterimanya dari lingkungan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/artis-korea-bunuh-diri_20171220_103551.jpg)