Wajah Baru Beringin
Kini, Golkar bukan lagi penguasa utama, meskipun masih berada di lingkar kekuasaan. Namun Partai Golkar selalu jadi penentu
Golongan Karya (Golkar) sangat identik dengan Orde Baru. Sangat wajar karena partai berlambang pohon beringin berdiri di era itu sebagai fondasi kekuatan kepemimpinan Presiden Soeharto. Pada masa jayanya, Golkar menguasai legislatif dan pemerintahan. Kebiasaan ‘memerintah’ sejak Orde Baru , era reformasi maupun sekarang, tidak pernah mau di luar lingkar kekuasaan.
Kini, Golkar bukan lagi penguasa utama, meskipun masih berada di lingkar kekuasaan. Namun Partai Golkar selalu jadi penentu siapa yang berkuasa di negeri ini. Kekuatannya di legislatif pun masih punya pengaruh kuat.
Sebut saja Wakil Presiden Jusuf Kalla, tokoh Golkar sejati yang mampu menjabat orang nomor dua di negeri ini sebanyak dua kali. Demikian pula Setya Novanto yang memimpin DPR, sebelum harus lengser karena jadi terdakwa kasus dugaan korupsi e-KTP.
Khalayak pun mahfum, betapa kuatnya tokoh-tokoh Partai Golkar macam Aburizal Bakrie, Agung Laksono, Akbar Tandjung, Luhut Binsar Pandjaitan. Trah Cendana pun bukannya tak punya kuasa lagi di partai Golkar. Titiek Soeharto kini jadi garda terdepan keturunan Soeharto di Partai Golkar.
Saat membuka Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Senin (18/12) Presiden Joko Widodo menyindir grup-grup atau faksi di tubuh Partai Golkar.
Sindiran Presiden Joko Widodo ini sebenarnya cerita lama, karena faktanya Partai Golkar sangat akrab dengan perebutan kuasa di intern partainya. Ketika Partai Golkar dipimpin Akbar Tandjung, mantan aktivis di era 1966 ini mendapat rival Jusuf Kalla. Ketika Jusuf Kalla mencalonkan jadi Wakil Presiden mendampingi Soesilo Bambang Yudoyono pun takdidukung partai beringin. Namun, ketika Jusuf Kalla terpilih jadi wapres, Jabatan Ketua Umum Partai Golkar berhasil disabetnya dari Akbar Tandjung pada 2004.
Perseteruan berebut tampuk pimpinan Partai Golkar kembali terulang antara Aburizal Bakrie dengan Agung Laksono pada 2014 dan paling kentara.
Tak kalah ramai dan bikin gerah aura politik Indonesia adalah saat terjadi persaingan antara Setya Novanto dengan Ade Komaruddin. Di Partai Golkar, sama kuatnya tapi salah satu harus tersingkir, dan dia adalah Ade Komaruddin. Namun, Setya Novanto tak bertahan lama, kasus hukum membelitnya. Mengutip Jusuf Kalla, dalam lima tahun Partai Golkar berganti lima ketua. Tentu hal ini sesuatua yang luar biasa. Sekelas Partai Golkar, yang memiliki sumber daya manusia mumpuni karena banyak orang pintar di dalamnya, punya struktur organisasi yang mapan dari pusat hingga ke daerah dan kelebihan-kelebihan lainnya. Tapi, di pucuk pimpinannya selalu terjadi pergolakan.
Namun, terpilihnya Airlangga Hartarto saat Munaslub Partai Golkar di Jakarta seakan antiklimaks dari perseteruan perebutan kekuasaan di partai ini. Betapa tidak, terpilihnya Airlangga Hartarto yang juga menjabat menteri perindustrian di kabinet Gotong Royong, sangatlah mulus bak tanpa hambatan berarti.
Kini, harapan baru bagi konstituen Partai Golkar ada di pundak Airlangga Hartarto untuk mengembalikan kejayaan partai ini. Bagi partai lain, terpilihnya Airlangga juga sebagai warning bahwa beringin bersatu dan bakal jadi lawan tangguh pada Pileg 2019 maupun 2020. Adapun bagi rakyat Indonesia, mungkin harapannya tidak muluk, cukup Golkar bersih dari korupsi dan tidak terjebak eouforia kejayaan di masa Orde Baru. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/tajuk-besar-new_20161014_224050.jpg)