Gagal Tes

sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang hasil hutan, utamanya perkayuan, lebih utamanya kayu jati.

Editor: BPost Online
Dok BPost
Pramono BS 

Oleh: Pramono BS

SIAPA yang mengira Presiden Joko Widodo pernah gagal tes masuk kerja. Ia bercita-cita menjadi karyawan PT Perhutani, sebuah BUMN yang bergerak dalam bidang hasil hutan, utamanya perkayuan, lebih utamanya kayu jati. Tapi Tuhan telah menentukan takdir bagi Jokowi untuk menjadi Presiden. Begitu cerita Jokowi saat menghadiri reuni Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada, tempatnya dia kuliah.

Ia begitu bangga dengan almamaternya, sehingga nomor induk mahasiswa 1681 atas nama dirinya diabadikan dalam guratan tanda tangan. Ia juga tidak pernah melupakan dosen pembimbing skripsinya yang “galak”, Kasmudjo. Ia menghargai dosen pembimbingnya ini karena berkat dia lah dirinya bisa menjadi seperti sekarang.

Menurut berbagai sumber, Jokowi dan istri juga pernah melanglang ke Aceh, bekerja di perusahaan perkayuan. Dari Aceh dia pulang ke Solo untuk mendirikan perusahaan mebel. Perusahaannya maju dan banyak pesanan dari luar negeri.

Berkenalan dengan PDI baru saat dia akan dipinang untuk dicalonkan sebagai Wali Kota Solo. Saat itu Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri bingung mencari calon. Adalah FX Rudyatmo, Ketua DPC PDIP Solo yang kemudian memperkenalkan dengan Jokowi.

Rudyatmo pula yang mengajak Jokowi dari tidak mengenal politik menjadi kader partai yang handal. Ia pun maju sebagai calon wali kota, sementara FX Rudyatmo mendampingi sebagai wakilnya. Jokowi/Rudyatmo terpilih tidak hanya sekali tapi dua periode. Istimewanya, dalam pilkada periode ke dua Jokowi terpilih dengan suara 90 persen lebih. Rudyatmo tetap setia menjadi wakilnya.

Saat DKI Jakarta akan memilih gubernur baru menggantikan Fauzi Bowo, Megawati kembali bingung mencari calon yang pas. Adalah Letjen Pur Prabowo Subiyanto yang kemudian membujuk Jokowi supaya hijrah ke Jakarta dan mencalonkan diri sebagai gubernur. Semula Jokowi ragu, sebab Jakarta itu kota besar, problemnya jauh berbeda dengan Solo. Setelah dibujuk Jokowi bersedia. Sebagai pasangannya dipilih Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) yang saat itu menjadi anggota DPR dari Golkar. Ahok pun kemudian menjadi kader partai Gerindra.

Keduanya menjadi pasangan yang sangat kompak. Begitu dilantik langsung bekerja sehingga Jokowi menjadi idola warganya bahkan masyarakat luar Jakarta dan internasional pun mengaguminya. Belum genap dua tahun PDIP kesulitan lagi mencari calon Presiden. Rupanya sudah garis tangan, Jokowi yang dicalonkan.

Inilah awal dari “perpecahan” murid dan guru, karena Megawati sebenarnya sudah menjanjikan pilpres tahun 2014 untuk Prabowo sebagai “imbalan” atas kesediaan Prabowo mendampingi Megawati sebagai cawapres, tapi kalah.

Sejak itulah Jokowi berhadapan dengan Prabowo tidak sebagai murid dan guru tapi sebagai lawan tanding. Mereka bersaing dalam pilpres 2014 dan Jokowi unggul, Prabowo dengan sendirinya kecewa. Tapi belum lagi sembuh sakitnya si badung Ahok juga ikut mbalelo, keluar dari Gerindra karena tidak setuju dengan kebijakan partai yang mendukung pilkada tidak langsung alias lewat DPRD.

***

Sebagai manusia tentu kita bisa paham atas kekecewaan yang dirasakan Prabowo. Merasa dibohongi PDIP, ditinggalkan Jokowi dan dipunggungi Ahok. Tapi itulah politik, tak kenal “perikemanusiaan” meski mengaku Pancasialis.

Prabowo sudah bisa membalas Ahok dengan mengalahkannya dalam pilkada. Jagonya adalah Anies Baswedan yang diberhentikan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Jokowi. Tapi belum bisa membalas Jokowi.

Perseteruan Jokowi dengan Prabowo belum akan berakhir bahkan bisa berjilid-jilid, karena tahun 2019 bisa jadi keduanya akan duel lagi. Tahun 2018 didahului dengan pilkada serentak yang akan menjadi ajang perebutan kekuasaan di daerah.

Tak tahulah senjata apa yang akan dipakai Prabowo untuk mengalahkan Jokowi. Apakah akan terinspirasi dengan kampanye Pilkada DKI yang diwarnai sara? Megawati jauh-jauh hari sudah mengingatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) agar tegas terhadap politik sara.

Tapi ini tentu bukan jaminan dia akan sukses pada pemilu 2019. Tergantung apakah Jokowi lulus tes lagi atau tidak. Tesnya bukan cuma melaksanakan program pembangunan sesuai nawacita, tapi juga bagaimana menghadapi rintangan yang ada di mana-mana. Kalau lolos dia akan menjadi penguasa lagi untuk lima tahun ke depan pada pilpres 2019. Kalau gagal, yah... tak ada jabatan lain yang lebih tinggi seperti kisahnya waktu melamar di Perhutani dulu.

Tapi andai gagal pun dia telah membuktikan dari bukan siapa-siapa menjadi orang terpenting di negeri ini. Ini bukti siapa pun bisa menjadi Presiden asal tangguh, tegas dan jujur. Kejujuran ini lah yang masih langka di negeri ini.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved