Berita Banjarmasin

Demank Lestarikan Beladiri Kuntau Kalimantan, Hingga Akhirnya Merambah ke Jerman

Seni beladiri tradisional Kalimantan ini namanya populer di banua. Umumnya dapat kita saksikan pada resepsi perkawinan atau acara adat.

Penulis: Salmah | Editor: Elpianur Achmad
istimewa
Demank ketika mempraktekan beladiri Kuntau Kalimantan di luar negeri 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kuntau. Seni beladiri tradisional Kalimantan ini namanya populer di banua. Umumnya dapat kita saksikan pada resepsi perkawinan atau acara adat.

Sayangnya, mayoritas generasi sekarang alias generasi mileneal tidak banyak tahu apa itu kuntau. Kalaupun pernah mendengar istilah kuntau, hanya sekadar tahu tapi nyaris tidak pernah melihat atraksinya secara langsung.

Ya, atraksi kuntau sudah sangat jarang ditampilkan. Perguruannya pun tidak banyak orang yang tahu. Mau berguru, tapi berguru dengan siapa dan di mana?

Minimnya informasi membuat kuntau nyaris terlupakan oleh khalayak. Padahal kuntau adalah bagian seni budaya lokal yang harus dilestarikan eksistensinya dengan mengajarkannya secara terbuka sehingga membuka mata publik dan menarik minat untuk dipelajari.

Baca: Mahathir Terpilih Usai Video Najib Tersebar Tak Ada Negara yang Pilih Pemimpin Usia 93 Tahun

Syukurlah, sebelum kuntau makin terlupakan, muncul anak muda praktisi kuntau yang ingin seni beladiri leluhur ini tetap lestari di banua bahkan menjadi kebanggaan bangsa hingga mampu merambah dunia internasional.

Adalah Demank Ahmad yang gigih memperjuangkan eksistensi kuntau. Sejak 2008 ia videokan teknik-teknik kuntau yang selama ini ia pelajari kemudian diunggah di saluran Youtube dan Facebook.

Pria 37 tahun keturunan Kandangan, Hulu Sungai Selatan, Kalsel, yang kini bermukim di Kuala Pembuang, Kalteng ini, menjadi perhatian banyak praktisi beladiri di tanah air bahkan juga mancanegara.

Demank Ahmad awalnya belajar kuntau hanya untuk bekal menjaga diri. Ilmu ini ia warisi dari kakek sepupu neneknya dan juga ayahnya serta guru-guru kuntau lainnya.

"Kenal kuntau saat melihat perkelahian antara kakek (sepupu nenek) dengan seorang pemuda mabuk yang merusuh di perkawinan sepupu saya di Banjarmasin," ungkapnya.

Baca: Mahathir Mohamad Jadi Perdana Menteri di Usia 92 Tahun, Pernah Jabat di Petronas Hingga Jualan Roti

Kala itu Demank masih duduk di kelas 6 SD. Ia takjub melihat kakeknya yang berusia 70 tahunan itu mampu meladeni serangan pemuda 30 tahunan. Ketika banyak orang ingin melerai, tak satu pun yang mampu menyentuh badan si kakek. Akhirnya perusuh itu ambruk, pingsan.

"Mulailah saya tertarik belajar beladiri dari kakek. Saat pulang kampung, saya sempatkan menimba ilmu. Ayah sangat mendukung dan sering mengantarkan saya berguru ketika masih remaja. Saya juga mendapat ilmu dari ayah," jelasnya.

Kuntau keluarganya itu beraliran Hasyim Harimau dengan tokoh-tokohnya H Sion, H Tabri, H Basuni, dan lainnya. Demank pun sempat belajar dari beberapa sesepuh tersebut saat mereka masih hidup.

Karena sang ayah yang berprofesi anggota Polri sering pindah tugas, Demank pun memanfaatkannya dengan mencari guru kuntau di daerah tugas ayahnya.

"Saat pindah ke Sampit, Pangkalan Bun juga daerah lainnya, saya selalu mencari guru kuntau. Karena kuntau itu banyak aliran, jadi saya ingin belajar sedapat mungkin. Sampai sekarang saya belajar lebih kurang dari 25 guru," terangnya.

Dari berbagai aliran yang ia pelajari, kemudian Demank menganalisa dan mengobservasi hingga kemudian membuat perguruan sendiri dengan kurikulum kombinasi beberapa aliran tersebut.

Baca: LIVE STREAMING Semen Padang vs Persika Karawang Liga 2 Pekan 4 via Streaming TV One

Pukulan Patikaman Silat Kuntau Borneo, demikian nama perguruannya yang kini sudah disahkan melalui notaris.

Sebelum total mengurus perguruan dan mengembangkan kuntau, Demank yang pernah kuliah di Yogyakarta ini menggeluti banyak profesi, dan lebih banyak berdagang.

"Saat kuliah di Yogya sudah mulai mengajarkan kuntau namun sekilas saja, tidak terlalu serius. Setelah mendapat saran dari teman agar diseriusi, saya pun termotivasi mengajar secara penuh. Tapi pada 2009 malah pulang ke banua dan menikah," paparnya.

Tatkala digelar Pencak Malioboro Festival (PMF) ke-2 tahun 2012 di Yogyakarta, Demank diajak ikut dalam perhelatan akbar pencak silat setanah air itu. Ia tak menyangka ternyata wakil dari Kalimantan hanya ia sendiri, sementara 7000-an pesilat lainnya terdiri perguruan dari berbagai provinsi dengan banyak murid.

"Dari situ saya bertekad, tahun depan saya akan datang lagi ke PMF dan harus membawa murid," kata Demank yang kemudian merintis perguruan di Kuala Pembuang.

Tak gampang memulai sesuatu yang baru di kota kecil, Kuala Pembuang. Namun Demank sudah mantap dengan pilihannya total membangun Pukulan Patikaman Silat Kuntau Borneo.

Baca: Putra Iptu Yudi Rospuji Lahir di Hari yang Sama Ayahnya Wafat di Mako Brimob

"Saya sewa tempat latihan. Pasang spanduk promosi. Murid pertama adalah seorang anak perempuan yang masih duduk di sekolah dasar. Kemudian bertambah beberapa murid. Namun tak lama kemudian saya kesulitan membayar sewa tempat karena pemasukan dan pengeluaran tak sebanding," seloroh Demank.

Banyak tantangan ia hadapi saat merintis perguruan, dicemooh dan dicurigai macam-macam. Maklum karena pola yang diterapkan Demank berbeda dengan pola lama yang pengajaran kuntaunya serba tertutup.

"Tapi saya tetap semangat berkarya. Reformasi pola pengajaran kuntau tidak bisa diterima banyak pihak. Masa awal itu sering diabaikan dan setiap bertemu orang saya presentasikan namun sering ditolak," paparnya.

Perhatian positif malah ia terima dari luar Kalimantan dan luar negeri. Ia banyak menerima undangan mengajar melalui seminar di Pulau Jawa, Sumatera dan Bali.

"Saya ini putra daerah. Saya juga ingin kuntau banyak praktisinya di banua. Makanya saya rela bolak-balik ke Banjarmasin dan Banjarbaru untuk mengembangkan kuntau. Walaupun dana pribadi tidak sedikit yang harus dikeluarkan, bahkan menguras seluruhnya demi operasional mengajar," ungkapnya.

Sejak 2015, Demank membina beberapa murid di Banjarmasin dan Banjarbaru yang serius untuk dididik sebagai pelatih kuntau. Kini ada 25 murid senior yang membantunya mengembangkan perguruan.

"Saat diundang seminar dipulau Jawa, Sumatera dan Bali, beberapa murid senior saya bawa supaya mereka juga belajar bagaimana mempresentasikan kuntau di era sekarang," tukasnya.

Undangan seminar kuntau ini terus berdatangan dari berbagai kota di tanah air. Bahkan tak sedikit undangan dari luar negeri macam Eropa dan Amerika.

Baca: Ribuan Orang Jejali Siring Laut untuk Kongres Rakyat Tolak Tambang

Terkini, Demank baru pulang dari Jerman usai mengisi seminar kuntau di Kota Hannover. Pesertanya sangat antusias karena mereka harus menunggu selama setahun untuk bisa belajar langsung Pukulan Patikaman.

"Semula mereka belajar dengan salah satu program kami yakni jarak jauh sebagai pengantar, melalui saling kirim video. Setahun kemudian saya datang untuk mengajar langsung," jelasnya.

Membanggakannya adalah peserta seminar di Hannover tak hanya belajar tapi juga mendirikan perguruan Pukulan Patikaman Silat Kuntau Borneo secara resmi di sana.

"Ini tonggak pertama kuntau asal Kalimantan hadir di Eropa. Dan insya Allah akan menyusul di kota-kota lainnya hingga benua Amerika. Karena saya lihat antusiasme orang luar negeri itu sangat besar terhadap seni beladiri kuntau Kalimantan," tandasnya.
(banjarmasinpost.co.id/salmah saurin)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved