Opini Publik

Melawan Terorisme dengan Buku (Refleksi Hari Buku Nasional 17 Mei 2018)

TINDAKAN terorisme, anarkisitas publik, dan lain sejenisnya merupakan wajah kelam kehidupan berbangsa

Tayang:
Editor: Elpianur Achmad
net
Ilustrasi 

Mengubah cara pandang masyarakat agar menjadi berpandangan toleran tidak bisa dilakukan seperti ibarat membalikkan telapak tangan, namun setidaknya dengan menjadikan fakta atas sejumlah preseden buruk terorisme sebagai wajah tindakan intoleran menjadi wajib dijadikan tamsil. Ini menjadi bagian dari proses penyadaran diri bahwa sesungguhnya akibat berpikir ekstrim justru merusak dan merugikan kepentingan publik.

Kedua, perlunya kelompok masyarakat madani, termasuk di dalamnya mereka yang berasal dari perguruan tinggi untuk terlibat melahirkan buku-buku, tulisan-tulisan, dan lain sejenisnya yang mengampanyekan urgensi toleransi demi memupuk kehidupan damai.

Buku adalah sumber pengetahuan yang dapat menjadi cahaya terang bagi kehidupan manusia. Buku memedomani perjalanan kehidupan manusia. Buku menggerakkan kehidupan manusia, memuat mimpi-mimpi dan pesan-pesan pembangunan sehingga kita semua sudah selayaknya meletakkan pentingnya buku-buku toleransi demi menyelamatkan bangsa ini dari ancaman kehancuran.

Karenanya, sebagai bangsa besar, kita perlu menyamakan pandangan dan persepsi bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) akan tetap utuh ketika seluruh warganya memiliki komitmen yang sama terhadap keutuhan NKRI itu sendiri.

Mari kita perkuat NKRI dengan menjadikan buku-buku toleransi sebagai kekuatan spiritual pembangunan kehidupan berbangsa. Mari kita bakar buku-buku yang mengajarkan kekerasan, intoleransi, permusuhan atas nama apapun dan kepentingan apapun sebab buku-buku sedemikian sesungguhnya menjadi penyakit laten bagi kehidupan berbangsa kita. Semoga. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved