Mereka Bicara

Melawan Hoaks Melalui Pendidikan Kritis

Akibat berita hoaks, siapapun dengan kelas sosial mulai dari level pendidikan tertinggi hingga terendah, menjadi terpecah belah.

Editor: Didik Triomarsidi
istimewa
Ilustrasi 

OLEH: MOH. YAMIN, Dosen di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin

BERITA bohong atau hoaks kini menjadi konsumsi publik yang setiap saat muncul dan merusak keutuhan publik. Hoaks kerap merisaukan publik dan menggaduhkan kehidupan publik. Akibat berita hoaks, siapapun dengan kelas sosial mulai dari level pendidikan tertinggi hingga terendah, jabatan teratas hingga paling rendah, status sosial paling top hingga ke akar rumput dan sejenisnya kemudian menjadi terpecah belah.

Hoaks dalam konteks ini merupakan penyakit yang berpotensi meruntuhkan semangat kebersamaan, soliditas di antara elemen sosial, dan begitu seterusnya. Hoaks menjadi ancaman laten yang setiap waktu mengintip kehidupan ruang-ruang publik yang awalnya sudah damai dan penuh dengan kedamaian menjadi hancur.

Hoaks dalam titik paling kritis bisa menciptakan permusuhan tanpa akar alasan yang jelas. Kehidupan bermasyarakat kemudian tidak tertib. Amarah menjadi kuat muncul sehingga dari titik ini, konflik sosial muncul.

Sesama anggota masyarakat dalam satu bendera Merah Putih kemudian saling pukul memukul, saling hantam menghantam, saling membenci, saling memfitnah, saling adu jotos dan begitu seterusnya. Tidak ada lagi hidup tentram dan damai.

Setiap anggota masyarakat karena hanya perbedaan pandangan saja selanjutnya mudah tersulut dan terprovokasi dengan sedemikian mudahnya. Tidak ada lagi upaya untuk saling menahan diri. Akibat termakan informasi tanpa adanya sumber yang jelas, kerugian publik, kerugian materiil, dan kerugian immateriil pun harus dikeluarkan.

Yang menang menjadi arang, sedangkan yang kalah menjadi abu. Semuanya berada dalam kondisi yang merugi. Sama-sama tidak diuntungkan. Sama-sama justru saling merugi sebab sama-sama kehilangan banyak hal dari diri kehidupannya.

Baik yang menang maupun yang kalah sama-sama mengalami penderitaan yang kurang lebih sama. Ini berarti bahwa kerugian terbesar dari berita hoaks adalah kehidupan bermasyarakat yang penuh dan dipenuhi dengan kebaikan serta kebajikan menjadi hilang. Merajut dan mempertahankan kedamaian dan perdamaian di antara sesama menjadi tidak bisa ditunaikan dengan sedemikian rupa.

Langkah dan mimpi bersama untuk melahirkan kehidupan damai di antara sesama warga masyarakat menjadi terganggu. Dalam konteks yang jauh lebih besar, amarah dan benci yang begitu kuat terhadap kelompok tertentu yang merasa dituduh akibat hoaks menjadi pintu masuk untuk menjauhkan diri dari upaya dialog damai. Dialog untuk bisa hidup bersama di tengah perbedaan dalam kondisi apapun menjadi sulit untuk diwujudkan dengan sedemikian rupa.

Hoaks telah melahirkan sekat-sekat sosial di antara warga masyarakat yang merasa dituduh dan begitu seterusnya. Analisis Thomas M. Nichols(2017) yang menyebut bahwa masyarakat masa kini di era posmodernisme begitu mudah digiring untuk terpecah belah menjadi tesis yang sangat tepat untuk memberikan ilustrasi kehidupan semacam itu.

Era digitalisasi dimana kehidupan masyarakat masa kini tidak bisa dilepaskan dari smartphone (telpon pintar) dan setiap saat mencoba melakukan update (pembaharuan) informasi melalui smartphone sesungguhnya menjadi bukti bahwa mereka dapat mengakses dan mendapatkan informasi melalui smartphone dengan begitu mudahnya.

Sosial media yang inheren dalam smartphone dimana segala informasi muncul dan hadir kemudian menjadi konsumsi mereka. Hoaks umumnya cepat menyebar melalui sosial media. Tanpa ada saringan dan analisis para pembaca sosial media secara bijak serta kritis, informasi tidak jelas sumbernya pun masuk dan merusak cara berpikir dan cara pandang pemilik smartphone.

Bisa dibayangkan, ketika banyak pemilik smartphone di negeri ini mudah terpengaruh oleh informasi melalui sosial media dan kebetulan informasinya menyesatkan, maka begitu mudahnya bangsa ini mengalami potensi becah belah.

Berita hoaks tentang Ratna Surampaet yang konon menyebut dirinya dianaiya dan dikeroyok oleh sekelompok orang sehingga menyebabkan wajahnya lebam selanjutnya menjadi salah satu contoh dari sekian banyak berita hoaks yang menggegerkan kehidupan di republik ini. Akibatnya, publik, mereka yang berkontestasi di pemilihan presiden 2019, dan tim pemenangnya pun saling memasang curiga.

Dalam hitungan hari, ternyata berita itu tidak benar dan itu pun dikonfirmasi oleh Ratna sendiri(Banjarmasin Post, 6 Oktober 2018), Ratna dengan berita hoaks ini ibarat gunung es yang hanya tampak di permukaan saja, padahal sebenarnya begitu banyak berita hoaks lain yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sudah bermunculan (baca: sosial media). Itu semua sudah merugikan kepentingan publik.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved